Anakku, para ilmuan telan menjelaskan bahwa segala yang ada di alam ini bergetar dan memiliki vibrasi tertentu. OM adalah suara universal, yang terbentuk dari tiga aktivitas utama tatkala bibir kita mengeluarkan suara, saat mulut terbuka penuh, suara “A”, saat setengah terbuka/ setengah tertutup, yang keluar suara “U”, Ketika mulut tertutup rapat, suara yang keluar “M”. Bila kita bersuara dari mulut terbuka penuh sampai tertutup suaranya “A-U-M” atau OM.
Jadi tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mengucapkan aksara OM, ketika ia berbicara dengan membuka mulutnya baik sadar ataupun tidak sadar. Suara OM adalah suara alam semesta. Sri Sri Ravi Shankar menerangkan, Amen, Amin, dan Shalom adalah merupakan bentuk-bentuk variasi dari suara OM.
Selain itu, OM merepresentasikan tiga kekuatan, penciptaan “A”, pemeliharaan “U”, dan pengembalian “M”. Ketiga suara inipun berkaitan dengan tubuh manusia. Coba pejamkan mata, narik nafas dalam lantunkan suara “AAA” Panjang tiga kali dengan jeda pendek, mereka yang peka bisa merasakan vibrasi di daerah jantung (anahata cakra). Berikutnya ikuti dengan mengucapkan suara “UUU” Panjang tiga kali Ananda akan merasakan vibrasi atau energi di tenggorokan (vishuda cakra). Selanjutnya, buatlah suara “MMM” Panjang sebanyak tiga kali dengan jeda pendek antaranya, Ananda akan merasakan di area kepala (Ajna dan Sahasrara cakra). Akhirnya, kombinasikan ketiga suara ini, “AUM” atau “OM” ucapkan sebanyak tiga kali, maka Anda masuk ke vibrasi meditative.
Melantunkan suara OM seluruh tubuh menjadi harmonis. OM artinya kebenaran, mewakili ketidakterbatas, dan asal mula dari alam semesta. Dari OM segala sesuatu datang, berdiam dan ke dalam OM segalanya akan terserap, baik materi maupun kesadaran. Sebelum lahir kita bagian dari suara ini dan setelah meninggal kita-pun menyatu dengan suara ini. Dengan mengucapkan OM seseorang bisa mencapai ketidakterbatasan (Infinity) dan terkoneksi langsung dengan Tuhan (Divinity). Swami Dayananda Saraswati, pendiri Arya Samad di India, mengatakan bahwa OM adalah panggilan Tuhan pertama-tama dan tertua.
OM dijelaskan diberbagai kitab suci, mulai dari Menawa Dharmasastra II.76 dinyatakan bahwa Aksara OM berasal dari aksara, A, U, M, dari tiga Veda (Reg Veda, Sama Veda dan Yajur Veda) dan inti dari Vyahrti Mantra. Dalam Chandogya Upanishad disebutkan bahwa OM merupakan Udgitha (nyanyian alam semesta) yang merupakan intisari dari Veda. Bhagavadgita mengatakan bahwa OM merupakan atribut tertinggi dari Brahman, dengan melantunkan OM seseorang mencapai Brahman. Selain itu, Svetasvatara Upanishad menerangkan OM seperti api yang ada di dalam kayubakar, hingga kedua batang kayubakar itu digosok-gosokkan barulah api itu akan keluar. Atman/Sang Diri seperti api, tubuh seperti kayubakar, dengan secara kontinyu menyadari OM/ melantunkan OM, maka sifat alami sang Atma akan disadari. Sedangkan, Maharsi Patanjali dalam Yoga Sutra menjelaskan OM adalah Iswara, Iswara tidak dibatasi oleh waktu, IA guru sejati, guru dari guru yang pertama. Mandukya Upanishad. Menjelaskan bahwa AUM mewakili tingkat kesadaran dalam diri, “A” mewakili kesadaran terjaga (jagrat), “U” mencakup kesadaran mimpi (svapna), “M” mewakili kesadaran tidur mendalam tanpa mimpi (sushupti), sementara kesadaran ke-empat turiya, kesadaran tertinggi, kesadaran rohani/kesadaran transcendental.
Apa arti dari setiap mantra Om Nama Siwaya?
Setiap mantra memiliki arti yang berbeda-beda, sesuai dengan mantra yang diucapkan. Sri Sri Ravi Shankar menjelaskan bahwa mantra “OM Namah Shiwaya” terdiri dari lima suku kata yang mewakili panca maha butha atau lima unsur, yang juga terkoneksi dengan lima cakra utama di dalam tubuh manusia.
Na, terasosiasi dengan Tanah dan cakra muladhara
Mah, terasosiasi dengan Air dan cakra svadisthana
Shi, terasosiasi dengan Api dan cakra manipura
Wa, terasosiasi dengan Angin/Udara dan cakra anahata.
Ya, terasosiasi dengan Ruang dan cakra vishuda
Suara OM, sudah dijelaskan sebelumnya, mewakili suara alam semesta yang membawa kedamaian, cinta kasih, dan harmoni. Panca Maha Butha, atau lima unsur di atas adalah pembentuk semua kreasi di alam semesta ini termasuk manusia. Dengan mengucapkan mantra Om Namah Shivaya, mengharmoniskan lima unsur, tanah, air, api, angin, ruang yang ada di lingkungan kita dan di dalam diri kita. Saat terjadi kedamaian, cinta dan harmoni di lima unsur ini, maka akan terjadi berkah berlimpah dan kegembiraan bukan saja di dalam diri kita, juga di lingkungan sekitar kita.
Mengapa doa diucapkan sebanyak 3, 9, 11, atau 108 kali?
Angka 3 melambangkan tiga kekuatan (penciptaan, pemeliharaan dan peleburan). Melambangkan Tri Murthi, Brahma, Wisnu dan Siwa. Ia juga melambangkan tiga kwalitas dalam diri mahluk, sattwam (tenang), rajah (aktif) dan Tamah (pasif). Angka 3 digunakan sebagai simbul OM. Angka tiga juga melambangkan harmoni, Tri Hita Karana, harmonis ke atas, ke samping kiri dan kanan dan ke bawah.
Angka 9 melambangkan sembilan arah mata angin, nawa sanga, dimana Tuhan memiliki manifestasi-Nya dimasing-masing arah, menguasai Sembilan arah mata angin.
Angka 11 melambangkan sembilan arah mata angin ditambah atas dan bawah. Ia melambangkan 11 kekuasaan Tuhan dalam wujud Rudra disebut Eka Dasa Rudra. Sembilan kemahakuasaan Tuhan di sembilan arah mata angin ditambahkan Sada Siwa dan Parama Siwa.
Angka 108 melambangkan semua keberadaan, misalnya:
• total kitab upanishad dari Veda ada 108 buah,
• tarian kosmik Siwa yang disebut Tandava memiliki 108 postur, sembilan kali putaran Surya Namaskara menghasilkan angka 108.
• Jarak rata-rata dari bumi ke matahari sekitar 108 kali diameter matahari,
• jarak rata-rata dari bumi ke bulan sekitar 108 kali diameter bulan.
• Angka 1, 2, dan 3 mewakili kemahakuasaan Tuhan, 1 (Tuhan Maha Esa), 2 (Saguna dan Nirguna Brahman), 3 (Brahma, Wisnu, Siwa). Ketika 1 pangkat =1, 2 pangkat 2 = 4, 3 pankat = 27, 1x4x27 = 108.
• Di dalam filsafat yoga dikatakan ada 108 aliran energi yang bermuara ke cakra Anahata, berjapa dengan 108 mala akan mengharmoniskan ke 108 aliran energi ini, salah satu aliran ini disebut dengan Sushumna yang menuju cakra mahkota, yang dipercaya sebagai jalan menuju pencerahan.
• Disamping itu, angka 1 melangbangkan Tuhan / Energi Universal, angka 0 melambangkan kekosongan / keheningan sempurna / parama santhih, dan angka 8 melambangkan ketidak terbatas (infinity).
• Selanjutnya Angka 1 melambangkan kebenaran tertinggi, angka nol melambangkan kesadaran murni, angka 8 melambangkan penyatuan abadi kebenaran tertinggi dan kesadaran murni.
Disunting dari buku: “Mengenal Sanatana Dharma” by Made Mariana


