Meraih Sukses di Luar Negeri (Bekerja, Belajar dan Berpendidikan di Luar Negeri)

Dalam sebuah kitab kuno dikatakan, kelahiran menjadi manusia sungguh sangat beruntung, karena memiliki akal, budhi dan kemampuan belajar, meningkatkan diri secara kontinyu.

Bila kita lihat, prilaku bangsa-bangsa yang maju seperti Jepang, Amerika, Eropah, kemanapun mereka pergi, diwaktu senggang selalu menyempatkan diri membaca dan belajar. Belajar menjadi bagian dari kehidupan orang-orang maju. Waktu saya kerja di Chandra Asri Petrochemical Center, teman kerja dari Jepang rajin sekali menulis saat jam istirahat, mereka membuat journal rapi sekali, kadang membuat tabel sistematis hubungan antara operation condition, product quality, raw material, tulisannya rapi sekali. Demikian pula teman-teman dari Eropah, selalu membaca buku saat jam-jam istirahat, bahkan saat berliburpun mereka ditemani dengan buku. Di negeri padang pasir, wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad, “Iqra” artinya membaca. Ini terjadi karena adanya kesadaran, semangat dan motivasi dari dalam untuk meraih ilmu untuk alasan pribadi maupun profesional

Ternyata di negeri kita, ada banyak pula tradisi pembelajaran. Astadasa Paramiteng Prabu dari Gajah Mada, ada Asta Brata, di Bali dikenal dengan Tri Pramana, belajar melalui pengamatan langsung (praktyasa pramana), menggunakan logika (membandingkan) anumana pramana, dan agama pramana (belajar dari kitab).

Di Sunda ada “ngabandungan” yang berarti ‘menyimak’ atau ‘memperhatikan secara saksama’, ada pula tradisi Sorogan, Guru membacakan, sang murid menirukan berkali-kali. Dan seterusnya.

Ini mungkin alasan mengapa Mahatma Gandhi Mengatakan “Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever.” “Hiduplah seolah-olah kamu akan mati besok. Belajarlah seolah-olah Anda akan hidup selamanya.” Belajar sepanjang hayat atau istilah kerennya “Lifelong Learning” Sejatinya, kita secara alami lahir dengan rasa ingin tahu dan kemampuan belajar mandiri, coba perhatikan siapa yang mengajari satu sel telor dan sperma menyatu kemudian menumbuhkan jari-jari, mata, otak, telinga, dll..

Keuntungan lifelong learning, menciptakan job security, membuka kesempatan baru, motivasi bertambah, dan memberikan keahlian yang dibutuhkan untuk berkembang pesat di bidang yang ditekuni, meningkatkan percaya diri, jaringan semakin kuat. Penelitian di University of Zurich menemukan bahwa penuan bisa dikurangi pada brains of academic. Semakin banyak kita menggunakan otak, semakin kecil kemungkinan kita mengalami degenerasi di usia yang lebih tua.

Lifelong learning It Can Help Your Brain Stay Healthy, It Can Help You Stay Connected, It Can Help You Stay Fulfilled, It’s Easier Than Ever to Engage in Lifelong Learning.

Mark Twain, “Jangan biarkan pendidikan formal menghalangi pembelajaran Anda”.

Menurut Emeritus Global Consumer Sentiment 2021 Report, pelajar melihat pendidikan sebagai sarana untuk membuktikan diri mereka di masa depan dalam perlombaan untuk memiliki gudang senjata keterampilan dan pengetahuan terbaru.

Emang bisa Kuliah sambil Kerja atau Kerja sambil Kuliah?

Tidak mudah, apalagi disaat beban kerja lagi tinggi saat waktu ujian. Di sinilah niat dan kesunguhan kita diuji, kabar baiknya, manusia memiliki kekuatan tak terbatas, saat kesulitan menghampiri, kreativitas akan lahir. Ini alasan mengapa peraih nobel kedokteran, Rita Levi-Montalcini yang berusia lebih dari 100 tahun mengatakan, Above all, don’t fear difficult moments. The best comes from them.” Yang terpenting, jangan takut pada saat-saat sulit. Yang terbaik datang dari mereka.”  Faktanya  “Dengan bekerja yang keras kita akan mendapatkan yang kita mau meski dalam melakukannya kita sering kesusahan,” Menkominfo (Nuh)

Pendidikan adalah apa yang tersisa setelah seseorang melupakan apa yang telah dipelajarinya di sekolah. Albert Einstein

Pendidikan sangat penting, idealnya menyentuh ke-empat kapasitas manusia, tubuh (Ketrampilan) PQ, Otak/Pikiran (Pengetahuan) IQ, Hati (Dedikasi) EQ, Spirit (Kebaikan) SQ.

Seperti HP, kita membutuhkan energi yang cukup untuk belajar dan bekerja, level energi sangat ditentukan oleh suasana hati dan pikiran. Saat kita marah, khawatir, takut, panic dan dalam tekanan, otak menghasilkan hormon “Nor-Adrenalin” yang sangat berbahaya, no.2 setelah bisa ular. Sebaliknya ketika pikiran dan perasaan terkendali, menjalani kehidupan dengan positif, maka otak menghasilkan hormon Beta-Endorphin yang membantu kesembuhan berbagai penyakit. Dr. Shigeo Haruyama/ The Miracle of Endorphin

Saat pikiran tenang/hening (cahaya putih), hati terbuka, keheningan membuat kita menjadi percaya diri, meyakini pengalaman sendiri, menemukan cara baru untuk menjalani hidup lebih baik tanpa dikendalikan oleh gangguan-gangguan. Dalam keheningan kita menemukan inner voice (kata hati – cahaya kuning), ia yang mengantar kita pada kreativitas, pemecahan masalah (problem solving), pengambilan keputusan (decision-making) dan pada akhirnya mengajak kita hanya terfokus pada hal-hal yang hakiki dalam hidup. Menemukan inner voice dan menginspirasi orang lain menemukan inner voice merupakan inti dari The 8th Habit from Effectiveness to Greatness karya Dr. Sthephen R. Covey, penulis buku best seller The 7 habits of Highly Effective People.

Hasilnya, kita menjadi pribadi Resilient/ Tangguh dan Penuh Keyakinan akan sukses. Resilient maknanya, mampu tampil lebih baik dari para pesaing di dunia yang penuh dengan perubahan. Mampu bangkit kembali saat dihadapkan pada berbagai kesulitan, dan mampu mengubah musibah menjadi berkah.

Sukses berawal dari keyakinan. Kita bisa mengubah banyak hal lewat keyakinan. YM Guruji Gede Prama

Agar optimal dalam Bekerja, kita perlu melatih diri menjaga keselarasan/keharmonisan dengan diri (mindset), menjaga hubungan baik dengan teman kerja, atasan dan organisasi. Ada keselarasan antara goal kita, rekan kerja, atasan dan organisasi, maka kita bisa bekerja dengan iklas dan semangat bangun pagi.

Jadilah Pekerja Professional, dimulai dengan dealing professional with others, pertama jaga kesan pertama, tunjukkan percaya diri, pahami bahasa tubuh / body language, lihat orang lain dengan neutral jangan ada penghakiman ini dan itu, being assertive (berani memperjuangkan hak dengan benar tanpa mengganggu hak-hak orang lain).

Jadilah lebih baik dengan cara positif

Pertahankan bahkan tingkatkan professionalisme, ketangguhan, dan daya saing dengan menjaga semangat “menjadi lebih baik secara positif”

  • Menjadi orang yang lebih kuat, dengan meningkatkan kekuatanmu, bukannya melemahkan orang lain
  • Menjadi orang yang lebih tinggi, dengan meningkatkan level Anda, bukan dengan menendang atau menjatuhkan orang lain.
  • Menjadi lebih cerdas dengan menambah ilmu, bukan membodohi orang lain
  • Menjadi pribadi yang prima, dengan meningkatkan kinerja, bukan merendahkan orang lain.

TERIMA KASIH

Made Mariana, Abu Dhabi

Seminar Belajar, Bekerja dan Berpendidikan – Universitas Terbuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *