I Tuung Kuning

Dikisahkan, I Tuung Kuning adalah anak yang tidak diinginkan karena ia anak perempuan, sedangkan yang diinginkan oleh ayahnya adalah anak laki-laki. Ketika ibunya hamil tua, ayahnya akan bepergian dan berpesan pada ibunya (aslinya dalam bahasa Bali), “Wayan, besok aku akan bepergian jauh, kamu sedang hamil besar. Belum pasti berapa lama aku pergi. Siapa tahu, sebelum aku kembali kau melahirkan, kalau bayinya laki peliharalah baik-baik, kalau perempuan bunuh saja, cincang dan kemudian dikasi ayam, aku tidak senang punya anak perempuan.”

Singkat cerita, anak yang dilahirkan perempuan, tapi ibunya tidak membunuhnya melainkan dititipkan di tempat neneknya dan diberi nama I Tuung Kuning. Setelah berbulan-bulan pergi, ayah I Tuung Kuning datang dan mengetahui kalau anak yang dilahirkan istrinya adalah anak perempuan. I Tuung Kuning lalu dibawa ke hutan dan akan dibunuh. Tapi perbuatan ayah I Tuung kuning diketahui oleh para bidadari, mereka menyelamatkan I Tuung Kuning dan tubuh I Tuung Kuning diganti dengan batang pisang.

Ayah I Tuung Kuning melihat batang pisang seperti I Tuung Kuning. Kemudian batang pisang itu dicincang dan dikasi makan ayam. Namun, karena makan batang pisang, akhirnya ayam milik ayah I Tuung Kuning pun mati semua. Setelah ayamnya mati semua, barulah ayah I Tuung Kuning menyesal dan menangis sejadi-jadinya. Sampai-sampai ayah I Tuung Kuning kurus karena tidak makan-makan. Melihat penyesalan ayahnya, I Tuung Kuning merasa kasihan dan minta pada bidadari untuk turun ke bumi.

Maka, ayah dan ibu I Tuung Kuning sangat bahagia karena I Tuung Kuning ternyata belum mati. Ayahnya juga berjanji untuk menyayangi I Tuung Kuning. Dari cerita ini mungkin pembaca bisa mengambil pelajaran bahwa sebelum orang berbuat sesuatu, harus dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menyesal kemudian.

3 Comments

  1. om swastyastu,

    betul sekali pak Putu…
    jangan bedakan anak karena jenis kelamin…
    kasih sayang harus diberikan rata, tapa seorang wanita bagaimana kita bisa lahir….?

    Santih
    MM

  2. Susah sekali menyadarkan ayah (orang bali) . Hal ini berkaitan dengan PURUSA-PERDANA/ AHLI WARIS. Di Singaraja mungkin paling sulit. Di Tabanan lebih”radikal”, BISA NYENTANA dsb. (bisa begitu , mungkin krn di TBN ada sanggah gede dan sanggah kecil(yang tertua HANYA KAKAK. Di sanggah Singaraja sampai satu KLEWARAN( 8-10 keturunan masih 1 sanggah, . Sanggah saya ada 100kk penyungsung sanggah,gampang sekali diketahui kalau nyentana(pasti tak disetujui ke 100 kk itu. Untk yg dari SGR agar direnungkan/diskusikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *