DIRGAYUSA DAN ALPAYUSA

DIRGAYUSA DAN ALPAYUSA
Dr. Drs. I Ketut Widnya M.phil

I. Alasan Untuk Umur Panjang dan Pendek

Orang yang mampu mengekang nafsunya menurut Sarasamuccaya 72 akan memperoleh pahala berupa dirgayusa atau panjang umur. Sementara Sarasamuccaya 171 menegaskan, “adapun akibat ahimsa yaitu tidak melakukan perbuatan membunuh adalah usia panjang, demikian kata sang pandita”. Usia panjang juga akan diperoleh seseorang kelak, bahkan sekarang oleh orang yang demikian: tidak dimasuki kemarahan, selalu tetap berpegang teguh pada kebenaran, sekali-kali tidak melakukan perbuatan membunuh, tidak berbuat jahat dan benar-benar berkelakuan suci (Sarasamuccaya 147)

Sebaliknya, apabila orang melanggar ajaran-ajaran agama seperti memperkosa wanita, memperkosa istri orang, berkelakuan jahat, bengis, bertabiat menyakiti atau membunuh, tidak jujur, dan melakukan segala usaha yang curang, maka dia menjadi alpayusa atau pendek umur (Sarasamuccaya 149, 153)

Mengekang nafsu (tapa) ahimsa (tidak melakukan pembunuhan), satya (kebenaran, suci dan jujur merupakan tindakan berdasarkan dharma. Sedangkan, sebaliknya perbuatan bengis, memperkosa, menyakiti dan melakukan himsa karma merupakan perbuatan yang tergolong kedalam adharma. Karena itu, dapat disimpulkan umur panjang akan dinikmati seseorang dalam hidupnya apabila segala tingkah lakunya mengemban nilai-nilai dharma. Sebaliknya seseorang menjadi pendek umur apabila tingkah lakunya hanya merupakan luapan sifat-sifat adharma.

Kesimpulan tersebut membenarkan interval waktu didalam Catur Yuga yang mengaitkan tingkat pelaksanaan dharma dengan usia hidup manusia yang dapat dicapai manusia. Pada satya yuga usia hidup manusia mencapai 100 ribu tahun karena dharma 100 persen dilaksanakan. Pada zaman ini semua orang cerdas dan dapat mengerti maksud ajaran agama yang sebenarnya yaitu untuk mengerti Tuhan yang Maha Esa.

Selanjutnya usia manusia semakin pendek seiring dengan merosotnya pelaksanaan dharma. Pada treat yuga berkurang menjadi 10 ribu tahun karena dharma pu n merosot sampai 25 persen, sehingga hanya dilaksanakan 75 persen. Menyusul Dwapara Yuga hanya 50 persen dharma dilaksanakan, sehingga usia manusia semakin diperpendek menjadi 1000 tahun, dan akhirnya diperpendek menjadi 100 tahun pada Kali Yuga karena dharma hany dilaksanakan 25 persen saja.

II. Kebiasaan Hidup yang tidak Teratur

Ada opini umum dikalangan orang-orang suci bahwa panjang pendek umur seseorang ditentukan oleh kumulasi nafasnya. Dalam arti ini usia hidup seseorang dapat diperpanjang dari usia yang sebenarnya dengan memperpanjang siklus nafasnya melalui teknik pranayama, yaitu pengaturan nafas dengan puraka (menarik), kumbhaka (menahan) dan recaka (mengeluarkan).

Bila ditentukan usia hidup seseorang mencapai sati milyard kumulasi nafas, dan dengan pernapasan biasa (menarik dan mengeluarkan tanpa menahan) kira-kira akan dicapai interval waktu selama 25 tahun, maka dengan memperpanjang siklus nafas melalui pranayama, lamanya interval waktu yang dapat dicapai pasti melebihi 25 tahun, meskipun kumulasi nafasnya tetap sama yaitu satu milyard kumulasi nafas. Berangkat dari wawasan tersebut dan mengingat pranayama memegang peranan penting dalam system yoga, kiranya beralasan bahwa semakin intensif pranayama dipraktekkan dalam hidup sehari-hari – yang berarti semakin intensif pula yoga dipraktekkan – maka akan memberi peluang yang leboih besar kepada seseorang untuk memperpanjang usia hidupnya.

Dengan demikian logis apabila pada Satya Yuga (Kerta Yuga) usia manusia mencapai 100 ribu tahun, karena pelaksanaan ajaran agama yang diutamakan pada waktu itu adalah samadhi, dimana pranayama dengan “tiga tahap” pengaturan nafas memegang peranan penting, disamping karena zaman tersebut ditunjang dengan 100 persen pelaksanaan Dharma.

Sebaliknya pada Kali Yuga umur manusia pendek. Para resi yang sedang bersidang di hutan Naimisaramya membenarkan kesimpulan tersebut berdasarkan kekuasaan Veda. Mereka mengatakan kepada Suta Gosvami, “O resi yang terpelajar, pada zaman besi kali ini, manusia pendek usia. Mereka suka bertengkar, malas, tersesat, bernasib sial, dan terutama, selalu goyah”. (Bhagavata Purana 1.1.10).

Alasan utama untuk usia yang semakin pendek pada Kali Yuga, bukanlah kekurangan makanan, melainkan kebiasaan hidup yang tidak teratur. Makan berlebihan, memuaskan indera terlalu banyak, terlalu bergantung kepada kemurahan hati orang lain, dan taraf hidup yang tidak wajar menyedot vitalitas hidup tenaga manusia. Karena itu usia hidup diperpendek.

III. Pendek dan Sulit

Usia manusia pada zaman Kali diprediksi mencapai 100 tahun. Di tempat lain yaitu didalam Kakawin Nitisastra IV.14. dibuat interval waktu antara 80 sampai dengan 100 tahun. Bila membandingkan dengan rata-rata usia hidup manusia yang dapat dicapai sekarang ini, delapan puluh tahun atau seratus tahun, adalah usia hidup yang cukup panjang. Sangat jarang manusia mencapai usia hidup tersebut.

Akan tetapi apabila dibandingkan dengan pengembaraan manusia mencari hakekat Kebenaran Yang Mutlak melalui ketentuan ajaran agama dan pustaka suci Veda yang merupakan sumber ajaran yang luas, dalam dan rahasia, maka interval waktu tersebut terasa amat sempit.

Lebih-lebih lagi jika kita berangkat dari kesadaran kosmis, dimana hokum-hukum alam, seperti adanya siang dan malam, penyakit, usia tua, dan gangguan-gangguan alam lainnya, akan memperpendek usia manusia, maka amat jelas bagi kita bahwa usia manusia sebenarnya amat sangat pendek sekali.

“Sebab sesungguhnya terlalu pendek umur sekalian makhluk; meskipun sudah pendek, diambil oleh sebagian waktu malam, waktu tidur karena pengaruh kantuknya mata; sisanya yang sebagian dikurangi lagi karena penyakit, kesedihan, umur tua serta gangguan-gangguan, amat sedikit waktu itu pada kesudahannya” (Sarasamuccaya 367).

Jadi berdasarkan kekuasaan pustaka suci tersebut, kita dapat menghitung berapa persen usia efektif yang kita miliki untuk didaya-gunakan. Katakanlah seandainya seseorang mencapai usia 80 tahun dalam hidupnya, berarti 26,6 tahun atau sepertiga dari usia tersebut dihabiskan diatas ranjang hanya untuk tidur, itupun kalau taat mengikuti aturan ilmu kesehatan yang membatasi maksimal tidur delapan jam sehari.

Selebihnya sisa usia anda sekitar 52,3 tahun, tidak sepenuhnya dapat didaya-gunakan, karena harus dikurangi untuk menderita penyakit, kesedihan, umur tua, serta gangguan-gangguan lainnya. Pada Kali yuga dewasa ini, problematika kehidupan manusia semakin kompleks, sehingga kesedihan, penyakit dan gangguan-gangguan lainnya juga semakin meningkat, demikian juga penyakit pada usia tua semakin berkembang. Semua ini mengurangi semakin banyak hari-hari manusia sehingga menyebabkan semakin pendek usia manusia.

Usia yang pendek itu dianalogikan dengan kalimat, “tan pahi lawan kedapning kilat”, yang maksudnya adalah bahwa umur yang pendek itu bagaikan gerlapan cahaya kilat. Selain pendek disebutkan pula dengan kalimat “durlabha towi”, artinya kelahiran sebagai manusia sangat sukar diperoleh.

Didalam Garuda Purana dijelaskan ada 8.400.000. (delapan juta empat ratus ribu) jenis kehidupan, dan kelahiran sebagai manusia, yang merupakan jenis kehidupan yang paling utama, telah “bertransmigrasi” dari satu badan ke badan lain sebanyak 8.400.000. jenis kehidupan tersebut. Keterangan ini dimaksudkan mempertegas keterangan sebelumnya, bahwa kelahiran sebagai manusia tidak hanya sulit, melainkan benar-benar berharga.

Mengacu kepada kedua hal tersebut, yaitu usia pendek dan kelahiran sebagai manusia yang sulit diperoleh, Bhagavan menasehati sebagai berikut, “gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai surga”.

Dalam Sarasamuccaya 8 diatas, kita menemukan kronologi pengertian sebagai berikut: umur pendek, kedudukan sebagai manusia yang sulit diperoleh, penunaian dharma, musnahnya proses lahir dan mati, dan akhirnya mencapai surga. Kepada kronologi tersebut sepatutnya perhatian kita berikan, sebab didalamnya mengandung amanat agar kita mampu mensiasati usia pendek dengan karya maha besar yaitu memusnahkan proses lahir dan mati untuk mencapai surga sebagai hakekat sejati tujuan hidup manusia.

Di sini substansi masalahnya bagaimana bertindak agar martabat manusia yang suci dan terhormat tidak ternoda, melainkan semakin terangkat ke taraf kedudukan yang semakin luhur, suci dan mulia. Chiciro dalam lukisan “kerinduan akan ketakberhinggaan” menyatakan bahwa salah satu dari cirri manusia yang paling unik dan paling penting adalah kenyataan bahwa manusia dapat memahami gagasan tentang ketakberhinggaan. Kemampuan ini mewarnai seluruh hidupnya (Smith, 1985:30) Sarasamuccaya menegaskan bahwa manusia adalah makhluk utama diantara makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. Keutamaan manusia karena potensi sabda, bayu dan idep yang dimilikinya yatiu fasilitas yang lengkap untuk menghayati ajaran agama, menghayati siapa dirinya, menahayati siapa Tuhan, menghayati hubungan dirinya dengan Tuhan, dengan alam semesta, hukum karma, punarbhava dan seterusnya. Karena itu, didalam bhagavata purana maksud kehidupan manusia dijelaskan yaitu untuk memahammi hakekat kebenaran yang mutlak (jijnasya tattva jijnasya) jadi kalau dengan fasilitas yang lengkap mahnusia tidak menggunakan kesempatan yang langka ini untuk menghayati Tuhan sebagai hakekat kebenartan yang mutlak, sebagai ketakberhinggaan, maka manusia dianggap gagal memenuhi maksud kehidupannya sebagai manusia.

“Apabila manusia mengalpakan agama, lalu apakah yang ia maksudkan dengan kehidupannya sebagai manusia!” Pertanyaan tersebut disusun bukan berdasarkan angan-angan, melainkan berdasarkan kekuasaan kitab suci Veda yang lahir dari budi atau kesadaran agung. Karena itu pertanyaan tersebut sangat bermakna untuk menghayati keberadaan manusia yang sangat istimewa disbanding dengan makhluk hidup yang lainnya.

Arah petuah dari pertanyaan tersebut adalah sangat jelas bahwa dharma merupakan keniscayaan bagi keselamatan hidu; manusia. Dengan dharma manusia memusnahkan oroses lahir dan mati, pun dengan dharma manusia mengatasi bahaya yang paling mengerikan di dunia yaitu bahaya dilahirkan kembali ke dunia maya ini untuk menjalani hukuman dan penderitaan bagaikan nara pidana yang dimasukkan kembali ke dalam kurungan penjara.

IV. Bukan mati tujuan hidup

Rumput tumbuh di musim hujan dan kemudian mati di musim kemarau. Rumput tmbuh hanya untuk mati. dan perlu diingat bahwa rumput tidak pernah membuat sejarah didalam hidupnya analogi ini sangat bermakna sekali bafgi manusia untuk menghayati kedudukannya yang terhormat. Karena itu, sangat disayangkan sekali apabila diantara orang-orang yang beruntung dilahirkan sebagai manusia, tidak menggunakan kewsempatan yang berharga tersebut untuk menunaikan dharma, untuk memusnahkan proses lahir dan mati, malahan sebaliknya melakoni kehidupan seperti rumput yang tujuan hidupnya hanya untuk mati.

Kelahiran yang berharga sebagai manusia menjadi semakin berharga dengan pelaksanaan dharma. Demikian juga usia manusia yang pendek enjadi berharga karena dihabiskan untuk pelaksanaan dharma. Sebaliknya usia yang panjang dengan sendirinya tidak beguna apabila tidak dimanfaatkan untuk melaksanakan dharma. Dengan dharma manusia tidak hanya mengatasi usianya yang pendek, melainkan juga memberikan nilai, martabat dan keutamaan, “Ada keajaiban hidup yang hanya bisa ditanamkan oleh usia”, kata Confusius.

One comment

  1. menarik sekali artikel ini. kita jadi semakin memahami hakikat hidup, yaitu melakukan darma atau beribadah pada Tuhan. karena kepadanyalah kita kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *