Om Swastyastu
Di hari yang indah ini, ijinkan saya berbagi tentang, “MENYEPI, Strategi Menemukan Solusi” Dengan tetap menghargai berbagai pandangan tentang Nyepi, kini perkenankan saya membahas Nyepi dari pandangan Nyepi diidentikkan dengan “Silence/Keheningan”
Untuk menghormati Para Guru, yang berkenan hadir dalam kehidupan kita untuk membimbing kita menjadi insan yang lebih baik, ijinkan saya berdoa. Om Namo Gurubyah, Om Namo Gurubyah, Om Namo Gurubyah.
KEAJAIBAN NYEPI
Dalam Bahasa Inggris Nyepi sering diterjemahkan menjadi “Day of Silence”, kadang teman-teman di Abu Dhabi yang telah berkunjung ke Bali mengatakan, Nyepi sebagai The Silent Day of Bali. Tentang Nyepi, saya sering ditanya teman kerja dan juga anak-anak, why do we celebrate New Year with silence? Shouldn’t celebration be frenzy? What is the significant of doing nothing? Mengapa kita merayakan tahun baru dengan NYEPI? Bukankah perayaan semestinya gegap gempita? Apa pentingnya tidak melakukan apa-apa?
Saya bilang, NYEPI (Keheningan) menawarkan banyak keajaiban dalam hidup, terutama saat menjalani kehidupan di era milenial yang penuh dengan ketidakpastian, persaingan, dan tantangan. Di zona keheningan ini, kesembuhan sering terjadi, banyak karya-karya agung lahir, penemuan-penemuan ilmiah didapatkan, ide-ide bisnis cemerlang lahir, maha karya di bidang teknologi, sastra (puisi-puisi) dan seni (melodi-melodi indah) dan pengobatan muncul ke permukaan.
Sebagai contoh, kita ambil dari empat tempat, Jepang, India, Amerika dan Lamongan tahun 1922, saat Jepang terkena musibah bencana alam, obat dan uang yang dimiliki dr. Mikao Usui tidak mencukupi untuk menolong ribuan korban bencana alam, keheningan selama 21 hari di gunung Kurama, mengantarkanya pada teknik Reiki, jalan spiritual dan pengobatan.
Contoh berikutnya, di India, Shimoga, Karnataka, tahun 1981 saat menyaksikan lebarnya jurang antara keheningan batin seseorang saat melakukan praktik spiritual dengan keadaan batinnya saat menjalani kehidupan sehari-hari, Sri Sri Ravi Shankar keheningan selama 10 hari menghadirkan teknik “Sudarshan Kriya” teknik yang memfasilitasi kesehatan fisik, mental, emosi dan sosial, dengan mengharmoniskan ritme tubuh dan perasaan, telah membantu jutaan (370 Juta di 155 negara) orang diberbagai belahan dunia.
Di Amerika, Bil Gates, kebuntuan ide dalam bisnis ia selesaikan dengan menyepi selama seminggu di hutan cedar, Pacific Nortwest, internet explorer (1995) salah satu hasilnya.
Dari Amerika kita terbang ke Jawa Timur, Pura Lamongan, kesulitan mendapatkan air suci untuk tirtha, karena Puranya berada di pinggir pantai, mendorong para sesepuh di Pura Lamongan melakukan serangkaian tapa brata dalam keheningan selama seminggu, di hari ke-6 dan ke-7 sebuah cahaya muncul dari angkasa jatuh di tempat yang sama di areal pura yang kemudian memberi sumber air tawar. Di tempat yang berbeda, beberapa Pandita mendapatkan wisik munculnya tirta ini (dikisahkan Jero Mangku – tirtha yatra ke Pura Lamongan).
Dan masih banyak deretan kisah, lewat keheningan seseorang menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Ini mungkin alasan mengapa ada banyak kelas meditasi dan silence dengan harga jutaan rupiah. YM Guruji Gede Prama menganjurkan unutk melakukan silence seminggu sekali. Keheningan, rumah sejati yang sering kita tinggalkan, ruang yang menjadi ibu dari semua kreativitas, sumber intuisi dan semangat resilience kemampuan untuk bangkit kembali saat jatuh/gagal.
KEHENINGAN DARI SUDUT PANDANG ILMIAH
Lantas, apa kata Para Ilmuan tentang Keheningan?
Sara Lazar ahli neuroscientist di MG Hospital dan Harvard Medical School yang menemukan keheningan melalui meditasi meremajakan otak, seseorang yang bermeditasi secara teratur walau berusia 50 tahun memiliki prefrontal cortex seperti anak berusia 25 tahun. Prefrontal cortex bagian otak yang berperan dalam ekspresi verbal, ingatan, abstraksi, dan kemampuan untuk memahami hubungan spasial antara diri dan lingkungan seseorang, jika bagian ini rusak seseorang akan sulit berkonsentrasi, tidak bisa membedakan benar dan salah, berkurangnya kemampuan problem solving dan decision making .
Selanjutnya para ahli neouroscientist dan ahli kesehatan, mengatakan “Keheningan Pikiran dan Hati membuat otak menghasilkan hormon-hormon positif yang bermanfaat bagi kesembuhan seperti, dopamine, oxitosin, serotonin dan beta-endorphin. Dr Shigeo Haruyama dalam The Miracle of Endorphin bahkan mengatakan, jika seseorang mampu mengendalikan pikirannya (mencapai keheningan lewat meditasi), otak akan mengeluarkan beta-endorphin yang membantu badan lebih sehat dan menghilangkan penyakit dari tubuh. Sebaliknya, jika seseorang sedang marah, takut, panik, cemas, merasa tertekan, maka otaknya mengeluarkan hormon “nor-adrenalin” sangat beracun, menempati urutan kedua setelah bisa ular. Bila kita sering marah dan membenci, tanpa sadar kita sering menuangkan racun ke dalam diri kita yang tentu saja sangat berbahaya bagi kesehatan kita. Jadi pilihan di ada ditangan kita.
Oleh karena itu Chatleen Haskins, dalam “The Gift of Silence“ menekankan betapa penting melatih keheningan pada anak-anak sejak dini, karena pengenalan dan pelatihan keheningan pada anak-anak membawa mereka pada peningkatan konsentrasi, kesadaran penuh, ketenangan dan kreativitas, yang membantu mereka menyelesaian persoalan yang dihadapi.
Saat pikiran tenang/hening (cahaya putih), hati terbuka, keheningan membuat kita menjadi percaya diri, meyakini pengalaman sendiri, menemukan cara baru untuk menjalani hidup lebih baik tanpa dikendalikan oleh gangguan-gangguan. Dalam keheningan kita menemukan inner voice (kata hati – cahaya kuning), ia yang mengantar kita pada kreativitas, pemecahan masalah (problem solving), pengambilan keputusan (decision-making) dan pada akhirnya mengajak kita hanya terfokus pada hal-hal yang hakiki dalam hidup. Menemukan inner voice dan menginspirasi orang lain menemukan inner voice merupakan inti dari The 8th Habit from Effectiveness to Greatness karya Dr. Sthephen R. Covey, penulis buku best seller The 7 habits of Highly Effective People. Bila di Amerika orang menuju Keheningan lewat Seven Habit hingga 8th habit, kita di Indonesia menuju keheningan dengan catur brata penyepian.
SUDUT PANDANG SPIRITUAL
Apa kata Kitab Suci tentang Keheningan?
Jnanda histhanam matrika (Siva Sutra) artinya: cari akar pengetahuan, Anda akan menjumpai Sepi/Keheningan. Di BaliTuhan juga disebut Hyang Embang (Yang Maha Sunyi/Sepi), bukan kebetulan bila Shiva bermakna pula “ruang keheningan yang mendalam” dimana semua aktivitas pikiran larut, akar dari semua pengetahuan, ruang yang terisi energi tak terbatas, energi yang menghidupi segalanya, kesadaran maha utama.
Menghadapi masa depan sering dihantui oleh rasa takut, cemas, ini terjadi manakala kita belum menempatkan usaha 100%, perasaan-perasaan ini mengganggu di perjalanan, menyulitkan kita mencapai keheningan. Udyoginah Purusasimha Mupaitim Laksmih. Artinya, Kekayaan dan Kemakmuran hanya datang pada mereka yang berusaha sepenuhnya. Udyamo Bhairavah, ketika Anda berusaha sepenuhnya, Anda mengalami kesempurnaan. Selanjutnya, menasehatkan Manah Trayate Iti Mantrah, artinya: mantrah adalah sesuatu bila diucapkan berulang-ulang secara konstan membersihkan batin dari kekhawatiran dan melindungi Anda. Mantra adalah vibrasi yang sangat kuat, yang bisa mengalahkan /menimpa/ mendorong vibrasi-vibrasi dari bentuk-bentuk pikiran dan perasaan negatif. Ini mungkin alasan mengapa kita anjurkan melakukan japam untuk membersihkan batin dari kekhawatiran.
MENUJU KEHENINGAN
Di Hari Nyepi, kita diundang pulang ke rumah keheningan. Rangkaian Hari Nyepi mempercepat proses tercapainya keheningan. Mulai dengan membersihkan diri (buana alit) dan alam semesta (buana agung) lewat upacara melasti, mensinergikan energi dari alam bawah, tengah dan alam atas (bhur, bhuwah, swah) lewat tawur kesanga/mecaru, frekuensi keriuhan diluar dinaikkan ke puncaknya dengan membuat suara gaduh saat pengrupukan, baru kemudian memasuki sipeng /menyepi, menuju keheningan dengan kendaraan Catur Brata. Mengurangi aktivitas pikiran dengan mengendalikan sumber energinya (amati geni dan upawasa) mematikan api amarah, api kecemasan, api kesedihan dan sejenisnya, api-api yang membangkitkan racun dalam tubuh kita seperti nor-adrenalin yang berbahaya itu.
Mengurangi konsumsi energi karena gejolak perasaan dengan menjalankan amati lelangunan. Kemudian, menyimpan energi dengan praktik monabrata, amati lelunganan, dan amati karya. Akan lebih baik lagi bila diisi energi dengan praktik pranayama, japam (mengulang-ulang mantra) dan meditasi. Sehingga bertemu cahaya (ngembak geni), sepert cahaya kecil berupa solusi dari persoalan yang dihadapi, atau siapa tahu diberkahi cahaya agung pencerahan, walau sudah berjumpa cahaya, tetap rendah hati dengan melakukan silakrama (saling memaafkan).
Seperti apakah proses Keheningan?
Pertama, sepi dari kata-kata dan sepi dari suara-suara luar, seseorang bisa menjauh dari keramaian, melakukan monabrata (tidak berbicara), di sini kita bisa merasakan dampak dari perkataan, menyadari apa-apa yang sedang dikatakan, dan berapa banyak energi yang digunakan untuk berbicara. Praktik ini melatih kemampuan memilah dan memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan pada orang tertentu, situasi tertentu dan tempat tertentu. Sehingga keahlian berkomunikasi meningkat, seperti diketahui bersama komunikasi yang tepat merupakan jembatan emas meraih sukses dalam hidup. Orang mungkin bisa diam tanpa kata-kata, tapi pikirannya/manah masih berkelana dari satu objek ke objek lainnya (Manah artinya pikiran mengarah ke luar), masih ada banyak percakapan di dalam diri.
Maka saatnya melangkah ke tahap kedua, mengarahkan pikiran ke dalam diri (Namah), menarik panca indra dari objek luar dan mengarahkannya ke dalam diri, seperti laba-laba menarik benangnya ke dalam tubuhnya. Makanya kata Namah menghiasi banyak mantra / doa, ia seakan mengajak kita menuju ke pura dalem, memperhatikan/menyadari gerakan tubuh, gerakan nafas, gerakan pikiran yang berlompatan dari satu objek ke objek yang lain, dan menyadari naik turunnya perasaan saat setiap bentuk pikiran muncul.
YM Guruji Gede Prama menerangkan bahwa pikiran tidak tenang, karena dibelenggu oleh dualitas, baik/buruk, sukses/gagal, senang/sedih. Dualitas bukan realita, dualitas itu cara otak manusia mengerti realita. Walau dipuji atau dihina tetap tenang, sehingga mampu menjalankan tugas dan kewajiban dengan sukses.
Contoh, Kisah Penemuan Teknik Sosrobahu, merupakan teknik konstruksi yang digunakan terutama untuk memutar bahu lengan beton jalan layang sehingga pembuatan jembatan layang di kota-kota besar tanpa menggganggu lalu lintas, seperti jalan Ahmad Yani (By Pass), Jakarta Indonesia. Ditemukan oleh Ir. Tjokorda Raka Sukawati (Alm.). Ia sempat dihina oleh Ahli dari Inggris yang mengatakan, “Your friend has too big mouth (Temanmu mulutnya terlalu besar), Kalau memang bisa dilakukan ini begini (teknik sosrobahu bisa dilakukan), sudah lama dilakukan oleh orang Eropa, gak bakal you bangsa begini yang bisa melakukan hal ini”. Akhirnya, teknik ini sekarang telah dipakai di berbagai Negara seperti Malaysia, Singapore, Philipine, dll.
Tatkala bisa menari indah diatas dualitas, kita menemukan kembali padmasana di dalam diri, maksudnya, sikap (asana) seperti bunga teratai (padma) yang mampu melampaui dualitas (lumpur/negatif dan air/positif) menuju cahaya (mulai cahaya kecil dalam bentuk solusi setiap persoalan hidup, hingga cahaya agung pencerahan).
Dari sini tampak jelas betapa beruntungnya kita diwarisi tradisi agung yang luar biasa, menyepi membantu kita menemukan solusi dari persoalan hidup. Mudah mengatakannnya, tapi sulit melakukannya, untuk itu Rig Veda mengingatkan kita “Ketika terdapat keharmonisan antara pikiran, hati, dan keteguhan /kegigihan maka tidak ada sesuatupun yang tidak mungkin”
Akhirnya ijinkan saya menutup bahasan ini dengan doa, Sarve bhavantu sukhinah, Sarve santu niramayah, Sarva bhadrani pasyantu, Ma kaschit duka bhag bhavet, Om Loka samasta sukhino bhawantu. Semoga semua hidup bahagia, Semoga semua menikmati kesehatan yang baik, Semoga semua mendapatkan keberuntungan, Semoga tiada seorangpun mengalami kesedihan, Semoga damai dimana-mana.
Made Mariana, Abu Dhabi, 05 Mar 2023


