Maharsi Sukha (www.google.com)

KISAH MAHA RSI SUKHADEVA / RSI SUKA

Maha Rsi Sukhadeva atau Maha Rsi Suka adalah putra dari Rsi Agung Vyasa Deva, Maharsi yang mengkompilasi Catur Veda. Cerita yang sangat indah, penuh dengan pelajaran bermakna, cerita yang mengisahkan bagaimana Maharsi Sukha mendapatkan Gurunya. Ia sangat cerdas dan rajin belajar, Ayahnya seorang Maharsi hebat, tentu saja putranya juga hebat. Ia belajar sangat cepat, di usia sangat belia ia sudah menguasai semua pengetahuan tentang sastra-sastra suci. Bila seorang ayah master dibidang tertentu, wajar bila sang anak akan belajar sangat cepat, karena ia tumbuh di lingkungan seperti itu.

Jadi, di usia yang sangat belia Ia telah menguasai semua pengetahuan yang tentang sastra-sastra suci, walaupun ia telah memiliki segala pengetahuan tetatapi ia tidak mengalami realisasi diri, tidak mengalami pencerahan. Karena ia sangat bangga dengan kemampuannya.

Suatu hari ia ingin mengunjungi sebuah kuil Visnu di daerah yang bernama Visnu Puri. Ia pergi untuk memujua Visnu, karena Visnu adalah Ista Dewata dari Maharsi Sukha. Ia ingin memuja Narayana atau Vishnu, Ia datang ke Kuil itu. Namun tradisi di tempat itu, meminta bahwa siapapun yang masuk ke kuil itu, maka ia harus menyebutkan nama Gurunya. Maka ketika Maharsi Suka memasuki kuil itu, satpam (penjaga kuil) tersebut menanyakan siapa gurunya. Sukha mengatakan, saya tidak punya Guru, petugas di sana mengatakan, mohon maaf Anda tidak diperbolehkan masuk, karena Anda tidak punya Guru. Hanya bila Anda telah diinisiasi oleh seorang Guru. Sukha sangat kesal, ia mengatakan bagaimana bisa saya seorang putra Maharsi terhebat jaman ini, saya telah memiliki semua pengetahuan tentang sastra-sastra suci, namun tidak diperbolehkan memasuki kuil ini. Maaf Tuanku, aturannya seperti ini, saya tidak bisa mengijinkan Anda masuk.

Disinilah kemudian masalahnya, Rsi Sukha pulang menjumpai Ayahandanya, mengetahui bahwa Ayahandanya seorang Maharsi hebat, tentu saja ia bisa berguru padanya, demikian pikiranya. Sesampai di rumah, Maharsi Sukha mengatakan, Ayah, saya mesti memiliki guru, Ayah seorang Guru hebat, yang telah mengkompilasikan ke-empat Veda, terimalah saya menjadi muridmu, inisiasilah saya secara formal menjadi muridmu. Sehingga saya bisa memasuki kuil Vishnu.

Maharsi Vyasa sangat bijak, Ia mengetahui benar bahwa ia tidak bisa menjadi Guru bagi putranya, karena ia tahu bahwa putranya sangat sombong/bangga dengan kemampuannya, ia memiliki ego yang tinggi, ia berhenti sejenak dan mengatakan, maafkan Ayahmu Nak, Aku tidak bisa memenuhinya. Orang yangpaling tepat menjadi gurumu adalah Raja Janaka. Silahkan pergi menjumpainya dan mohonlah agar Ia berkenan mengangkatmu menjadi muridnya. Sukhadeva sangat kaget, ini pasti kesalahan, bagaimana mungkin Ayah memintaku pergi menemui Raja Janaka, sebagai muridnya. Anda tahu kita ini berasal dari kasta Brahmana dan saya telah menguasai semua sastra-sastra suci. Saya menjalani hidup sebagai seorang Sanyasi. Sementara Raja Janaka hidup di alam duniawi, Ia seorang kepala rumah tangga, Ia bukan seorang pertapa. Ia mnikmati semua kehidupan duniawi, akan menjadi guru saya?

Anakku, dialah orang yang paling tepat menjadi gurumu. Apa yang terjadi kemudian? Dua belas kali Maha Rsi Vyasa mengirim Rsi Sukha ke Raja Janaka. Tapi ia tetap tidak jadi menemuinya. Ketika ia pergi ke kerajaan Raja Janaka, di sana ia melihat semua aktivitas duniawi. Ini kesalahan besar, Ia tidak mungkin menjadi guru saya, ia pulang kembali ke rumahnya. 12 kali hal ini terjadi.

Deva Rsi Naradha, seorang Rsi yang sangat hebat, Bhakta terbaik Vishnu, melihat kejadian itu merasa iba kepada Sukhadeva. Walaupun ia bangga, sombong dengan kemampuannya, tetapi semua kejadian/petaka ini terjadi dimotivasi oleh keinginan untuk memuja Vishnu, Ia seorang bhakta yang taat, Ista Dewata yang ia sembah juga. Ia memutuskan untuk menolong Sukhadeva.

Ia turun menjelma menjadi seorang Brahmin yang sangat tua, dekat dari sebuah sungai yang akan dilalui oleh Sukhadeva dalam perjalanan pulang dari Kerajaannya Janaka menuju rumahnya. Ia mengambil bentuk seorang Brahmana dan mengisi keranjang dengan tanah, membuangnya ke sungai.Dan Sukhadeva menyaksikan itu, berfikir, lihat orang tua ini berusaha membuat bendungan hanya dengan melemparkan pasir/tanahdan keranjang itu ke dalam sungai. Ia berfikir pekerjaan ini tidak akan berakhir, Brahmana Tua ini melakukan pekerjaan sia-sia saja, setiap kali tanah dan kerangjang dilempar tanahnya akan dibawa arus. Kecuali ia melakukannya dengan tepat, maka mustahil ia bisa membuat bendungan dengan cara ini.

Ia merasa iba dan kemudian turun ke pinggir sungai menyapa Brahmana Tua. Hi Brahmin, Anda melakukan pekerjaan sia-sia saja, setiap kali Anda lempar pasir dan tanah itu ke sungai, mereka akan dibawa arus. Kenapa Anda tidak melakukannya dengan benar, ambil kayu bentangkan ke sungai, baru kemudian diisi dengan tanah atau lumpur atau pasir.

Narasa tersenyum dan berkata, “Anak muda, Saya kira Anda benar, Anda mengatakan saya seorang yang tolol menyia-nyiakan waktu saya, tapi saya tidak sebodoh anak yang bernama Sukhadeva, dengan melakukan pekerjaan seperti ini saya hanya kehilangan satu hari, tapi Sukhadeva telah kehilangan 12 kali kesempatan dari 14 kesempatan yang ia miliki dari buah karma bainya yang telah ia tanam selama ini. Dengan berpikir dan berkata-kata menyakitkan tentang Guru yang telah mengalami pencerahan, mengalami realisasi diri. Begitu ia mendengar berita ini, ia jatuh pingsan, Ia sangat kaget dan menyadari bahwa semua karma baik dan yadnya, seva, puniya yang telah ia kumpulan dengan tidak mudh, ia sia-siakan begitu saja. Semua itu termakan/terpakai karena ia berbicara tidak baik tentang Guru yang telah mengalami pencerahan Raja Janaka. Ia sangat terlukai, ia tidak tahan mengendalikan rasa sakit ini bagi anak muda, menyebabkan ia jatuh pingsan.

Ketika ia tersadar, Brahmana tua itu telah lenyap, yang sesungguhnya Deva Rsi Narada. Ia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan besar, akhirnya ia memutuskan merubah arah, tidak lagi menuju ke rumahnya tapi ia balik lagi ke Kerajaan Prabu Janaka. Ia sampai di gerbang kerjaan. Para pengawal kerajaan menahannya, Sukhadeva berkata, Saya Sukhadeva putra Maharsi Veda Vyasa datang menemui raja Janaka, tolong sampaikan kepadanya. Saya ingin bertemu. Prajurit itu kemudian menghadap raja Janaka dan menyampaikan bahwa Sukhadeva Putra Maha Rsi Veda Vyasa datang menghadap. Raja Janaka memerintahkan prajurit untuk menyampaikan pesan kepada Raja Janaka untuk menunggu. Ia memutuskan untuk menuggu Raja Janaka di tempat ia berdiri sekarang, dikisahkan Ia menunggu di sana selama tiga sampai empat hari.

Tanpa disengaja Sukhadeva berdiri menunggu di sisi tembok dimana masyarakat membuang sampah. Setiap kali masyarakat membuang sampah, maka seluruh sampah itu menutupi tubuhnya, tetapi ia tidak bergeming, ia tetap berdiri menunggu di sana. Empat hari kemudian, Raja Janaka berkata pada prajuritnya, Prajurit bukankah Sukhadeva datang ingin menjumpaiku, dimanakah ia sekarang? Ia tetap berdiri di tembok dekat gerbang kerajaan paduka, tentu saja prajurit menjelaskan semua apa yang terjadi pada Sukhadeva. Raja Janaka mengetahui bahwa Sukhadeva selalu ditutupi sampah seluruh tubuhnya setiap kali rakyat membuang sampah ke tempat pembuangan sampah itu.

Raja kemudian memerihtahkan pengawalnya untuk mempersilahkan Sukhadeva memasuki gerbang, memerintahkan para dayang-dayang untuk membersihkan dan memberika ia pakaian mewah yang layak bagi putra seorang Maharsi Agung. Kemudian Sukhadeva menghadap, Raja menyapa dan menguncapkan selamat datang pada Sukhadeva. Baru saja mereka berbincang-bincang, salah satu petugas/mentri menghampiri raja lari tergopoh-gopoh,”Maafkan hamba datang menggangu pembicaraan, telah terjadi kebakaran di salah satu bangunan penting kerajaan, apinya sangat besar.” Dengan tenang raja berkata, kalo memang terjadi kebakaran, biarkan saja, mungkin itu telah kehendak Tuhan.

Sukhadeva, kaget menyaksikan respon Raja Janaka, Raja macam apa ini, mengapa ia tidak melakukan sesuatu untuk memadamkan api? Baru saja ia selesai berpikir, tiba-tiba seorang mentri lainnya datang menghadap, “Ampuni hamba paduka Raja, api telah sampai ke Istana, apa yang mesti kita lakukan.” Sekali lagi, raja hanya tersenyum dan berkata, kalo itu terjadi, terjadilah, itu memang sudah kehendak Tuhan. Asap mulai memasuki ruang tamu kerajaan dimana Sukhadeva dan Raja Janaka bercakap-cakap, mereka bisa merasakan panasnya api yang membara mendekati mereka. Sukhadeva berkata dalam hati, raja ini gila, ia tidak melakukan apapun saat bencana api mengancamkerajaannya, raja macam apa ini. Ia mengabil tas lontar yang ia bawa, ia mau berlari, tapi Raja menghentikannya, tunggu sebentar Nak kata Raja. Hi Sukhadeva, beritahu aku, Anda mengatakan bahwa kedatanganmu ke sini untuk menjadi muridku, tapi mengapa engkau mau lari? Sekarang kasi tahu saya siapa yang lebih terikat dengan duniawi? Saya yang tidak merasa ada masalah walaupun seluruh kerjaan ini terbakar habis, Kamu yang sangat khawatir terhadap nyawa dan barang-barang yang kau bawa? Karena Raja melihat Sukhadeva yang mengambil tasnya dan akan berlari menyelamatkan diri. Katakan padaku siapa yang lebih terikat?

Sukhadeva menyadari bahwa, Dia orang suci yang sangat hebat, Ia seorang yang sangat tenang dan mengembalikan semua bagian kerjaan yang terbakar, Anak muda itu, Sukhadeva berlutut dan mohon untuk diinisiasi menjadi muridnya. Sudikah engkau menerimaku menjadi muridmu, aku telah menerima engkau menjadi Guruku, aku menyadari betapa hebatnya engkau.

Raja Janaka tersenyum dan mengatakan, saya mohon maaf saya tidak bisa menerimamu menjadi muridku, kamu tidak bisa saya inisiasi karena kamu belum pantas menjadi muridku. Ini membuat Sukhadeva kaget dan shock, Ia mengira bahwa dirinya telah melakukan pekerjaan mulai dengan menerima Raja Janaka menjadi gurunya, dan ternyata Raja Janaka menolaknya. Tapi ia mengatakan, Anda seorang tamu Agung yang datang ke istana, Raja memerintahkan mentrinya untuk mengadakan pesta besar di seluruh kota raja, menampilkan semua jenis pementasan, tari-tarian, sulap, sirkus, semua jenis mungkin ada saat itu, disertai dengan makanan-makanan yang terbaik dan terlezat untuk tamu istimewa kita. Sukhadeva silahkan kamu pergi berkeliling kerajaanku, seharian, menyaksikan semua keindahan pementasan yang aku buat, nikmati semua tari-tarian, wayang, sirkus, dan makanan, yang telah kami buat untukmu. Ia memberikan cangkir penuh dengan susu, Raja melihat ke kepala para prajurit/penjaga, ia berkata, silahkan antar tamu istimewa kita berkeliling kerajaan, pastikan bahwa susu yang ada di dalam cangkir yang ia genggam tidak tumpah sedikitpun. Bila tumpah, segera penggal saja kepalanya. Kemudian ia memandang Sukhadeva dengan senyum manis. Selamat Menikmati. Sukhadeva kembali setelah hari gelap. Raja Janaka bertanya padanya, apakah kamu menikmati semua pesta yang telah saya adakan untukmu? Pementasan apa yang paling Anda nikmati, Anak malang ini kemudian berkata, Yang Mulia Rajaku, saya berusaha untuk menikmati setiap pementasan, tapi saya tidak melihat apapun, seluruh konsentrasi saya ada pada secangkri susu ditangan saya ini. Karena jika susu itu tumpah satu titik saja maka Anda akan segera memenggal kepala saya.

Maka saya tidak melihat apapun, tidak bisa menikmati apapun. Sekarang Raja Janaka memberitahunya, sekarang kamu tahu bagaimana saya menjalani kehidupan keseharian saya. Ia mengatakan, saya hidup sebagai raja, penuh dengan segala kemewahan ini, tapi seluruh fokus saya pada Tuhan, Kesadaran Agung, itulah cangkir saya. Walaupun saya hidup sebagai kepala rumah tangga, menjalani kehidupan duniawi, di luar sana saya melakukan semua aktivitas ini, tadi di dalam hati saya, saya memegang cangkir ini, saya tidak mau setitikpun kesadaran saya jatuh, fokus saya sepenuhnya pada Tuhan Yang Maha Esa, pada Kesadaran Agung. Perbedaannya adalah, pikiranmu sangat terkonsentrasi karena ketakutan kehilangan nyawamu. Tapi pikiran saya terkonsentrasi bukan karena ketakutan tapi karena cinta kasih, cinta kepada Yang Maha Kuasa. Cangkir ini seperti tubuh kita, dan susu ini seperti pikiran kita, rasa susu ini adalah spiritualitas, semua hal-hal baik dan nilai-nilai yang dianut, dan semua festifal ini mereka seperti segala bentuk suka/kegembiraan yang mampir menghampiri kita. Saya tidak mau kehilangan walau hanya setetes pengetahuan spiritual saya untuk semua tujuan-tujuan, keinginan dan kegembiraan duniawian.

Saya tidak mau kamu kehilangan setetespun, sekrang kamu telah menyadarinya, saya bisa menginisiasi kamu, sekrang kamu siap, sekrang kamu mengerti apa yang mesti kamu pahami. Ia kemudian menginisiasi Sukhadeva sebagai muridnya, Ia menjadi gurunya, Sukhadeva sangat rendah hati, sopan dan menghormat dalam kepada gurunya.

Ketika ia sampai di rumah, Ayahandanya bertanya padanya, Ia menghormat dan berlutut dikaki Ayahandanya, ia sangat bahagia. Anakku, ego, kebanggaan/kesombongan yang kamu miliki dan keraguanmu pada Gurumu, ini adalah dua hal penghalang terbesar untuk meraih pencerahan. Pertama ego yang kedua keraguan pada gurumu. Kamu telah mampu melewati kedua tembok penghalang ini, maka kamu bisa melanjutkan perjalanan spiritualmu. Guru dibutuhkan untuk hal-hal mendasar untuk sembahyang di kuil, dan untuk meraih alam Vishnu, untuk menyadari Yang Tertinggi, yang Termurni, Kesadaran Agung. Kemudian dikisahkan Sukhadeva menjadi seorang yang sangat sederhana, rendah hati, menyadari pentingnya seorang Guru, kemudian ia menjadi Rsi yang sangat hebat, dan mengalami realisasi diri dan mengajar bukan hanya pada munusia juga pada para Gandharwa, mahluk-mahluk hidup yang lebih tinggi dari manusia.

Abu Dhabi – United Arab Emirates, 05 June 2020, Sukra, Paing, Ugu

Made Mariana

Q-3433

ADNOC Housing Complex – AlRuwais – Abu Dhabi – UAE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *