“Memegang erat pikiran negatif mengantarku ke neraka, Memegang erat pikiran positif mengantarku ke surga, Melampaui keduanya mengantarku pada Hyang Maha Sunyi.
***
Di Bali, pada puncak setiap Padmasana, terukir indah ukiran Sang Hyang Acintya, “Dia Yang Tak Terpikirkan” pikiran tidak mampu menyentuh-NYA. Setiap kali melihat ukiran itu, ada sesuatu berbisik dalam batin ini, bahkan tatkala berada di tepian gurun Rub Al Khali—pun, suara itu terus terdengar, ia seakan mengetuk batinku, hendak menyampaikan sesuatu, di keheningan di padang pasir terdengar suara, “lampauilah pikiran maka akan tercapai keheningan (nyepi) atau shantih, hanya dalam sepi engkau berjumpa Tuhan.”
Maha Sunyi
Mungkin ini alasan mengapa, para sesepuh di Bali zaman dahulu menyebut Tuhan dengan nama Hyang Embang (Yang Maha Sunyi, Yang Maha Sepi). Wajar bila Herman Melville menuliskan “Sunyi, sepi itulah satu-satunya bahasa Tuhan.” Tuhan bisa di jumpai tatkala logika beristirahat, kata-kata tidak muncul lagi, bentuk-bentuk pikiran lenyap, yang tertinggal hanya sepi tak bertepi. Bisa dipahami bila penyair kondang Rabindranath Tagore menuliskan puisi, “Air dalam bejana berkilau; air laut itu gelap. Kebenaran kecil memiliki kata-kata yang jelas; kebenaran agung memiliki keheningan luar biasa. “
Apa makna kesunyian dalam kehidupan sehari-hari? Sunyi di sini ada di tingkat pikiran, seseorang tetap beraktivitas, tetapi sepi dari segala pamrih, dari segala tujuan, seperti ingin disebut hebat, pintar, atau mendapat keuntungan pribadi. Belajar hanya untuk belajar, tanpa keinginan disebut pintar. Bekerja/ngayah (memasak, menabuh, menari, membuat banten, dll.) hanya untuk ngayah, tanpa menanti pujian. Melakukan pelayanan tanpa motif ini dan itu. Demikian pula para pandita dan pinandita, muput karya, medharma wacana sepi dari berbagai bentuk pamrih, melakukan aktivitas dalam keheningan.
Yoga
Melampaui pikiran hanya mungkin bila kita mampu mengendalikannya, salah satu pakar pengendalian pikiran dari negeri Bharata Warsa, India, Maha Rsi Patanjali, dengan ajaran Astangga Yoga mengajarkan “Yogas citta vrtti nirodha” artinya Yoga melenyapkan fluktuasi gelombang pikiran. Metoda Yoga telah dipraktikkan sejak 2500 sebelum masehi.
Gelombang pikiran dapat dihentikan sehingga tenang dan terkendali melalui delapan tahapan latihan sistematis, yaitu, yama, membangun landasan moral moralitas dengan tidak menyakiti (ahimsa), menjalankan kebenaran/kejujuran (satya), tidak mencuri (asteya), tidak mengikat hubungan dengan lawan jenis (brahmacari), tidak serakah (aparigraha). Kemudian, nyama, mendirikan pondasi etika dengan menjaga kesucian lahir dan batin (sauca), menerima diri apa adanya (santosa), disiplin, tahan uji terhadap gangguan (tapa), rajin belajar (svadhyaya), berpasrah diri pada Tuhan (Isvara-pranidhana). Selanjutnya, asana, menjaga keharmonisan sistim tubuh fisik, sikap-sikap tubuh yang membantu kita mengontrol tubuh fisik, menjaga kebugaran dan kelenturan tubuh. Tahapan ini memastikan seseorang sehat jasmani. Dalam badan sehat kita bisa melakukan latihan pengendalikan pikiran dengan baik. Tahapan berikutnya, menyiapkan badan emosi dan mental, dengan melakukan pranayama, latihan formal mengendalikan nafas (energi prana) untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
Nafas merupakan jembatan penghubung antara satu bentuk pikiran dan pikiran yang lainnya. Nafas bertalian erat dengan bentuk-bentuk emosi dan bentuk-bentuk pikiran. Menyadari nafas membantu mengurangi gerak emosi dan pikiran, sehingga memudahkan kita untuk mengendalikan emosi dan mengistirahatkan pikiran.
Setelah jasmani dan rohani siap, saatnya melakukan pelepasan, pratyahara, menarik panca indra dari segala bentuk stimulus yang datang padanya, baik stimulus datang dari dalam diri maupun dari luar diri.
Memutuskan hubungan panca indra dengan otak, sehingga respon apapun yang diterima panca indra tidak lagi mempengaruhi pikiran. Ketika pengaruh panca indra telah dilepaskan, pikiran siap untuk dipusatkan, tahapan ini disebut dengan dharana, pemusatkan pikiran pada satu objek tertentu, pikiran yang awalnya memikirkan lebih dari satu objek, diarahkan untuk memikirkan hanya satu objek. Di awal latihan, pemusatan pikiran tidak bertahan lama. Dengan ketekunan berlatih, keteguhan dan kesungguhan, pemusatan pikiran pada satu objek semakin kuat, tidak tergoyahkan oleh gangguan disekitarnya, baik dari dalam maupun luar diri, tahap ini disebut, dhyana. Puncaknya, tatkala terjadi penyatuan sempurna, samadhi, teristirahatnya pikiran, pikiran terlampaui, mencapai keheningan sempurna, pencerahan atau parama santhi.
Tantra
Menurut Osho, salah master spiritual dari India, Selain yoga, tantra merupakan teknik luar biasa untuk meraih keheningan maha utama. Dijelaskan disini bahwa, pemahaman tentang fikiran sangat penting, bila kita ingin melampaui—nya.
Sifat alami pikiran tidak pernah tenang, selalu bergerak, hanya ketika pikiran beristirahat, maka keadaan sepi, hening, tenang, damai tercapai. Di samping itu, pikiran memiliki kekuatan luar biasa, akumulasi energi pikiran baik membawa pada keberuntungan (surga), sebaliknya, akumulasi energi pikiran negatif mengundang musibah (neraka). Seperti bunga mengundang kupu-kupu, dan kotoran mengundang lalat. Bila tidak diarahkan dan dikendalikan dengan baik, ia bisa memunculkan kekuatan negatif yang membahayakan, bagi diri, orang lain, dan lingkungan. Maka dari itu, kita harus waspada, selalu tekun berusaha menghentikan kencendrungan melakukan/memikirkan hal-hal negatif, memfokuskan diri pada hal-hal positif, agar energi pikiran positif yang berlimpah. Salah satu antibodi pikiran-pikiran negatif adalah doa, berdoa membantu mengurangi kencedrungan berfikir negatif. Doa adalah sumber energi positif.
Jika diperhatikan, pikiran tidak lain adalah bentuk-bentuk gagasan yang muncul seperti kerumunan orang membentuk sebuah keramaian. Jutaan orang berkumpul di sebuah keramaian, setiap gagasan muncul di pikiran seperti orang atau individu yang membentuk keramaian itu. Tatkala diamati, ada jeda diantara orang-orang yang membentuk keramaian itu, demikian pula diantara bentuk-bentuk pikiran ada jedanya. Bentuk-bentuk pikiran ini seperti awan di langit, awan putih bentuk-bentuk pikiran baik, awan hitam bentuk-bentuk pikiran buruk, menyadari keduanya hadir dan datang silih berganti membuat kita mampu melihat jeda di antara mereka, tatkala jeda semakin besar dan keduanya lenyap, hanya langit biru yang tampak, inilah yang disebut Samadhi, pencerahan.
Memperhatikan mereka secara mendalam, membantu menyadari bahwa bentuk-bentuk pikiran adalah tamu yang berkunjung silih berganti, dan kita adalah tuan rumah bagi mereka. Celakanya ketika kita lupa menjadi tuan rumah, dan para tamu ini bertindak sebagai tuan rumah, disinilah kita akan mencapai keadaan neraka. Tanpa sadar, membiarkan mereka membelenggu dan mengendalikan kita, akibatnya kedamaian menjadi sebuah keniscayaan. Singkatnya, jangan mengkonsentrasikan diri pada para tetamu itu, tetaplah kokoh menjadi tuan rumah yang baik bagi pikiran baik dan pikiran buruk, seperti langit biru yang menyaksikan kehadiran awan putih dan awan hitam tanpa penghakiman.
Latihan mendalam di jalan ini mengantar seseorang pada tiga tahapan pembelajaran, di tahap awal seseorang seperti air terjun, apapun dibabat, kebiasaan, pengetahuan, cinta, egoisme, keserakahan, kemarahan, kebencian, termasuk identitas semua lenyap dilibas habis, sehingga ia tidak memiliki apa-apa. Seperti pernyataan Socrates “Sekarang saya mengetahui hanya satu hal, bahwa saya tidak tahu apa-apa. Hanya satu pengetahuan yang saya miliki, bahwa saya seorang bodoh.” Tahap selanjutnya seperti air sungai gangga, mengalir pelan dan lembut, tanpa suara, tidak dikejar oleh suatu harapan, tidak diburu oleh keinginan ini dan itu, ia menjadi tenang, sepi, tanpa keluhan, pembelaan dan menyalahkan, mengalir dengan setiap sisi kehidupan, mampu menikmati setiap momen kehidupan. Akhirnya, ego aktif (ahamkara) lenyap, ego pasif (asmita) lenyap, bahkan individualitas (atma)—pun lenyap, telah menyatu dengan paramaatma, yang tertinggal keheningan maha utama.
Ternyata, pesan ukiran Sang Hyang Acintya pada puncak Padmasana, mengantarku pada dua jalan utama yoga dan tantra untuk melampaui pikiran, memegang erat pikiran negatif mengantarku ke neraka, memegang pikiran positif mengantarku ke surga, melampaui keduanya mengantarku pada Hyang Maha Sunyi.
Made Mariana, Abu Dhabi, UAE, 18 Mei 2018 – “Putih Kuning Cahaya Pulau Dewata”


