Entah sejak kapan, kemarahan selalu diartikan negatif, mulai dari neraka, hukuman, penderitaan, dosa, atau sakit. Padahal kalo mau jujur tiap orang dari kita pernah dikunjungi oleh kemarahan. Kemarahan merupakan bagian dari hidup kita. Lalu mengapa kemarahan selalu diberi label negatif? Sesungguhnya, kemarahann itu bukan penyebab masalah, tetapi cara menangani perasaan marah itu memengaruhi perilaku seseorang. Seringkali respon negatif saat menangani rasa marah berujung pada ucapan dan prilaku anarkis, ini membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, apalagi tingkatmarahnya tinggi dan frekuensi terjadinya kemarahan sering / setiap hari.
Mengenali kemarahan
Jika kemarahan bagian dari diri kita, lalu bagaimana cara mengolah kemarahan agar menjadi teman perjalanan menuju puncak? Bukan menjadi penghalang langkah menuju kemajuan?
Di Bali, ajaran tentang mengelola kemarahan ditemukan dalam Sadripu, dimana kemarahan dikatakan sebagai salah satu dari enam musuh (sadripu) yang perlu dikuasai yang disebut dengan kroda. Di India, ajaran tentang pengelolaan kemarahan bisa dilihat di dalam kitab Bhagavadgita. Di sini kemarahan merupakan salah satu dari tiga gerbang neraka (hawa nafsu, kemarahan dan rakus/tamak). Ada empat jenis kemarahan yaitu, marah beberapa saat saja setelah itu reda tidak menimbulkan bekas, seperti menulis di atas air, tidak ada bekas. Selanjutnya, marah beberapa menit kemudian reda, seperti menulis di atas pasir, tampak bekasnya sesaat setelah angin bertiup bekasnya hilang, berikutnya, marah terjadi berhari-hari, seperti menulis di atas batu, bekasnya tampak jelas dalam kurun waktu tertentu, akhirnya, kemarahan terjadi seumur hidup, seperti menulis di atas besi baja, ini yang paling berbahaya.
Gede Prama dalam bukunya ”Mengolah Kemarahan menjadi kedamaian” menjelaskan lima tingkatan kemarahan. Pertama, kemarahan muncul ketika kenyataan hidup jauh dari harapan, kemudian kemarahan muncul karena seseorang tumbuh dilingkungan yang penuh amarah, selanjutnya kemarahan muncul karena luka jiwa di masa lalu, berikutnya kemarahan membakar bertahun-tahun muncul karena seseorang mengambil jalan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa, terakhir orang marah sangat berbahaya seperti yang ditemui di lembaga pemasyarakatan bisa jadi energi kemarahan dibawa dari kelahiran sebelumnya.
Biasanya kemarahan pertama dan kedua frekuensi munculnya jarang dan daya rusaknya juga tidak terlalu berbahaya dan masih ada ketulusan untuk memaafkan, serta ada ketertarikan untuk belajar spirital. Tidak demikian dengan tingkatan tiga, empat, apalagi lima. Kemarahan muncul hampir tiap hari dengan daya rusak tinggi. Percakapan di dalam dirinya cendrung negatif, suka menjelekkan orang yang memiliki pemikiran berseberangan dengannya. Lebih berbahaya lagi energi kemarahan disalurkan dengan menendang ke sana kemari tanpa sadar telah melukai atau menyakiti orang lain.
Mengolah kemarahan
Mirip seperti seorang tabib atau apotaker, meramu bahan-bahan beracun menjadi obat menyembuhkan, atau seorang cheft (juru masak) meramu berbagai bahan dengan rasa pedas, panas, pahit, kecut, menjadi masakan enak dan menjadi nutrisi bermanfaat. Kemarahan mirip lumpur, bila nempel di baju akan menjadi kotoran, tetapi bila ditempatkan di dalam kolam bisa menjadi tempat tumbuh bunga lotus yang indah. Kemarahan dengan intensitas kecil dan terkendali bisa digunakan untuk tujuan kepemimpinan baik di keluarga ataupun di tempat kerja. Ia seperti kekuatan penjaga yang membuat orang sekitarnya merasa segan dan penuh hormat. Lebih-lebih kalau energi kemarahan yang kecil di dalam diolah dengan kebijaksanaan mendalam. Bukan tidak mungkin ia bisa bermuara pada pemimpin yang penuh karisma. Untuk kelompok tiga, empat, dan lima, lebih sulit mengolahnya, kemungkinan sembuhnya juga lebih kecil. Tetapi bila kemauannya sangat kuat dan tidak menyerah melakukan peningkatan diri, pembersihan spiritual, dan rajin berlatih, peluang sembuhnya juga ada. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tekadnya tidak kuat? Selalu ada jalan, mungkin dengan membiasakan diri memberi nutrisi sehat pada jiwanya, menjaga kewaspadaan saat memilih pergaulan, bacaan, tontonan dan lingkungan untuk bertumbuh.
Selain itu, layak mencoba pendekatan ala Barat, dimana hasil riset para ilmuan Barat menemukan bahwa hormon-hormon stress menurun drastis dan kekebalan tubuh meningkat saat seseorang banyak menghabiskan waktu di ruang terbuka dengan udara bersih, dengan pemandangan indah, ditemani rasa syukur dan terimakasih mendalam.
Lebih baik lagi bila dikombinasikan dengan pendekatan Timur dengan meditasi, melihat kemarahan sebagai lumpur kotor yang berproses menjadi bunga lotus yang indah. Melatih diri untuk memaafkan, menerima diri, orang lain, dan situasi apa adanya, menyadari bahwa setiap orang memiliki kekurangan, tidak suka dimarahi, dan pada akhirnya akan meninggalkan dunia ini. Rajin melakukan pengendalian diri (tidak menuruti kemarahan) dengan tapa, brata, dan yoga, melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif. Hidup mengalir dan lentur, mengerti bahwa semua kejadian hidup ada alasannya.
Di kedalaman spiritual ada yang berbagi cerita, nyamuk dimakan kodok, kodok dimakan ular, ular dimakan burung elang. Suatu hari ketika burung elang mati, bangkainya akan dimakan oleh nyamuk. Serupa menyapu lantai, sampahnya dibersihkan di pagi hari, beberapa saat berikutnya debu berdatangan, debu dibersihkan, di siang hari sampah datang lagi. Seperti orang makan, di pagi hari perut sakit karena isinya perlu dikeluarkan lewat bibir bawah, sesaat kemudian, perut lapar dan minta diisi lewat bibir atas, besok paginya perut sakit lagi minta isinya dikeluarkan. Bibir atas dihiasi dengan lipstik, tapi apakah bibir atas lebih baik dari bibir bawah (dubur), tak terbayang bila bibir bawah tidak berfungsi apakah manusia masih bisa hidup normal?. Semua mengalir sempurna apa adanya.
Al Dannah City, 30 Oktober 2025


