Learning Style

Manusia merupakan mahluk yang unik. Dalam melakukan aktivitasnya mereka unik satu dengan yang lainnya. Setiap dari mereka memiliki cara tersendiri dalam melakoni hidupnya, dalam memenuhi kehidupannya. Manusia merupakan mahluk tertinggi di maya pada ini. Manusia dikarunia pikiran dan kecerdasan yang membedakannya dari mahluk yang lain. Dengan pikiran (jnana) dan kecerdasan (buddhi) ini manusia bisa belajar untuk meningkatkan diri. Menambah pengetahuannya, meningkatkan keahliannya dan memperbaiki prilakunya sehingga menjadi insan yang profesional.

Kalo dikelompokkan ada empat kelompok orang dilihat dari cara mereka belajar (learning style):

1. Pragmatist: Bagaimana saya mengimplementasikan hal itu dalam pekerjaan saya…?

Mereka sangat suka mencoba suatu ide, teori atau teknik baru dan berusaha mencari jalan bagaimana bisa mengimplementasiakan ide-ide, teori atau teknik itu dalam setiap pekerjaannya. Mereka selalu mencari teori-teori atau ide-ide baru untuk mendapatkan pengalaman dari aplikasi teori tersebut.

2. Activist: Saya harus melakukannya, saya harus mencobanya..!

Mereka cendrung untuk bertindak terlebih dahulu baru memikirkan konsekuensinya. Mereka belajar dari praktik. Mereka tidak skeptis dan terbuka sehingga mereka sangat entusias terhadap segala sesuatu. Mereka menikmati saat ini, di sini, mereka bahagia dengan melakukan eksperimen.

3. Theorist: Bagaimana sesuatu bisa cocok dengan hal itu..?

Mereka cendrung untuk menjadi perfectionists, mereka tidak pernah berhenti sebelum segala sesuatu jelas, dan dapat dianalisa/dijelaskan secara logis. Mereka tertarik terhadap hal-hal mendasar, asumsi dan prinsip-prinsip, teori, model dan sistem.

4. Replector: Saatnya kita memikirkan tentang hal ini..

Mereka cendrung berdiri di belakang, mengamati sesuatu dari segala sisi. Mereka mengumpulkan data secara lengkap kemudian mempertimbangkan secara matang sebelum datang kepada kesimpulan. Karena mereka membahas, menganalisa terlalu dalam sehingga cendrung mengambil keputusan agak lama. Dalam suatu pertemuan mereka lebih suka ada dibelakang, mereka menikmati mengamati tindakan orang lain, mendengarkan pendapat orang lain, sebelum mereka membuat suatu pendapat.

Karena perbedaan dalam belajar, maka kitapun harus mengerti learning style kita agar kita bisa belajar secara optimum. Demikian pula saat kita ditunjuk untuk menjadi pembicara atau menjadi trainer maka hal penting yang harus kita ketahui dari paserta adalah learning style mereka.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah… Apakah Anda telah mengetahui learning style masing-masing…?

5 Comments

  1. Berbicara ttg ‘learning style’, tentu tak lepas dari metode.
    Memilih metode dalam proses belajar berkelanjutan, tidak hrs terpaku pd salah satu opsi style di atas.
    Kalaupun hrs memilih, style tsb meerupakan ‘karakter’ dari proses belajar.

    Hidup di era multidimensi saat ini, acap x membentuk manusia2 dewasa yg multikultural dan transexual.
    “jadilah diri sendiri” tdk berarti “hanya utk sendiri’.
    “mempelajari diri sendiri” bisa berarti “temukan yg lain lalu jadikan intisari”…
    Dalam pepatah ada istilah ‘Tepuk dada, tanya selera’.

  2. Mas Arif bener,
    Jadilah diri sendiri,

    Namun pada saat kita memberikan sebuah kursus atau pelatihan pada orang lain, kita harus cepat memahami bagaimana learning style dari orang lain (participant/peserta), selanjutnya menerapkan metode yang tepat, agar output yang didapatkan bisa optimum.

    Hidup kita terbatas, oleh karena itu untuk mempercepat proses belajar maka kita sangat perlu menggunakan pengalaman, ide-ide dan metode dari orang lain, tentu saja menyesuaikan dengan keadaan diri sendiri.

    Salam
    Bapaknya Diva

  3. Yup..istilahnya, kecenderungan thd suatu “karakter”. Berfungsi sbg katalis proses pembelajaran. Asumsi saya, proses pembelajaran merupakan subjek itu sendiri :-). Dan kita sbg objek, diharapkan selalu bersiap diri utk belajar berkelanjutan. Tentu saja tanpa hrs ada pemaksaan proses.

    Salam
    Ortunya Aqila

  4. Memang sungguh menarik mempelajari proses belajar itu sendiri,
    Kadang budaya juga tidak bisa diremehkan dalam suatu proses belajar,
    Menurut saya pribadi proses belajar adalah bagian dari hidup itu sendiri, yang merupakan indikasi hidupnya manusia.

    Karena proses belajar inilah yang membedakan kwalitas orang yang berangkat dari latar belakang yang sama.

    Belajar sambil gelar tiker, makan jagung rebus, plus teh poci atau kopi robusta..enak bener…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *