Hari Galungan & Kuningan, Warisan Luhur Meraih Kemenangan


Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan Patitis Ikang jyanana sandhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep, artinya: Rabu Kliwon Dungulan namananya Galungan, arahkan bersatunya Rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran (Lontar Sunarigama).

***

Kemajuan teknologi informasi dan internet telah merubah tatanan kehidupan Masyarakat di seluruh muka bumi ini. Kini persaingan di segala lini kehidupan semakin ketat, untuk bekerja di perusahaan ternama di Indonesia, para pencari kerja tidak hanya bersaing dengan sesama warga negara Indonesia, merekapun harus bersaing dengan warga negara-negara ASEAN, karena batas-batas antar negara semakin tipis. Untuk bekerja di luar negeri, mereka bersaing dengan para pencari kerja dari berbagai negara. Mau tidak mau, suka tidak suka, generasi muda dihadapkan dengan persaingan yang semakin hari semakin ketat dan sulit. Bila mau bertahan dan berprestasi, seseorang harus terus meningkatkan diri lahir dan batin untuk mampu mengatasi kondisi hidup yang semakin berat.

Lalu adakah teknik warisan dari leluhur kita untuk meraih kemenangan? Konon leluhur kita bahkan bisa memenangkan persaingan hingga ke manca negara. Di sini, saya teringat dengan Hari Raya Galungan, perayaan kemenangan Kebaikan melawan Kebatilan. Peringatan yang dirayakan setiap 210 hari (6 bulan kalender Bali). Tepatnya pada hari Rabu, Kliwon, Wuku Dungulan dalam kalender Bali, tanggal 19 November 2025 (kalender masehi).

Guru & Kunci Hidup

Setiap kemenangan sekecil apapun melalui proses yang tidak mudah. Ia diawali dengan tekad untuk menang, usaha dan kerja keras, belajar tiada kenal lelah meningkatkan diri mengembangkan potensi diri dan menipiskan batas kelemahan diri. Mungkin ini alasan mengapa tokoh spritual negeri Tirai Bambu, Cina, Confucius mengatakan: “Kemauan untuk menang, keinginan untuk sukses, dorongan untuk mencapai potensi penuh Anda… ini adalah kunci yang akan membuka pintu untuk keunggulan pribadi.” Hal inipun diamini oleh Daisaku Ikeda, penulis, aktivis perdamaian dan tokoh spritual dari Negeri Matahari, Jepang; ”Untuk menang, seseorang harus memiliki Tekad kuat.”
Sangat beralasan pula kemudian banyak orang menjadikan kemenangan sebagai guru dalam kehidupan. Saat memenangkan suatu kompetisi atau perlombaan, hati menjadi riang gembira, ketika kalah seseorang bersedih. Saya teringat akan kejadian 20 tahun silam ketika kami memenangkan lomba cerdas cermat kimia yang diadakan oleh STKIP UNUD Singaraja, atau saat memenangkan lomba olimpiade matematika tingkat propensi Bali, hati ini gembira sekali. Apalagi setiap ada orang yang datang bertanya dan memuji kemenangan kami, rasanya pikiran melayang hingga langit ke tujuh. Demikian pula ketika tahun berikutnya gagal mempertahankan juara, hati ini sakit sekali rasanya. Bila diperhatikan mereka sifatnya sementara. Kadang bertahan beberapa bulan, kadang hanya beberapa hari. Namun bila tidak hati-hati kemenangan bisa menimbulkan kosombongan, keangkuhan. Kemenangan bisa menjadi cermin kekuatan atau kelebihan kita. Kekalahan bisa menjadi media instropeksi diri untuk lebih bersemangat dalam belajar dan berlatih.
Dari kacamata ilmu pengetahuan, hidup kita ini adalah kemenangan, karena pembuahan terjadi setelah sel sperma telah mengalahkan ribuan pesaingnya. Jadi kemenangan bukan suatu hal yang baru buat kita. Lebih lanjut tentang menang kalah ini, kadang pada kondisi tertentu orang tua mengajari kita untuk mengalah pada saudara-saudara kita untuk menjaga kerukunan hidup berkeluarga. Bila direnungkan lebih mendalam, pengajaran orang tua ini ada benarnya. Ketika kita mampu mengalah untuk kerukunan dan kedamaian, kita telah mampu menundukkan ego kita. Kemenangan yang sangat sulit diraih.

Kemenangan Abadi

Adakah kemenangan yang abadi? Di dalam lontar Sunarigama dikatakan, Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan Patitis Ikang jyanana sandhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep, artinya: Rabu Kliwon Dungulan namananya Galungan, arahkan bersatunya Rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Bila dikaji lebih dalam, “patitis” artinya mengarahkan atau menkonsentrasikan,”jnyana” artinya ilmu pengetahuan, “sandhi” artinya mensinergikan. Jadi, perayaan hari Raya Galungan Adalah untuk mengupayakan fokus dan sinerginya penerapan ilmu pengetahuan untuk memberikan pencerahan jiwa (pandangan terang) pada setiap insan. Ilmu pengetahuan ini membawa api penerang bagi kegelapan pikiran. Ketika pikiran terang menjadi sahabat sejati dalam hidup, dimanapun dan dalam situasi apapun kita bisa menang / berhasil, dan keberhasilan/kemenangan itu tidak bisa dicuri atau dirampas. Ini ditegaskan oleh Sang Buddha, ”Lebih baik menaklukkan diri sendiri daripada memenangkan seribu pertarungan/persaingan. Kemenangan menjadi milikmu, tidak bisa dirampas oleh siapapun.” Hal senada diungkapkan oleh Ilmuan tersohor Pythagoras, “Hal yang paling penting dalam kehidupan manusia adalah seni memenangkan diri dari pertarungan antara kebaikan dan kebatilan.” Inipun sejalan dengan pesan dari Kekawin Ramayana 1.4 ,yang ditulis pada masa kerajaan Mataram (570 M) “Ragadi musuh mapara, ri hati ya tong wanya. Tan madoh ring awak. Nafsu adalah musuh yang dekat, di dalam hati tempatnya tidak jauh dari diri sendiri.
Sarasamuscaya 74 menyatakan pikiran atau manah dibatasi oleh tiga batas, pertama, jangan menginginkan dan membenci milik orang lain, kedua jangan membenci semua mahluk, dan ketiga jangan meragukan hukum karma phala.

Hari Galungan mengajari kita bahwa kemenangan itu bisa diraih mulai dengan memuliakan tetumbuhan sebagai sumber kehidupan (makanan, oksigen, pakaian, rumah, penyimpan air, dll), pada Tumpek Pengarah (Sabtu Kliwon Wariga). Menghormati alam semesta yang dibentuk oleh lima unsur (tanah, udara, air, api dan ruang) yang dikenal pula dengan nama panca maha butha, dengan mecaru pada hari Anggara Kasih Julungwangi. Secara fisik, tidak membuang sampah sembarangan dimanapun kita berada, tidak mencemari udara, air, tanah, dan ruang. Kemudian, menjaga kesehatan lingkungan tempat suci, rumah, dan alam semesta pada hari Sugihan Jawa (Kamis, Wage Sungsang). Menjaga kesehatan lahir dan batin dengan menjalankan penyucian diri, tapa brata pada Sugihan Bali (Jumat Kliwon Sungsang).
Tatkala memasuki kehidupan nyata di tempat kerja atau di sekolah tantangan itu belum habis, pikiran tidak bisa terang bila dihinggapi oleh keinginan untuk berkelahi/bertarung yang tidak terkendalai, galung juga bermaknya perang, keinginan berkelahi/perang yang tidak terkendali berbahaya, bisa menghalalkan segala cara untuk kemenangan diri sendiri, sepak sana, terjang sini, tidak peduli dengan kepentingan dan penderitaan orang lain. Kekuatan ini disimboliskan dengan Butha Galungan yang ditaklukkan dengan tekad (nyekeb) kuat menguasai sifat negatif dalam diri pada hari Penyekeban, Redite Paing Dungulan.

Pikiran juga digoda oleh keingingan untuk menaklukkan (Dungul) orang lain, bila tidak terkendali akan mengarahkan pada cara-cara tidak etis dalam persaingan. Kecendrungan untuk menaklukkan orang lain ini disimboliskan dengan Butha Dungulan, misalnya sifat egois mau menang sendiri. Pengendalian kekuatan ini dilakukan pada hari Penyajaan (Saja = sungguh-sungguh), dengan kesungguhan, pada Soma Pon Dungulan.

Selain itu, keinginan berkuasa (Amangkurat) yang tak terkendalai membuat pikiran goyah, bisa muncul dalam bentuk kekuatan tamas, rakus, malas disimboliskan dengan babi, sehingga dipotong pada hari Penampahan Galungan, pada hari Anggara Wage Galungan. Ketika kita telah mampu membersihkan kekotoran secara fisik, mampu mengendalikan sifat-sifat negatif selanjutnya kita lebih memantapkan pikiran/niat (nyujatian kayun) dengan mengaturkan pejati di sore hari dan memasang Penjor.

Dalam prosesi meraih kemenangan ini dan sebagai mahluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri, membutuhkan keluarga dan teman dalam hidup, saat berinteraksi dengan mereka, mungkin saja ada perkataan dan prilaku kita yang membuat mereka tidak nyaman, ada saatnya untuk saling memaafkan. Memohon maaf secara lahir dan batin (mesila krama) kepada keluarga, sanak saudara, teman-teman, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat sekitarnya. Sehingga kebahagiaan ini terasa manis. Hari ini disebut dengan Manis Galungan.

Meraih prestasi lebih mudah dari pada mempertahankan prestasi, karena seringkali sifat sombong manusia menghampiri manakala ia berhasil, untuk itu kemenangan atau keberhasilan ini harus dipertahankan dengan memohon anugrah dari Tuhan dalam manifestasi-Nya dari segala penjuru arah mata angin (Nawa Sangga) dengan melakukan tapa brata selama sembilan hari, mulai hari Manis Galungan Hingga penampahan Kuningan. Keberhasilan melakukan tapa, brata selama sembilan hari, dirayakan dengan membuat nasi kuning, pada hari Kuningan. Menghaturkan rasa terimakasih kepada Leluhur, Tuhan dan segala manifestasinya dengan melakukan persembahyangan. Segala kebaikan yang telah dipupuk hendaknya tetap dipertahankan selama 35 hari sejak hari Galungan. Bila segala sesuatu dilakukan secara terus-menerus selama 35 hari maka dia akan menjadi habit atau kebiasaan. Dengan kata lain kebaikan/kebenaran telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Akhir dari 35 hari ini disebut dengan Pegatuwakan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan. Seiring dengan berjalannya sang waktu, kebiasaan kemungkinan bisa luntur, oleh karenanya perlu diingatkan kembali (refresh), inilah mungkin alasan kenapa Galungan dan Kuningan kemudian dirayakan secara berulang, setiap enam bulan sekali.

Jadi, perayaan Hari Galungan dan Kuningan ini bukan semata praktis spiritual belaka, ternyata ada sebuah metoda praktis, sistematis yang mengantarkan kita meraih kemenangan (kesuksesan).

SELAMAT HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN
Made Mariana S.Mn., MSc. M.T., Kamis, 15 November 2025, Al Dannah City -Abu Dhabi – UAE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *