MEMBUKA PINTU KEAJAIBAN DENGAN KEBIASAAN BAIK

Ketika terdapat keharmonisan di antara pikiran, hati dan keteguhan/kegigihan maka tidak ada sesuatupun yang tidak mungkin (Rig Veda)


***


Papa how do we open the gate of miracle in our life? Tanya Kadek Ayu Saragita memecah kesunyian pagi itu di tepi pantai Palm Jumeirah Beach, Dubai. Pertanyaan khas anak remaja, polos, tanpa basa-basi. Sambil tersenyum, aku menjawab, “Gita, I thought the miracles are the product of a large amount of good karma, so to open the gate of miracles, we need to get used to doing good karma in this life.” Gita, Papa pikir, keajaiban merupakan produk dari jumlah karma baik yang sangat banyak, jadi untuk membuka pintu keajaiban, kita perlu membiasakan diri melakukan karma baik dalam hidup ini.

Percakapan ini mengingatkanku pada pesan Maha Rsi Warraruci dalam kitab Sarasamuccaya- Sloka 12 yang mengatakan, “Segala orang, baik golongan rendah, menengah atau tinggi, selama karma baik menjadi kesenangan hatinya, niscaya tercapailah segala yang diusahakan memperolehnya” Alam semesta maha sempurna, semua terjadi secara alami, seperti kupu-kupu, kumbang datang pada kembang, demikian pula keberuntungan atau keajaiban mendatangkan dirinya pada mereka yang pikirannya selalu bersih dan hatinya selalu mulia, ini bisa dicapai dengan membadankan dharma (karma baik) dalam setiap gerak pikiran, perkataan dan prilaku.

But changing old habits or developing new one is very difficult papa! Ya, betul! membangun kebiasaan baru sama tidak mudahnya dengan menghentikan kebiasaan buruk. Namun, tekad dan kemauan kuat akan membuka pintu keberhasilan. Kitab Sama Veda mengingatkan bahwa “Semangat seseorang diuji dari kesulitan dan ia yang tetap teguh pada keyakinan akan keluar dengan bercahaya” Selain itu menjadikan karma baik sebagai kebiasaan dalam keseharian, memberi kita perlindungan dimanapun kita berada, seperti disuratkan dalam Sarasamuccaya – Sloka 22 “Lagi pula meski di semak-semak, di hutan, di jurang di tempat-tempat yang berbahaya, di segala tempat yang dapat menimbulkan kesusahan, baik di dalam peperangan, sekalipun tidak akan timbul bahaya menimpa orang yang senantiasa melaksanakan dharma, karena perbuatan baiknya itulah yang melindungi (Segala orang, baik golongan rendah, menengah atau tinggi, selama kerja baik menjadi kesenangan hatinya, niscaya tercapailah segala yang diusahakan memperolehnya”. Sloka ini yang memberiku keberanian untuk melangkahkan kaki untuk pertamakalinya di negeri Padang Pasir, Saudi Arabia tahun 2002, negeri yang sangat asing bagiku kala itu.


PENGENDALIAN DIRI

Pengendalian diri banyak disarankan untuk merubah kebiasaan buruk, tapi fakta dilapangan banyak yang gagal melakukannya. Sebuah artikel ilmiah di Harvard Business Review menuliskan, hasil penelitian di Yale menemukan bahwa jaringan otak terkait dengan pengendalian diri (misalnya korteks prefrontal) adalah yang pertama “offline” ketika dihadapkan dengan pemicu seperti stres. Ini kemudian menjadi motivasi Dr. Jud Brewer, seorang psikiater dan ahli saraf yang mengkhususkan diri pada bidang kecemasan dan perubahan kebiasaan (Harvard Business Review, 2019), meneliti lebih lanjut mengapa orang banyak gagal merubah kebiasaan lama yang tidak baik. Ia menemukan bahwa, teori tentang pengendalian diri melewatkan hal penting bahwa pembelajaran berbasis penghargaan didasarkan pada penghargaan, bukan perilaku. Betapa berharganya suatu prilaku mendorong seberapa besar kemungkinan kita mengulangi prilaku itu di masa depan, ini alasan mengapa “pengendalian diri” tidak mampu berbuat banyak merubah kebiasaan lama.

Menurut Dr. Brewer kebiasaan terdiri dari tiga komponen yaitu, pemicu (misalnya perasaan stess), prilaku (misalnya: makan banyak), dan hadiah (perasaan kenyang/perasaan nyaman). Setiap kali kita menguatkan hadiah (menikmati atau merasa nyaman dengan perasaan kenyang) maka kemungkinan prilaku ini terulang akan lebih tinggi.

PERHATIAN PENUH

Hasil penelitian selama 20 tahun dengan menyatukan praktik ilmiah dan klinis tentang behavioral neuroscience (ilmu saraf prilaku), bagaimana kebiasaan terbentuk, dan cara terbaik untuk mengatasinya, Dr. Brewer menemukan solusi yang sangat alami: kesadaran penuh (mindfulness), menggunakan latihan kesadaran penuh “mindfulness training” untuk membuat seseorang lebih sadar akan “hadiah” yang memperkuat prilaku mereka, dengan demikian seseorang akan mengerti apa yang menjadi pendorong awal kebiasaan mereka.

Misalnya, seseorang yang kecanduan merokok, pasiennya diminta untuk memperhatikan seperti apa rasanya saat mereka merokok tujuannya membuat pasien sadar akan “nilai imbalan” dari kebiasaan yang ingin mereka rubah, semakin tinggi nilainya, semakin besar kemungkinan mereka untuk mengulangi prilaku tersebut. Salah seorang kliennya mengatakan bahwa tindakan merokok membuat remaja itu tampak keren, walaupun motivasi ini telah hilang di masa dewasanya, otaknya masih mengaitkan perasaan positif dengan merokok, oleh karena itu, nilai hadianya tinggi, dan ketika ia mulai memberi perhatian penuh saat merokok, ia merasakan rokok itu rasanya pahit, tidak enak seperti keju yang bau dan seperti bahan kimia”. Ini membantu otaknya memperbaharui nilai hadiah dari kebiasaannya.

Untuk menguatkan hasil penelitiannya, Dr. Brewer kemudian menguji lebih lanjut dan mengembangkan tiga applikasi yang memberikan pelatihan kesadaran melalui smartphone (ponsel). Puluhan ribu orang memakai applikasi ini dan secara klinis penghentian merokok naik 5 kali, menurunkan kebiasaan makan berlebih (40%), kekhawatiran turun sebesar 63%.

Dari sini, ia menyarakan pertama: petakan lingkaran kebiasaan kita (mencari tahu pemicunya), kedua: lihat apa yang sebenarnya kita dapatkan dari tindakan tersebut (menghubungkan tindakan dengan hasil), ketiga: ganti hadiah dengan rasa ingin tahu (menemukan imbalan baru yang lebih bermanfaat dari pada prilaku yang ada) karena otak selalu mencari tawaran yang lebih besar dan lebih baik. Nilai hadiah rasa ingin tahu (membuka diri sendiri) sangat berbeda dari stress makan (menutup diri) dalam hal ini.

Penelitian Dr. Brewer memberi petunjuk bahwa kebiasaan buruk bisa dirubah menjadi biasaan baik dengan menemukan pemicu awal kebiasaan itu, mengenali prilaku dan hubungannya dengan hasil, dan menemukan imbalan baru yang lebih bermanfaat dari pada prilaku yang ada. Saat kebaikan (dharma) menjadi kebiasaan kita, maka banyak hal-hal yang rasanya tidak mungkin bisa terjadi (keajaiban). Ketika terdapat keharmonisan di antara pikiran, hati dan keteguhan/kegigihan maka tidak ada sesuatupun yang tidak mungkin (Rig Veda). Tak terasa udara sudah mulai panas, suara pangilan istriku untuk sarapan pagi menghentikan percakapan kami.

Ruwais, 26 Juni 2021, Made Mariana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *