Pertamakali saya datang ke Saudi Arabia, tanggal 18 Oktober 2002. Saya sangat terkesima melihat betapa para ekspatriet dari berbagai negara begitu fasih dalam berbicara dan begitu percaya diri setiap kali mereka tampil.
Saat itu saya merasakan betapa diri ini sangat minder berhadapan dengan mereka. Saya kerap merasa grogi setiap kali berhadapan dengan mereka. Namun setiap kali inget dengan semangat juang Bung Karno yang menempatkan bangsa ini pada tempat yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain, semangat untuk bersaing tumbuh kembali sehingga perasaan minder alias inferior semakin berkurang sejalan dengan berjalannya sang waktu.
Dari sekian banyak para ekspatriet, banyak dari mereka yang menarik perhatian saya, mengikuti pesan yang tertulis dalam karya suci para leluhur yang mengatakan: ” Belajarlah dari lingkungan, mata kita dua, telinga kita dua dan mulut ini hanya satu, banyak-banyaklah melihat, mendengar dan hati-hati dalam bicara”. Maka setiap hari saya berusaha mengambil sisi positip dari apa yang saya lihat. Diantara para ekspatriet yang paling menarik perhatian saya adalah pekerja-pekerja dari India.
Mereka menguasai hampir semua lini pekerjaan di Saudi. Mulai dari pekerjaan yang paling rendah sampai pada posisi-posisi tinggi di perusahaan-perusahaan bergengsi seperti Aramco, Sabic, Tasnee, Khayan, dll. Kebanyakan dari mereka adalah vegetarian, sebagian kecil ada yang non vegetarian. Dalam soal makanan mereka sangat efisien, membawa makanan secukupnya. Mereka sangat suka makan bawang sehingga tidak heran kalo musim panas walaupun cuma ada satu orang india di dalam bus kami, semua dari kami harus menutup hidung karena hembusan wangi bawang mentah.
Tanpa sengaja saya sempat memiliki beberapa temen akrab dari India, Mr. Ramarao dan Mrs. Laksmi, mereka adalah dua pasang sejoli yang memiliki kharakter yang bertolak belakang, Mr. Ramarao orang yang sangat praktis sehingga tidak percaya dengan segala macam takhyul dan kepercayaan-kepercayaan yang lain yang sifatnya gak pasti. Dia seorang Electrical Supervisor di tempat kami bekerja. Mrs. Laksmi seorang yang sangat tekun dan kuat sama agama yang dianutnya, dia sangat suka membaca dan menulis, mereka sering sekali debat, hampir tidak pernah ada waktu tanpa debat dan diskusi, antiknya lagi keduanya tidak pernah ada yang mau mengalah, tapi mereka tidak saling benci alias mereka tetap rukun hingga berbuah dua orang putra yang kini dua-duanya telah meraih MBA di Amerika dan bekerja di negeri Paman Sam tersebut. Beliau sangat rajin mengingatkanku menabung.
Indian (begitu kami menyebut orang-orang dari India, mereka rata-rata memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Mampu bertahan pada suhu yang ekstrim, terlalu panas maupun terlalu dingin. Mereka sangat percaya diri. Dalam permainan kata dan dialog mereka jagonya. Rasa nasionalisme mereka cukup tinggi, walaupun misalnya mereka di luar perusahaan tidak begitu akrab, namun kalo sudah membahas masalah pekerjaan mereka saling dukung mendukung dan pinter sekali mencari muka.
Tak heran salah seorang temen kami dari Philipine pernah bertutur bahwa salah seorang sobat karibnya dari Eropah memberikan pertanyaan: “If you have only one bullet, and in front of you there are one indian and one king cobra, which one you shoot first?” Jika anda memiliki sebuah peluru, dan di depan anda berdiri seorang india dan seekor ular kobra yang manakah yang anda tembak pertama?. Dengan senyum lebar sang teman menjawab orang india, kenapa? karena ular kobra tidak pernah menyerang dari belakang, dan dia tidak menyerang kalo tidak terganggu. Kalo orang india bisa menyerang dari mana saja walaupun tidak kita ganggu…
Di sisi lain kita tidak bisa menutup mata akan prestasi yang telah mereka raih, hingga kini mereka telah mengoleksi 8 hadiah nobel baik dibidang sains, sastra maupun ekonomi. 40% karyawan NASA, salah satu pilar teknologi Amerika adalah orang India. Di Bidang Spritual negeri ini telah melahirkan banyak agama dan melahirkan banyak tokoh-tokoh legendaris: Maharsi Mahesh Yogi dengan Trancendental Meditation, Sri Sri Ravisangkar dengan Art of levingnya, Sai Baba dengan ajaran Sai Baba, Srila Prabupada ajaran Krisna, Svami Vivekananda, Sangkara Acarya dengan Filsafat Advitanya, Rsi Vatsyanyaya dengan Kamasutranya, Guru Nanak dengan Jains, Budha Gautama dengan ajaran Buddha.
Yang lebih fantastis lagi, orang terkaya di dunia tahun ini juga diraih oleh pemilik perusahaan Reliance salah satu perusahaan terbesar di India. Dalam pikiran saya pingin sekali rasanya saya bertandang ke negeri anak benua (India). Setiap kali rencana itu tergulir di pikiran saya, ada saja halangan yang mengganggu sehingga tidak jadi mengunjunginya.
Tanpa pernah saya duga atasan saya menugaskan saya untuk misi khusus bersama beberapa rekan-rekan yang lain ke India, tepatnya ke Mumbai kota bisnis dari negeri anak benua ini. Betapa seneng hati ini, pikiran saya menerawang jauh berusaha membayangkan seperti apasih negeri India yang telah melahirkan banyak orang-orang hebat, bahkan pada jaman penjelajahan samudra dulu, India merupakan tujuan utama untuk mendapatkan Three G (Gold Glory Gospel). Bahkan karena tenarnya nama negeri ini sehingga orang-orang spanyol yang sampai ke Amerika memberikan nama penduduk pribumi negeri paman sam itu dengan sebutan Orang Indian.
Gambaran yang saya terima, negeri ini pasti telah memiliki perangkat teknologi yang canggih, memiliki banyak bangunan-bangunan yang megah seperti Taj Mahal yang menjadi salah satu keajaiban dunia. Namun hal ini tidak semua benar, saat saya tiba di sana, India ternyata jauh dari yang saya bayangkan. Terutama di Mumbai kota bisnis yang penuh sesak dengan penduduknya kurang lebih sekitar 18-20 juta dalam satu kota. Bandar udara International di Mumbai atapnya udah pada bocor, Air conditioning tidak bisa maksimal sehingga mereka harus menggunakan kipas angin seperti kita jumpai di beberapa pabrik tekstil. Duty Free Shops di Bandara sangat terbatas, tidak seperti di Jakarta, Dubai atau Abu Dhabi
Awalnya saya berfikir bahwa Jakarta adalah daerah yang paling padat. Dimana kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari. Tapi ternyata Mumbai jauh lebih parah, mobil-mobil mulai dari yang paling reot, sampai yang paling bagus bisa kita temukan, kita sering melihat mobil roda tiga seperti bajaj di Jakarta tapi tidak dengan pick-up roda tiga. Mungkin angkutan barang yang kecil ini hanya kita temukan di India. Kendaraan bergerak tanpa mengikuti aturan seperti layaknya di jalan raya. Mereka bergerak kadang menyilang kadang lurus, tapi seolah para pengemudi telah terbiasa dengan hal ini. Para polisi juga dengan santai berdiri dan sepertinya tidak peduli dengan gerakan para pengendara yang tak beraturan.
Hal lain yang sangat menarik perhatian saya adalah restaurant, di Mumbai sangat sulit mencari KFC, MC Donald, PITZZA, kami pernah berkeliling hingga 3 jam di tengah kota Mumbai hanya mencari Pitzza Hut, maklum sebagian team kami adalah orang bule yang tidak terbiasa makan-makanan India. Mereka orang India sangat mencintai produknya sehingga jarang ada francising restaurant atau mal-mal besar seperti di Jakarta. Suatu malam kami diajak makan malam di salah satu restaurant terbaik di kota ini. Sungguh sangat antik cara pelayanan mereka menyajikan. Makanan yang kita pesan tidak dihidangkan di meja makan seperti layaknya restoran-restoran di Indonesia atau di Timur Tengah. Di meja makan hanya terhidang piring kosong, para pelayan membawa nasi, lauk, roti, kobus, kabab, dll berjalan memutar mengelilingi kita sambil menawari kita, kalo kita menerima tawarannya baru di taruh di piring kita secukupnya misalnya satu sendok/dua sendok tergantung keinginan kita, kalo menolak tawaran mereka maka piring kita akan tetap kosong. Para pelayan terus berputar mengelilingi kita sambil menyendok makanan dalam tempat yang tampak seperti kendi, mereka tidak berhenti berputar menawari kita hingga kita puas alias kenyang. Tidak ada makanan sisa yang terbuang bener-benar sangat efisien.






