“Semangat seseorang diuji dari kesulitan dan ia yang tetap teguh pada keyakinan akan keluar dengan bercahaya.” (Sama Veda).
***
Tatkala summer season seperti ini, napasku sesak, keringat mengucur dari sekujur tubuh walau hanya berdiri di pinggir jalan. Termometer di dalam mobilku menunjukkan 50 derajat Celcius. Tidak sehat bila melakukan aktivitas di luar rumah. Aku memilih tinggal di bilikku bersama keluarga, menikmati libur week-end dengan menonton bersama, membaca, dan melakukan pekerjaan rumah. Bila di Indonesia week-end itu jatuh pada hari Sabtu dan Minggu, di Abu Dhabi week-end jatuh pada hari Jumat dan Sabtu.
Kali ini tontonan yang menjadi pilihan kami adalah pertandingan piala semifinal kejuaraan dunia bulu tangkis Thomas Cup antara juara bertahan Cina melawan Jepang. Di atas kertas, Cina lebih diunggulkan, negeri ini telah mampu menjuarai Piala Thomas selama lima kali berturut-turut. Semua teman memprediksi Cina yang akan menjadi pemenang, namun kenyataannya berbeda. Saya betul-betul terkesima melihat penampilan para atlet Jepang, semangat dan keyakinan team negeri sakura menghadapi team juara bertahan dari negeri tirai bambu, membuat siapa saja yang menonton pertandingan ini berdecak kagum. Semangat dan keyakinan mereka luar biasa, tak gentar menghadapi lawan dengan peringkat jauh di atas mereka. hasilnya, menang telak dengan score 3:0. Tanpa sadar bibir ini bergumam “Keyakinan merupakan modal awal kesuksesan Jepang.“
Keyakinan
Ini mungkin yang hendak disampaikan oleh sloka XVII-28 Bhagavad Gita, “Persembahan dan dana apa pun yang dilakukan, tapah apa pun yang dilaksanakan, dan yajna apa pun yang dilakukan tanpa keyakinan, itu disebut ‘asat’ maknanya tidak murni/tidak benar, tidak terpuji, wahai Partha (Arjuna) baik di dunia ini maupun di dunia sana nantinya”.
Keyakinan menjadi modal awal bagi setiap individu bila ia ingin memulai usahanya untuk meraih sukses lahir dan batin. Kekuatan untuk meraih suka tanpa wali duka (kebahagiaan yang tanpa diikuti oleh kedukaan) terbebasnya kita dari ikatan samsara (moksha).
Dari sini tampak bahwa pesan-pesan dalam ajaran Kitab Suci, bukan sesuatu yang angker, yang dirahasikan, sebaliknya merupakan formula jitu untuk meramu aktivitas menghadapi kematian dengan damai dan menjalani kehidupan ini dengan penuh makna.
Seperti sloka di atas, bakat, pengetahuan, dan keahlian hebat tidak cukup tanpa disertai dengan keyakinan sebagai energi penggerak, sulit bagi kita meraih cita-cita. Tatkala keyakinan hadir, ia mengundang energi-energi positif lainnya, seperti keinginan menganalisis diri, mengetahui kelebihan dan kekurangan, selanjutnya mengembangkan kelebihan menjadi nilai tambah untuk meningkatkan personal branding, dan menggunakan kekurangan sebagai kesempatan untuk belajar, membangun jaringan, dan tekun melatih diri. Hasilnya, kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh sehingga mampu mengatasi setiap rintangan dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Ibarat buah kurma, buah termanis, hanya bisa diproduksi di musim panas, lembap, dan berdebu. Demikian pula prajurit mumpuni, lahir setelah melewati berbagai kesulitan di medan laga.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya temukan orang-orang yang dianggap tidak mampu, namun karena didorong oleh keyakinan untuk meraih apa yang dia cita-citakan, ia berhasil.
Contohnya Dede yang ketika bekerja di Indonesia sering diremehkan oleh teman-temannya. Jangankan pergi ke luar negeri, bahkan untuk pindah ke perusahaan lain di negeri sendiri ia diragukan. Banyak orang mengira ia masuk ke perusahaan tempatnya bekerja saat itu dengan jalan yang tidak benar. Ia dinilai tidak mampu berkomunikasi dengan baik, banyak kelemahan yang dialamatkan padanya. Tidak heran bila kemudian dia tidak naik jabatan walau sudah lama mengabdi di perusahaan itu.
Hal ini tidak menyurutkan semangat kerja dan belajar Dede. Ia terus berusaha menanggapinya dengan sopan dan positif. Namun, lama-kelamaan ia merasa gerah juga. Bangkitlah kemudian semangat dalam dirinya, ingin membuktikan apa yang selama ini dipercayai teman-temannya tentang dirinya tidak benar. Dengan penuh keyakinan ia berusaha mengirimkan lamaran ke perusahaan-perusahaan petrochemical yang diimpikan oleh teman-teman dan atasannya yang merupakan perusahaan-perusahaan terkenal di Timur Tengah. Awalnya ada keraguan di dalam dirinya, mungkinkah saya bisa? Kalau gagal bagaimana? Ia berusaha menghapus segala gambaran pikiran yang melemahkan semangat dan melumpuhkan keyakinannya. Dengan mantap ia melangkah maju. Apa pun yang terjadi, terjadilah. Ia pasrahkan semuanya pada Tuhan. Kerja kerasnya berbuah manis, ia diterima bekerja di sebuah perusahaan multinational ternama di Timur Tengah.
Kesuksesan
Hal ini sejalan dengan ajaran yang tersurat dalam kitab suci Sama Veda; “Semangat seseorang diuji dari kesulitan dan ia yang tetap teguh pada keyakinan akan keluar dengan bercahaya”, dan kitab suci Atharva Veda: “Ketika Matahari tepat di atas kepalamu, tidak akan ada bayangan; sama halnya ketika keyakinan telah kokoh di dalam kepalamu, hal apapun tidak akan menimbulkan bayangan keraguan”.
Pentingnya keyakinan untuk meraih sukses dalam kehidupan ini ditegaskan pula oleh salah seorang tokoh yang sangat saya kagumi. Ia mendapatkan beasiswa di luar negeri, mampu menjadi CEO di sebuah perusahaan besar di Indonesia di usia yang sangat muda, menjadi pembicara di mancanegara, seorang guru meditasi yang disegani, Gede Prama: “Saya mengenal banyak orang yang secara potensial biasa-biasa saja. Tapi karena didukung oleh yang namanya raksasa keyakinan, dia berhasil. Yang banyak terjadi adalah orang yang potensinya rendah tapi keyakinannya tinggi, dia berhasil. Sebaliknya, ada orang yang potensinya tinggi tapi keyakinannya rendah, ya ndak berhasil.”
Hal senada diungkapkan oleh Andrea Hirata, penulis buku best seller berjudul “Laskar Pelangi” yang telah diterjemahkan dalam 23 bahasa asing, memenangkan berbagai penghargaan dalam dan luar negeri, “Jangan sekali-kali kita memarginalkan diri sendiri. Kita mesti pupuk keyakinan bahwa kita bisa meraih sukses, karya kita bisa dihargai oleh bangsa lain. Bila saya bisa, Anda-Anda pun pasti bisa”. Ia saya jumpai di acara Abu Dhabi Book Fair 2014, memenuhi undangan Al-Muna Publishing, penerbit buku “Laskar Pelangi” dalam bahasa Arab.
Tiba-tiba muncul wajah Prabu Dharma Yasa dalam benak saya, tokoh spiritual dari Bali yang telah mengajar meditasi di mancanegara. Ia menasihatkan, “Sesibuk apa pun menjalani kehidupan keduniawian, sempatkan pula untuk membaca kitab suci, melakukan meditasi, dan memupuk karma baik”. Anehnya, setiap kali membaca kitab suci, selalu ada hal baru yang muncul. Ini mungkin alasan mengapa para guru mengatakan bahwa ada banyak sekali mutiara, emas, permata berlian yang bisa digunakan untuk memupuk keyakinan dan meraih sukses dalam hidup ini. Dalam kitab suci berlimpah ajaran-ajaran praktis yang bisa diaplikasikan langsung untuk mengatasi kesulitan hidup.
Tak mau kalah, tokoh spiritual ternama yang mengguncang konferensi pertama antaragama sedunia September 1893, Swami Vivekananda, menasihatkan, “You must not say that you are weak. How do you know what possibilities lie behind that degradation on the surface? You know but little of that which is within you. For behind you is the ocean of infinite power and blessedness.” Jangan pernah katakan diri Anda lemah. Bagaimana Anda tahu kemungkinan apa yang ada di balik degradasi di permukaan? Anda tahu tentang diri Anda, tapi hanya sedikit. Di balik semua itu Anda adalah lautan dari kekuatan dan berkat yang tak terbatas.”
Akhirnya izinkan saya mengutip sebuah ayat dalam kitab Sama Veda dari buku Studi Ringkas Catur Veda karya Dharmayasa, “Kehidupan telah dibandingkan dengan pertempuran dan memang demikian adanya, sebagaimana hari datang dengan berbagai tantangan baru yang harus kita hadapi. Orang janganlah menghindar dari masalah jika ia masih ingin bertahan hidup. Ia harus menghadapi tantangan dengan keberanian.” Semoga semua makhluk berbahagia, sejahtera, dan bebas derita. Semoga semua pikiran baik datang dari segala arah.
Made Mariana
Abu Dhabi, 24 Mei 2014

