Om Swastyastu, Selamat Pagi, Adik-adik siswa Pesraman, keluarga dan sahabatku tercinta di Tanah Air, salam hangat dari pinggiran Gurun Rub Al Khali. Di kesempatan yang baik ini perkenankan saya berbagi, Makna Nyepi, Transformasi diri di tahun Caka 1944, dengan tetap menghargai adanya perbedaan pemikiran tentang Nyepi, ijinkan saya membahas dari sudut pandang bahwa Nyepi disepadankan dengan Silent/Hening.
NYEPI MENDUNIA
Tempo hari, saat saya mengajukan cuti untuk melaksanakan brata penyepian, beberapa teman bertanya. “Made apa yang akan kamu lakukan selama menyepi?”. Saya katakan, saya meneladani prilaku Yang Mulia Nabi Muhamad, ketika mendapatkan wahyu pertama di Gua Hira, Jabal Nur yaitu, kata “Iqra“ yang artinya ‘Bacalah’. Teman saya terkejut, karena dalam pemahamannya, pelaksanaan nyepi sebuah penyiksaan diri, tidak makan, tidak bicara, tidak boleh bekerja, tidak boleh bersenang-senang, tidak boleh keluar rumah dan semua dilakukan dalam keadaan tanpa cahaya.
Lain lagi pertanyaan dari teman Belgia saya, “Made! saya penasaran apakah anak-anakmu mau melakukan Nyepi di sini?“ saya katakan, tidak mudah mengajarkan suatu tradisi dimana lingkungan sekitar kita tidak mempraktikkan tradisi yang kita jalani. Tapi, dengan bantuan teknologi dan internet, pekerjaan kita lebih mudah, kami mengajak mereka nonton video perayaan Nyepi lewat Youtube Channel, hal itu membuat mereka penasaran dan bertanya. Saat itulah kesempatan kami menjelasan makna dan manfaat dari Nyepi.
Tidak bisa dipungkiri, awalnya saya sepaham dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa pelaksanaan berata penyepian adalah sesuatu yang aneh, tidak masuk akal, dan tidak bermanfaat. Tapi, ketika membaca kisah orang-orang ternama, disitu mata saya terbuka lebar, ternyata nyepi sudah dilakukan oleh orang-orang hebat sejak jaman dahulu kala di berbagai belahan dunia, hanya saja mereka tidak menggunakan istilah Nyepi, tapi mereka menggunakan istilah retreat atau silent.
Di Negeri Matahari terbit, Jepang, tahun 1922, Dokter Mikao Usui di dorong oleh niat menolong korban bencana alam, ia melakukan retreat, di lereng gunung Kurama, di hari ke-21, ia menemukan teknik “Reiki”, sebuah teknik energi penyembuhan yang menggunakan energi alam, Rei = Alam, Ki = Energi, teknik ini telah menyebar ke berbagai Negara, hingga ke Indonesia.
Selanjutnya di Bharatawarsa India tahun 1982, Sri Sri Ravi Shankar setelah berkeliling dunia mengajarkan yoga, merasa ada yang kurang, dengan niat membantu orang untuk menjembatani keheningan batin dan kehidupan keseharian, Ia memutuskan untuk melakukan silent. Di hari ke-10 lahirlah teknik “Sudharsan Kriya” sebuah teknik mengharmoniskan ritme tubuh, pikiran dan perasaan dengan ritme alam.
Lain lagi kisah tokoh pengguncang dunia dari negeri Paman Sam, Amerika, Bill Gates, orang terkaya di dunia, siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini, ternyata, ia gemar menyepi di sebuah kabin papan di hutan Cedar selama seminggu yang ia sebut dengan “Think Week”, salah satu produknya Internet Explorer di tahun 1995.
RAHASIA NYEPI
Kembali pada pertanyaan teman saya di atas, Apa yang dilakukan saat Nyepi?
Biasanya nyepi dimulai dengan sepi dari suara-suara luar diri, disebut pula dengan menyepi, menjauhkan diri dari keramaian, pergi ke tempat yang sepi, berada di tempat yang sepi, manfaatnya, kita bisa lebih mudah terkonsentrasi, karena sedikit gangguan luar. Konsentrasi sangat dibutuhkan untuk belajar, bekerja, melakukan aktivitas keseharian, untuk bertumbuh dan bertransformasi.
Kemudian sepi dari suara yang keluar dari diri, terhentinya suara dari diri kita, dengan tidak berbicara atau mona brata, manfaatnya kita bisa mengetahui berapa energi yang dikeluarkan untuk bicara, bisa mengontrol perkataan, bisa menyaksikan dan merasakan dampak dari perkataan, tahu kapan mesti bicara dan kapan mesti diam, otomatis keahlian berkomunikasi meningkat. Dalam hidup kita, komunikasi adalah jembatan emas menuju sukses, Anda boleh berbakat, punya ide cemerlang, tapi bila tidak dikomunikasikan dengan benar, atasan, Dosen, pelanggan, tidak akan tahu.
Selanjutnya sepi dari percakapan di dalam diri (percakan dengan diri sendiri), melakukan perjalanan ke pura dalem, saat terhentinya percakapan di dalam diri kita, maka keheningan pikiran tercapai. Ayur Veda dituliskan bahwa obat utama ketika sakit adalah keheningan pikiran, karena penyakit itu muncul pertama kali dalam bentuk pikiran, kemudian bentuk suara, dan selanjutnya bentuk cahaya, atau aura, baru kemudian penyakit itu bermanifestasi dalam tubuh. Ketika pikiran Anda hening, disitu, penyembuhan mulai terjadi.
Akhirnya menyatunya keheningan di dalam dengan keheningan alam semesta, mencapai keheningan sempurna, keheningan maha utama, yang disebut dengan Parama Shanti.
ENERGI BERTUMBUH DAN TRANFORMASI DIRI
Lalu apa hubungan Nyepi dengan Catur Brata, adakah sisi logis dari pelaksanaan Catur Brata Penyepian dengan Kehidupan Kekinian? Yuk, kita bahas satu persatu.
Catur Brata itu adalah Metoda Praktis untuk menuju Keheningan Batin, dan Keheningan batin merupakan Ibu dari semua kreativitas.
Tekniknya diterangkan dalam kitab suci Yayur Veda dikatakan, pikiran baik secara pasti berakhir pada perbuatan baik, maknanya, apa yang kita pikirkan akan menjadi perkataan kita. Menurut Neuro Science, dalam keadaan normal, pikiran mengkonsumsi sekitar 20% energi dalam tubuh kita, padahal berat otak hanya sekitar 2% dari berat badan kita. Bila pikiran terbebani atau stress, energi yang terkonsumsi jauh lebih banyak, bisa berlipat ganda, menguras cadangan energi dalam tubuh. Tatkala cadangan energi kita menipis, kita menjadi sensitif, mudah marah sehingga mudah terjadi pertengkaran dan konflik dengan orang lain, tidak bisa berkonsentrasi, sehingga produktivitas menjadi turun, badan jadi lemah sehingga mudah terserang penyakit.
Dari pengalaman saya, Catur Brata sesungguhnya adalah Konservasi Energi. Seperti kita ketahui, tubuh ini tidak bisa berbuat apa-apa bila tidak ada energi, seperti hand phone tanpa baterai atau mobil tanpa aki. Tingkat kebahagiaan kita sangat ditentukan oleh kualitas dan level energi dalam diri.
Hening atau Sepi maksudnya, pikiran beristirahat, tidak lagi memikirkan banyak hal. Praktiknya bagaimana? Kurangilah aktivitas pikiran dengan mengendalikan sumber apinya atau energinya melalui amati geni, dengan mematikan api masak, mematikan lampu, dan puasa.
Mencegah kebocoran energi dari gejolak pikiran dan perasaan negatif melalui amati lelangunan. Hiburan sangat mempengaruhi gejolak perasaan, kadang habis nonto film sedih atau film horror, pikiran kita masih kebawa, ikut sedih dan ketakutan yang menguras energi.
Kemudian, simpanlah energi dengan tidak bicara (monabrata), tidak bepergian (amati lelunganan), dan tidak bekerja (amati karya), dan tingkatkan energi lewat yoga dan meditasi.
Tapi pikiran sulit sekali dikendalikan? Setiap kali mau mengendalikan pikiran, ia berloncatan kesana kemari seperti monyet. Tekniknya diajarkan dalam kitab Siva Sutra, disana dijelaskan bahwa pikiran itu seperti layang-layang dan talinya adalah nafas, agar pikiran bisa terbang tinggi dan bisa menjadi sahabat dalam kegembiraan, nafasnya panjang dan dalam.
Bila diperhatikan, setiap bentuk pikiran memiliki ritme nafas yang berbeda. Ketika kita marah, sedih dan takut, ritme nafas kita pendek dan cepat dan sebaliknya ketika kita berbahagia, pikiran terfokus, pola nafas kita panjang dan dalam. Ketika perasaan dan pikiran positif hadir, energi meningkat, sehingga kita bisa menyelesaikan berbagai hal yang sulit. Dalam Yoga Sutra Patanjali, dikatakan, bila pikiran kacau, buang nafas dalam, kemudian Tarik nafas, tahan nafas, buang nafas, lakukan dengan hitungan yang sama, saat menarik, menahan dan membuang nafas.
Menyepi, membantu kita mengenali diri kita seutuhnya, bahwa kita dibentuk oleh tubuh, pikiran, hati dan jiwa. Untuk bertumbuh dan bertransformasi seutuhnya, maka tubuh dilatih untuk memiliki ketrampilan yang menjadi penyelamat dalam hidup, pikiran dikembangkan dengan pengetahuan yang baik, hati dihiasi dengan cinta dan dedikasi, dan jiwa diwarnai dengan kebaikan dan belas kasih tak bersyarat. Sehingga kita bisa tumbuh indah disegala musim seperti bunga kamboja, tetap berbunga di tengah gurun. Atau menjadi bunga Padma, melewati lumpur dan air berkembang menuju cahaya.
Putri saya Kadek Ayu Saragita bertanya, Apakah praktik Nyepi masih relevan di saat ini? Tentu Saja!
Kini, nyepi / silent telah menjadi trend dunia, Google, Aetna, General Mills, Intels, Target, dll menawarkan pelatihan meditasi, mengajak karyawannya menarik diri dari kesibukan, menyepi, program yang disebut dengan “Search Inside Youself” “Awake@Intel mindfulness program”, “Meditating Merchants” Hasilnya, karyawan mengalami peningkatan konsentrasi, kinerja, produktivitas, ketenangan pikiran dan kemampuan mengatasi stres sebagaimana dicatat oleh Harvard Manage Mentor.
Tidak berhenti di situ, Silence Course menjadi produk yang laris, saya pernah mengikuti program ini di tahun 2017, pesertanya berasal dari berbagai negara dan agama bahkan ada dari kelompok atheis. Di program ini, kita diajak untuk mona brata, melakukan yoga, pranayama dan meditasi selama seminggu. Di akhir session, tatkala ditanya pengalaman masing-maisng, setiap orang merasakan transformasi diri dalam bentuk yang berbeda.
Ini bukti nyata betapa beruntungnya kita diwarisi praktik nyepi, sebuah aktivitas yang membantu kita mengatasi stress, menyembuhkan penyakit, menemukan solusi dari permasalahan kompleks, berfikir kritis dan kreativitas, serta menemukan ide-ide baru dalam hidup keseharian. Meningkatkan komunikasi, dan meningkatkan keahlian problem solving dan decision making, karena kita mampu berkomunikasi tanpa diganggu oleh berbagai bentuk pikiran dan perasaan. Ketrampilan yang dibutuhkan untuk mengatasi ketidakpastian, kehidupan yang penuh gejolak, ketidakpastian, kompleksitas dan ambiguitas. Keheningan merupakan pintu utama atau langkah pertama memasuki wilayah-wilayah rahasia di dalam diri. Manakala satu wilayah tersentuh, transformasi terjadi. Praktik nyepi mengharmoniskan pikiran dan hati, meningkatkan keyakinan diri dan kegigihan. Rig Veda menasehatkan “Ketika terdapat keharmonisan antara pikiran, hati dan keteguhan/kegigihan maka tidak ada sesuatu pun yang tidak mungkin.”
Akhirnya ijinkan saya mengutip Tembang Totaka.
Sasi wimba haneng gata, mesi banyu.
Ndanasing suci nirmala, mesi wulan.
Iwa mangkana, rakwa kiteng kadadin.
Ringangambeki yoga, kiteng sekala
Seperti bayangan bulan yang terlihat pada tempayan yang berisi air.
Tetapi hanya pada air yang bersih tanpa kotoran saja bayangan bulan itu akan nampak”.
Seperti itulah Tuhan dalam kehidupan ini.
Hanya pada manusia yang taat melaksanakan yoga Tuhan itu akan menunjukkan diriNya secara nyata.
Abu Dhabi, 23 Feb, 2022, Made Mariana


