Mendidik Anak dengan Bercerita atau Mendongeng

Salah satu warisan leluhur yang merupakan media dalam mendidik anak adalah mendongeng. Mendongeng atau bercerita tentang suatu lakon ternyata amat besar manfaatnya bagi si kecil. Teringat sewaktu saya masih kecil, Ibu, Nenek, Paman sering sekali bercerita tentang kepahlawan baik itu berupa dongeng fabel (binatang) seperti: kancil dan buaya, burung keker dan sang monyet, Si Ayam Hitam, dll atau dongeng tentang manusia seperti kisah bawang merah dan bawah putih, cupak grantang, Si Miskin dan Si kaya, Raja Pala, Arjuna, Timus Mas, dll. Sebelum kami tidur, sambil membelai rambut kami Ibu atau Nenek selalu bercerita tentang kisah-kisah di masa lampau. Kami merasa sangat exited dengan cerita-cerita mereka, tak jarang cerita itu sampai terbawa ke alam mimpi.

Mendongeng atau bercerita ternyata amat besar manfaatnya. Manfaat itu bisa saya rasakan hingga kini. Budaya yang mulai dilupakan orang. Sebagai contoh waktu saya masih kecil Ibu selalu menceritakan kisah perjuangan Sang Arjuna dalam mendapatkan Panah Sakti Kalimusada (Panah=Manah=Pikiran/akal/kecerdasan). Dia harus bertapa di puncak gunung Indrakila. Melewati berbagai macam cobaan seperti: Emas Permata (Harta), Bidadari (Wanita Cantik/lawan jenis), Raksasa (Nafsu), Bahaya mengancam ada Babi Hutan (Kerakusan) yang mau menggulingkan gunung indrakila (Panca Indra) . Arjuna berhasil membunuh babi hutan tersebut dengan panahnya. Pada saat yang sama Bhatara Siva menjelma menjadi seorang pemanah, untuk memberikan final examination kepada Arjuna, menguji kesiapan fisik dan mental Arjuna, apakah dia layak untuk mendapatkan senjata ampuh Panah Kalimusada. Pemanah yang tidak lain adalab Siva mewujudkan diri sebagai compatitor bagi sang Ksatria Arjuna. Dengan keteguhan dan kerja kerasnya Arjunapun mampu melewatinya dengan baik sehingga Siva berkenan menghadiahkan Panah Kalimusada.

Kalo kita simak dalam kisah Arjuna, dalam setiap pencapaian suatu prestasi kita pasti memerlukan kekuatan panah (manah=pikiran/akal/kecerdasan). Kemampuan untuk mengatasi berbagai cobaan yang bersifat materi (emas permata), lawan jenis (bidadari), pesaing (pemanah lain yang merupakan jelmaan Siva) dan yang paling kuat adalah nafsu (yang dilambangkan dengan raksasa yang sangat serem dan ganas). Mampu mengendalikan panca indra kita (dilambangkan dengan bertapa di gunung indrakila). Bila kita bisa melewati semua itu maka dengan mudah kita bisa meraih suatu prestasi.

Saat saya berada di Arab Saudi, begitu banyak tantangan yang dihadapi, karena ini pertama kali bagi saya untuk menginjakkan kaki di negeri orang. Perbedaan suhu dan iklim, perbedaan makanan, budaya, tradisi, dan lain-lain semua merupakan tantangan yang tidak mudah untuk dilalui. Cobaan-cobaan ini mengkonsumsi tidak sedikit energi saya, sehingga ada saat dimana energi saya melemah, dalam kondisi seperti ini tiba-tiba saya teringat dengan kisah yang diceritakan oleh Ibu tentang perjuangan Arjuna untuk mendapatkan Panah Kalimusada. Spirit Arjuna ternyata mampu membangkitkan kembali kekuatan saya , semangat untuk menunaikan tugas menggelora kembali tanpa terduga.

Hal ini terjadi beberapa kali, contoh lain dalam persaingan saya teringat dengan perjuangan Si Tamtam (Titisan Wisnu untuk memberikan pelajaran pada manusia di Bumi Visnu lahir menjadi pemuda miskin yang lahir di dusun terpencil dengan segala keterbatasan. Sementara Saktinya Devi Sri lahir menjadi seorang putri cantik jelita, pinter, dan sangat kaya, putri raja Mesir, yang bernama Ajnyaswari artinya wanita berilmu).

Dengan kegigihan, dengan kepercayaan dirinya, dengan doa dan usahanya akhirnya Si Tamtam bisa menaklukkan semua putra mahkota di seantero jagad bumi persada. Spirit Tamtam kerap kali memotivasi saya saat saya merasa inferior dalam setiap kompetisi. Cerita ini sering dituturkan oleh Pekak Baru salah satu sesepuh di desa kami, juga oleh Guru Made Sri Dana (paman saya), ketika saya mengunjungi mereka.

Melihat begitu banyak manfaat dari bercerita, timbul keinginan saya untuk membangkitkan kembali tradisi bercerita terutama bagi anak-anak yang lahir, tinggal di luar negeri. Mereka terbiasa mendengarkan dan menonton cerita-cerita dari luar sebut saja tokoh-tokoh seperti: wood packer, spiderman, superman, superboy, doraemon, sincan, flinston, mickey and donald, dan lain-lain yang notabenenya adalah semua produk impor.

Tidak jarang anak-anak sering meniru tingkah polah para tokoh idolanya, banyak dampak positif dari menonton film atau cerita dari luar, dampak negatif juga tidak bisa dielakkan sehingga banyak kita jumpai media masa yang mewartakan seorang anak meninggal atau cidera melompat dari ketinggian meniru tokoh idolanya seperti spiderman.

Bercerita/mendongeng bisa menumbuhkan imajinasi anak, sekaligus membangun hati nurani anak. Nasihat pun dapat disisipkan dalam dongeng. Dongeng dapat mempererat hubungan anak dan orangtua, nenek/kakek dengan cucu, paman dengan keponakan, kakak dengan adik-adiknya. Karena terjadi interaksi yang begitu intens. Hal ini akan menciptakan hubungan yang sangat erat, menumbuhkan perngertian sejak dini antar anggota keluarga. Pemilihan waktu tidak perlu harus selalu di malam hari. Siang atau sore pun, bisa. Tentu saja, pilih waktu yang tepat.

Kegiatan bercerita sudah bisa dimulai ketika anak berusia 6 bulan. Meskipun pada saat itu, anak belum sepenuhnya mengerti yang dikatakan oleh orangtua ketika bercerita. Namun, anak dapat belajar memahami dari ekspresi orangtua. Memilih cerita juga salah satu faktor yang penting. Lebih baik sesuaikan dengan usia si kecil.

Anak usia 0-2 tahun, umumnya belum bisa berfantasi oleh karena keterbatasan bahasa mereka. Jika orangtua memilih bercerita dengan bantuan buku, cari buku dengan sedikit teks, tetapi sarat gambar. Anggaplah buku itu sebagai bagian dari mainan dan hiburan.

Untuk anak usia 2-4 tahun sebagai usia pembentukan. Banyak sekali konsep baru yang harus si kecil pelajari di masa ini. Si kecil sangat suka mempelajari manusia dan kehidupan. Itulah sebabnya mereka suka sekali meniru tingkah laku orang dewasa. Biasanya diungkapkan lewat main tamu-tamuan, dokter-dokteran, dan lainnya.

Selain itu, orangtua juga bisa menceritakan perihal karakter-karakter binatang yang disesuaikan dengan keseharian anak. Anak usia itu sudah pandai berfantasi, yang puncaknya usia 4 tahun.

Kemudian, untuk anak usia 4-7 tahun, orangtua dapat memperkenalkan si kecil dongeng-dongeng yang lebih kompleks. Mereka juga sudah mulai menyukai cerita-cerita tentang terjadinya suatu benda dan bagaimana cara kerja sesuatu. Inilah kesempatan orangtua untuk mendorong minat anak.

Interaksi yang penuh kasih sayang selama mendongeng akan terjalin indah dan membekas begitu dalam di sanubari anak. Itu semua akan menjadi modal bagi kebahagiaan mereka pada masa depan mereka.

Melihat begitu banyak manfaat dari bercerita/mendongeng pada si kecil, Marilah kita lestarikan budaya warisan leluhur ini dengan membiasakan untuk bercerita pada anak-anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *