Dikisahkan I Siap Badeng (Si Ayam Hitam) sangat sayang kepada anak-anaknya. Dia selalu berusaha menghidupi anak-anaknya dengan sekuat tenaga agar anak-anaknya tumbuh sehat dan kuat. Setiap subuh mereka berangkat bersama pergi ke Hutan mencari makan.
Siap Badeng mengajari anak-anaknya dengan sangat telaten untuk mengais rejeki, dengan cakar-cakar mereka mengais mencari biji-bijian, serangga atau apapun yang layak untuk dimakan. Suatu hari saat mereka asyik mencari makan, ternyata awan tebal datang menyelimuti angkasa pertanda hujan akan tiba. Anak-anak si Siap Badenga mulai kwatir. Sebagian dari mereka menggerutu, ” Mama hari mulai gelap kalo hujan turun pasti akan banjir, maka kita tidak bisa pulang ke rumah kita?
Siap Badeng berusaha menenangkan anak-anaknya; ” Tenang anakku semua mendung tidak berarti hujan, sabarlah, bentar lagi kita akan pulang dengan selamat”. Tapi malang bagi sang Ayam, angin mulai berhembus kencang, disertai hujan yang semakin lebat, tak terelakkan lagi banjirpun datang. Semua anak ayam menangis, sambil meratap mereka berusaha berlindung dibawah ketiak sang Induk. “mama bagaimana kita bisa pulang, banjir telah datang, hari mulai gelap?”.
Saat dalam situasi sulit seperti itu, Siap Badeng teringat dengan si Men Kuuk (Kucing Betina), yang tinggal tidak jauh dari tempat mereka terjebak. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri selain menumpang di sarang Men Kuuk. Hujan semakin deras, Siap Badeng mengajak anak-anaknya pergi ke rumah Men Kuuk.
Dengan sangat senang Men Kuuk memberikan tumpangan, karena Men Kuuk sudah mempersiapkan sebuah cara agar dapat menangkap I Siap Badeng untuk dimakan. I Siap Badeng tidak begitu saja percaya dengan Men Kuuk, ia tetap waspada agar dia dan anak-anaknya selamat dari cengkraman Men Kuuk.
Hari semakin malam, Siap Badeng berusaha menahan kantuknya, sementara satu persatu anak-anaknya telah tertidur. Diantara tidur dan tidak, samar-samar Siap Badeng mendengar percakapan Men Kuuk dengan anak-anaknya. Men Kuuk: “Anak-anakku sekalian sebentar lagi kita akan punya makanan yang lezat, kalian bisa makan sepuasnya, anak-anak ayam itu adalah bagian kalian”. Anak Kucing:”Ibu ayo kita serang sekarang saja, aku jadi sangat lapar, aku tidak tahan lagi”, Men Kuuk: “Sabar anakku, biar mereka semua tertidur pulas sehingga kita tidak perlu capek-capek untuk menangkap mereka”.
Merasa tidak aman, akhirnya I Siap Badeng membangunkan semua anak-anaknya, kebetulan hujan telah reda dan banjirpun telah mulai surut. Perlahan mereka meninggalkan rumah si Men Kuuk. Tapi malang, anak I Siap Badeng yang bernama I Kologan (Si Gundul) tertinggal karena dia tidak punya bulu untuk terbang.
Siap Badeng kemudian menasehati anakknya di Kolagan: “Cening-cening kolagan jangan takut, saat ini bulumu belum cukup sehingga kamu belum bisa terbang, kamu terpaksa kami tinggalkan, besok kalo kamu tertangkap oleh Men Kuuk , kamu katakan pada Men Kuuk bahwa kamu masih kecil, daging kamu rasanya pahit, kalo sudah besar baru rasa dagingnya lesat seperti buah mangga atau rambutan, nanti kalo sudah besar dengan tanda sudah tumbuh bulu sayapmu nah saat itu kamu siap-siap terbang meninggalkan mereka”. Dengan patuh si Kolakagan menuruti apa nasehat Induknya.
Diam-diam si Kolagan menyusun batu karang menyerupai ibunya, dia bersembunyi dibali batu karang itu. Sementara itu Men Kuuk perlahan bersama anak-anaknya telah menyusun rencana untuk menghabisi si ayan hitam dan anak-anaknya. Dengan sigap dia membuka pintu dan mau menyergap si Ayam hitam, malang bagi si Men Kuuk, ayam hitam yang dia terkam adalah batu karang sehingga semua giginya rontok, darah bercucuran dari mulutnya.
Anak-anaknya menangis melihat darah keluar dari mulut sang Induk, Men Kuuk jadi sangat geram, dia mengutuk dan mengumpat kebodohan dirinya yang ditipu Siap Badeng. Dia tidak menyerah, penciuman dan pengliatannya yang tajam mampu menemukan si Kologan yang ketakutan bersembunyi di balik batu karang. Men Kuuk tersenyum girang: “Anak-anakku tangkap si anak ayam itu”, dengan cepat semua anak-anak Men Kuuk menyerbu dan menangkap si Kologan, Kologan tidak mau kalah dia ingat dengan pesan Induknya: dengan tenang dia keluar dari persembunyiannya: ” Stop saya masih kecil kalo kamu makan saya sekarang dagingnya tidak enak, daging saya pahit dan tubuh saya tidak cukup untuk kalian semua yang jumlahnya banyak ini, begini saja tunggu saya sampai besar setelah saya agak gemuk sedikit dan bulu-bulu saya tumbuh itu tandanya daging saya telah berubah rasa menjadi lezat, saat itulah saat yang tepat buat kalian untuk memakan saya”. Para anak kucing mulai segera menghentikan langkahnya, mereka saling pandang kemudian berdiskusi, akhirnya menyetujui usul si Kologan, Si Kologan kemudian diikat dengan tali dan di taruh di tempat penyimpanan nasinya.
Hari berganti hari, perlahan dan pasti tubuh si kologan mulai membesar, bulu-bulu sayapnya telah tumbuh dengan lebat. Para anak kucing dan Men Kuuk telah tidak sabar mereka semua sangat bergembira melihat tubuh si Kologan yang membesar dan terbayang betapa lezatnya daging si Kologan. Si kologan memutar otakknya, dengan cepat dia kemudian berkata: ” Hai para kucing saya telah siap untuk kalian santap, tapi tidak enak bukan memakan makanan yang diikat, kenapa kalian tidak lepaskan dulu tali yang mengigat kali saya, kemudian kalian semua siap-siaplah berpesta pora menyantap daging saya”.
Ternyata perkataan si Kologan yang lantang dan keras tanpa rasa takut mampu meyakinkan si Men Kuuk, salah satu dari anak kucing melepaskan tali pengikat kaki si Kologan, Begitu tali pengikat talinya lepas, si Kologan langsung terbang kabur, Men Kuuk dan anak-anaknya berusaha mengejar tapi sayang mereka tidak punya sayap, Si Kolagan akhirnya selamat dan bisa berkumpul dengan induk dan kakak-kakaknya.
I Kologan menceritakan semuanya, semua saudaranya tertawa mendengar. Saat itulah Men Kuuk dinyanyikan lagu “Ngak-ngak, ngik-ngik, ngak-ngik, gigi pungak nyaplok batu” yang artinya “ngak-ngak, ngik-ngik, ngak-ngik gigi patah terkam batu.”
Kisah Siap Badeng (Si Ayam Hitam ) ini mengajari kita bahwa dalam situasi sesulit apapun bahkan saaat nyawa akan melayang, kalo kita tenang dan mau memutar otak jalan akan terbentang lebar.


bagus sekali
Salam Pak Qky,
Terimakasih telah berkunjung ke blog kami
Salam damai dan sukses selalu
made m.