Setiap kali ditanya alasan melakukan berbagai aktivitas, sesepuh di Bali menjawab singkat, “mebhakti,” melakukan pengabdian/persembahan dengan dasar cinta kasih. Ada perasaan tidak puas saat itu, mengapa mebhakti selalu menjadi motivasi melakukan setiap kegiatan mulai dari gotong royong (ngayah), menghaturkan makanan selesai memasak kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasi-NYA dan kepada Kekuatan Alam (Bumi, Air, Api, Angin, dan Ruang) – yadnya sesa, menari, memainkan alat musik, bernyanyi (mekidung), menari, membuat sajen dan kelengkapannya, melukis (merajah), mengukir, membersihkan pura, dan seterusnya. Belakangan baru mengerti, segala kegiatan yang didasari oleh cinta kasih menghasilkan output optimal, menenangkan dan mendamaikan. Selain itu, memberi (baca: persembahan) menyembuhkan dari negativitas, menguatkan keihlasan sekaligus membebaskan dari kemelekatan.
Pantas saja seorang wanita, single parent, dengan tiga anak balita, mampu menahan berbagai cobaan, hinaan, cacian, dan makian dari lingkungan masyarakat hingga keluarga terdekat. Bahkan mampu mengantarkan ketiga putra dan putrinya meraih sukses di bidang masing-masing. Tatkala ditanya kunci rahasianya, hanya satu kata: “cinta.”
Kekuatan yang sama membuat seorang anak yatim dari desa terpencil, tanpa sarana dan prasarana pendidikan memadai, memenangkan berbagai lomba akademik, meraih beasiswa, dan menjadi lulusan terbaik di beberapa universitas serta diterima bekerja di beberapa perusahaan multinasional.
Wajar bila setiap agama mengajarkan umatnya mengaplikasikan cinta kasih dalam setiap keseharian. Di Hindu, Mahatma Gandhi mewujudkan cinta dalam bentuk ajaran ahimsa (tanpa kekerasan). Baginya, cinta adalah kebajikan utama. Lebih dalam, Hindu mengajarkan memandang setiap mahluk dengan pandangan seorang sahabat, setiap orang bersaudara (vasudaiva kutum bakam), mengaplikasikan cinta (prema) dalam setiap gerak pikir, kata, dan laku dalam kehidupan keseharian yang disebut tri kaya parisudha, tidak menyakiti (ahimsa) makhluk lain. Di setiap persembahyangan ditutup dengan mendoakan kedamaian (shantih) pada diri, masyarakat, dan alam semesta. Di Islam, ajaran cinta dilukiskan indah oleh Jalaluddin Rumi, “Aku telah membersihkan rumahku dari kebaikan dan keburukan; rumahku hanya diisi dengan cinta kepada Yang Esa”. Di Kristen, Yesus mewujudkan ajaran cinta dengan bukan hanya mencintai orang lain. Bahkan Yesus mengajarkan untuk berdoa bagi keselamatan musuh. Demikian pula di ajaran Buddha, Brahma Vihara mengajari kita untuk mempraktikkan sifat-sifat luhur yang patut dijalani semua makhluk, yaitu cinta kasih (metta), welas asih (karuna), simpati (mudita), dan keseimbangan batin (uppekkha).
Kekuatan ini pula menjadi fondasi utama rumah pembelajaran saya yang kedua. Semoga karya kecil ini memberi manfaat kepada siapa saja yang mampir ke rumah sederhana ini. Di rumah ini, Anda bebas memasuki setiap ruang (baca: artikel). Anda tidak mesti memasuki ruang-ruang di dalamnya berurutan, Anda bisa mulai dari mana saja—bagian depan, dari bagian belakang, atau dari bagian tengah.
Selamat berekreasi!
Pintu Depan Buku Putih Kuning Cahaya dari Pulau Dewata


