Setiap orang ingin berbahagia dan sejahtera, tetapi tidak semua orang mendapatkannya, apalagi hidup di era industrialisasi dan globalisasi saat ini yang ditandai dengan kehidupan serba cepat, persaingan kuat, target ketat, too much to do and too little time and energy. Jika tidak hati-hati, orang mudah mengalami kelelahan, stress dan sakit.
REVOLUSI INDUSTRI 5.0 DAN SOCIETY 5.0
Tidak bisa dipungkiri, kehidupan terus bergerak maju, masyarakat terus berkembang mulai dari masa berburu (Society 1.0), bercocok tanam (Society 2.0), industry (Society 3.0), informasi (Society 4.0) hingga kini kita telah berada pada super smart society (Society 5.0).
Demikian pula revolusi industrialisasi berkembang mulai dari:
- Revolusi industry 1.0 ditandai penemuan mesin uap oleh James Watt di Britania Raya abad ke-18 untuk memproduksi barang;
- Revolusi industry 2.0 awal abad ke-20 ditandai dengan pembangkit tenaga Listrik dan motor bakar (mobil), aassembly line dan conveyor belt memudahkan proses produksi;
- Revolusi industri 3.0 pada akhir abad ke-20 ditandai dengan hadirnya teknologi digital dan internet (computer dan robot), ruang dan waktu tidak lagi menjadi jarak, banyak tenaga kerja digantikan mesin (computer + robot), penggunaan mesin-mesin digital/canggih untuk melakukan produksi yang cepat dan berkwalitas. Sehingga mengurangi peluang kerja semakin sempit.
- Awal abad ke-21 revolusi industry 4.0, penggabungan teknologi otomatis dengan siber, menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan brbagai bidang kehidupan manusia. Kunci pertahanan adalah kemampuan adaptasi dan kelincahan mencapai tujuan, seperti, ojek online, pembayaran digital, penggunaan data besar yang diproses dan diolah untuk menghasilkan keputusan logis melalui algoritma yang ada. Ada empat teknologi yang mendominasi dunia industry; high-speed mobile internet, AI (artificial intelligence), cloud technology, serta big data analytics. Misalnya, layanan Uber (transportasi), Airbnb dalam bidang pariwisata. Para era ini, setiap orang dituntut untuk memahami teknologi serta menggunakannya dan mengimplementasikannya ke kehidupan sehari-hari agar dapat bersaing dengan segala otomasi yang ada di era ini. Focus industry 4.0 adalah efektivitas produksi.
- Sebagian negara seperti Indonesia masih beradaptasi dengan revolusi industry 4.0, di belahan bumi lain telah berkembang revolusi industry 5.0 muncul dengan focus kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, mempromosikan keseimbangan antara efisiensi dan produktivitas industry dengan menggabungkan teknologi dan kecerdasan manusia, ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana dalam Hindu.
MODERNISASI DAN DISHARMONI
Bila tidak siap, kehadiran revolusi industri 5.0 dan Society 5.0 tidak memberikan berkah malah mendatangkan masalah dan musibah bagi kita, mengalami kelelahan, ketegangan, stress dan sakit. Di jaman kita, stress merupakan kontributor terbesar tingkat kematian baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kebudayaan Modern adalah kebudayaan yang antroposentris, berpusat pada manusia. Perspektif manusia yang menganggap dirinya sebagai penguasa alam semesta dapat menimbulkan terjadinya disharmoni manusia dengan lingkungannya.
Disharmoni buana agung (alam semesta) dan buana alit (manusia) menimbulkan bencana alam di bumi, manusia tidak menjaga alam, maka alam tidak bisa memberikan kehidupan pada manusia. Pada level individu disharmoni jiwa dan tubuh mengundang berbagai penyakit di dalam diri manusia.
Ayurveda, or science of life, Ilmu kuno tentang kesehatan dan penyembuhan, menjelaskan segala sesuatu di alam semesta terdiri dari lima elemen utama yaitu, ruang, udara, api, air dan tanah, di Indonesia disebut dengan Panca Maha Butha.
Keseimbangan kelima elemen ini sangat penting untuk kesehatan jiwa dan raga (tubuh dan pikiran). Lalu bagaimana caranya agar kita mampu memiliki keseimbangan dari kelima unsur ini? Mari kita mulai dari diri sendiri.
HARMONI LIMA ELEMEN (PANCA MAHA BUTHA) UNTUK KESEHATAN DAN KEBAHAGIAAN
Ayurveda menjelaskan segala sesuatu di alam semesta terbentuk dari lima elemen (tanah, air, api, udara dan ruang), termasuk manusia. Ketika tidak terjadi keseimbangan dalam diri manusia, seseorang mengalami sakit.
Tentu ada banyak cara mengharmoniskan kelima elemen-elemen ini, tanpa mengurangi rasa hormat pada metoda-metoda yang ada, ijinkan saya membahas metoda yang berhubungan dengan Hari Suci Nyepi. Salah satu makna dari Shiva / Siwa adalah Ultimate Silence, Parama Shanti, Nyepi lan Ngewindu. Mengharmoniskan lima elemen dengan chanting Panchakshari Mantra yang terkait dengan lima elmen ini, yaitu Na Ma Shi Va Ya, masing-masing, Na elemen tanah, Ma elemen air, Shi elemen Api, Va elemen angin dan Ya elemen Ether/Ruang.
Di dalam Tantra Yoga dijelaskan bahwa lima elemen-elemen ini di dalam tubuh manusia dan terhubung dengan chakra. Cakra adalah pusat-pusat kejiwaan di dalam tubuh manusia yang aktif sepanjang waktu, terlepas apakah kita sadar atau tidak. Energi yang bergerak melalui cakra menciptakan keadaan jiwa yang berbeda-beda. Ilmu biologi/modern menjelaskan energi ini akibat dari perubahan-perubahan kimia di dalam tubuh. Para ahli philoshopy timur mengaitkan perubahan-perubahan kimia dengan lima elemen dasar (tanah, air, api, udara dan akasa/ether). Elemen-elemen ini secara konsisten datang dan pergi dengan irama sircadian (alat musik) di dalam tubuh. Para yogi bisa memrogramkan diri mereka untuk menyelesaikan banyak hal dengan menggunakan energi seefisien mungkin, dengan japa mantra dan mengilusikan/memvisualisasikan kehadiran enam cakra yang disebut Kshata Chakra Bhedana. Lima chakra pertama terhubung dengan lima elemen tadi.
Di Bali Usadha, penyembuhan diajarkan dengan menyadari kelima elemen ini di dalam tubuh manusia.
Ketika kelima elemen ini mengalami harmoni, kesembuhan, keheningan mendalam/Nyepi dan kedamaian mendalam/parama shanti tercapai. Sepi/Nyepi bisa membawa kita pada kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan.
RANGKAIAN HARI RAYA NYEPI
Di Hari Nyepi, kita diundang pulang ke rumah keheningan. Rangkaian Hari Nyepi mempercepat proses perjalan menuju ke dalam, berjumpa Shiva (keheningan) di dalam diri. Mulai dengan membersihkan diri (buana alit) dan alam semesta (buana agung) lewat upacara melasti, mensinergikan energi dari alam bawah, tengah dan alam atas (bhur, bhuwah, swah) lewat tawur kesanga/mecaru, frekuensi keriuhan diluar dinaikkan ke puncaknya dengan membuat suara gaduh saat pengrupukan, baru kemudian memasuki sipeng /menyepi, menuju keheningan dengan kendaraan Catur Brata. Mengurangi aktivitas pikiran dengan mengendalikan sumber energinya (amati geni dan upawasa) mematikan api amarah, api kecemasan, api kesedihan dan sejenisnya, api-api yang membangkitkan racun dalam tubuh kita seperti nor-adrenalin yang berbahaya itu.
Mengurangi konsumsi energi karena gejolak perasaan dengan menjalankan amati lelangunan. Kemudian, menyimpan energi dengan praktik monabrata, amati lelunganan, dan amati karya. Akan lebih baik lagi bila diisi energi dengan praktik pranayama, japam (mengulang-ulang mantra) dan meditasi. Sehingga bertemu cahaya (ngembak geni), sepert cahaya kecil berupa solusi dari persoalan yang dihadapi, atau siapa tahu diberkahi cahaya agung pencerahan, walau sudah berjumpa cahaya, tetap rendah hati dengan melakukan silakrama (saling memaafkan).
TRI HITA KARANA
Tetapi, keheningan di dalam tidak serta-merta mengantarkan kita pada kebahagiaan berkelanjutan, karena sebagai manusia kita tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain dan lingkungan, untuk itu leluhur mengajarkan tiga hubungan harmonis yang patut dicapai / three causes of human well-being, living sustainably in peace and harmony, yang disebut dengan Tri Hita Karana, yaitu Spirituality (Parahyangan), Solidarity (Pawongan) dan Symbiosis (Palemahan).
PARAHYANGAN
Parahyangan/Spirituality
Diwujudkan dengan selalu harmoni dengan sumber dari segala sumber energi kehidupan (Shiva) dengan menjalankan intisari Nyepi setiap hari, Melampaui dualitas dengan melakukan sembahyang, japam, yoga, meditasi, puasa dan melakukan yadnya (korban suci yang tulus ikhlas).
Nyepi dicapai dengan melampaui dualitas positif dan negatif (Tamas, Rajas dan Satwam), lampaui pikiran (meditatif/dhyana) dengan memasrahkan seluruhnya pada sumber segala energi (Shiva) lewat Bhakti Yoga denga sarana rasa welas asih (love and compassion), Bekerja tanpa ikatan/pamrih (Karma Yoga), melepaskan ego dan membangkitkan kesadaran dengan belajar (Jnana Yoga), Berjumpa Shiva di dalam diri dengan praktik pengendalian diri dan konsentrasi (Raja Yoga).
PAWONGAN
Pawongan/Solidarity
Sebagian persoalan hidup manusia masalah relasi dengan orang lain, pawongan yang didasari cinta dan welas asih (Aham Prema, saya cinta dan welas asih, hadir untuk berbagi cinta kasih), dama, tri kaya parisudha, tat twam asi, vasudaiva kutum bakam, membantu mengurangi atau bahkan mengeliminasi masalah hidup karena relasi.
Memelihara hubungan harmonis dengan sesama manusia, dimulai dari anggota keluarga, para-Guru, teman bermain, teman sekolah, teman kerja, masyarakat, dan pegawai pemerintah.
PALEMAHAN
Tatkala lingkungan (alam) dijaga, maka lingkungan (alam) akan menjaga kehidupan kita, sebaliknya bila alam tidak dijaga, akan mendatangkan musibah. Bila kita perhatikan, sebagian besar waktu kita berada di rumah, di tempat kerja atau di sekolah, untuk itu aplikasi nyata ajaran Palemahan ini, secara detail bisa kita aplikasikan di ketiga tempat ini. Menjaga keharmonisan dengan lingkungan, mulai dari lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, lingkungan tempat suci, dan alam sekitarnya.
Bagaimana caranya?
5S MANAJEMEN KUALITAS DARI JEPANG
Ijinkan saya mengambil pelajaran dari negari Sakura Jepang yang dikenal dengan konsep Lean Thinking (hidup minimalis) dengan mengaplikasikan 5S yang di Indonesia berkembang menjadi 5R, yang menjadi dasar perusahaan-perusahaan besar di berbagai belahan dunia seperti Toyota, Amazon, Nike, Cutterpillar Inc., Ford, General Electric, dstnya.
Ketika ditugaskan menjadi lead auditor untuk 5S di tempat kerja, saya menyaksikan betapa praktik ini mampu mentransformasikan tempat kerja menjadi sangat rapi, indah dan memudahkan pekerjaan, meningkatkan efisiensi, kenyamanan, kesehatan, keselamatan, keamanan dan produktivitas karyawan.
Bila direnungkan, konsep ini bisa diapplikasikan di lingkungan rumah untuk meningkatkan Kesehatan, keselamatan dan produktivitas anggota keluarga sehingga meningkatkan kesejahteraan selaras dengan konsep Pelemahan dalam Tri Hita Karana.
- Seiri / Sorting / Ringkas: Pilih barang yang diperlukan, singkirkan barang yang tidak diperlukan.
- Seiton / Organizing/ Simplify / Rapi: Simpan barang di tempat yang sesuai agar mudah dicari saat dibutuhkan
- Seiso / shining/cleaning / Resik: Membersihkan rumah dari debu, kotoran dan sampah (bebas debu kotoran dan bau).
- Seiketsu / Sanitizing / standardizing / Rawat: Menjaga konsistensi hasil yang telah diwujudkan pada ringkas, rapi, resik (3R) sebelumnya, dengan membuat standarisasi atau membakukannya.
- Shitsuke/Sustaining / Rajin: Disiplin melakukan Ringkas, Rapi, Resik dan Rawat.
5S membantu meningkatkan keteraturan, kebersihan, dan efisiensi dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini membantu kita memperbaiki cara menyimpan dan mengatur barang-barang kita di rumah, sehingga memudahkan kita menemukan barang yang kita butuhkan lebih cepat dan lebih mudah menghemat energi dan waktu. Meningkatkan kebersihan, mengurangi limbah dengan membuang barang-barang yang tidak dibutuhkan dan rusak, menyumbangkan, menjual barang-brang yang layak pakai. Efisiensi meningkat karena barang-barang yang sering dibutuhkan mudah dijangkau. Meningkatkan keselamatan dan kesehatan fisik dan mental, dengan menjaga linkungan rumah bersih, teratur, dan rapi.
HOARDING DISORDER
Hoarding disorder adalah perilaku gemar menyimpan atau bahkan menimbun barang karena anggapan bahwa barang tersebut akan berguna di kemudian hari, mengingatkan pada suatu peristiwa, atau merasa aman ketika dikelilingi benda-benda tersebut.
Penyakit psikologis ini kerap menimbulkan masalah bagi pengidap, orang lain dan lingkungan ia berada. Energi yang disimpan oleh barang-barang tua dan rusak tidak baik. Penumpukan di rumah mengurangi ruang dan pergerakan, kerap menimbulkan un-safe condition (berbahaya), terlalu banyak barang, bisa tersandung, tertimpa barang, bisa menimbulkan bau, menjadi sarang tikus, kecoak, laba-laba dstnya.
Mencari dan menyimpan barang dalam jumlah berlebihan merupakan gejala awal hoarding disorder.
Seorang kolektor cenderung memajang barang-barangnya secara rapi, bersih, dan terorganisir, seperti dalam etalase atau rak. Kolektor mengoleksi barang secara sehat sehingga tidak akan mengganggu pergerakan atau aktivitas di dalam rumah atau tempat tinggal
5S – SEIRI / SORTING / RINGKAS
- Memilah barang-barang yang diperlukan dengan yang tidak diperlukan.
- Hanya barang yang diperlukan ada di dalam rumah dan jumlahnya tidak berlebihan
- Menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan (disumbangkan, di jual, dimusnahkan)
Linght Packing saat melakukan perjalanan, bawalah barang yang diperlukan saja, sehingga beban menjadi ringan dan perjalanan menjadi menyenangkan.
Di Bali diajarkan aji kelepasan, maksudnya, belajarlah untuk melepaskan, mulai dari melepaskan kemarahan, kebencian, irihati, dan bentuk-bentuk energi negatif, agar perjalan hidup kita ke depan semakin ringan dan menyenangkan.
5S – SEITON / ORGANIZING / RAPI
A place for everything and everything in its place
Setelah menyingkirkan barang yang tidak dibutuhkan, selanjutnya memutuskan berapa banyak barang yang disimpan dan dimana menyimpannya, Langkah ini disebut Seiton, penataan/Rapi.
Penataan artinya menyimban barang dengan memperhatikan efisiensi, mutu, keamanan, dan mencari cara penyimpanan yang optimal.
Contoh, penataan peralatan dapur/masak, bumbu-bumbu dapur, obat-obatan, buku di ruang belajar, peralatan bekerja (sapu, mesin vacum, dll), dstnya.
Langkahnya:
- Barang-barang yang sering digunakan/dipakai dekatkan pemakai (sepatu, sendal, kunci rumah, dstnya)
- Barang-barang yang jarang digunakan tempatkan agak jauh dari pemakai (barang yang dipakai setiap minggu/week-end, diletakkan di rak paling atas atau paling bawah)
- Barang-barang yang sangat jarang dipakai ditempatkan di Gudang atau disimpan di luar rumah (peralatan pertukangan / untuk berkebun/ bertaman bagi yang profesinya bukan tukang), dokumen akte lahir, ijazah, sertifikat penghargaan, sertifikat tanah,
Kelompokkan barang sesuai dengan keperluan di tempat kerja (dapur) misalnya (sendok, garfu, pisau, dikelompokkan di tempat yang sama), penggorengan, polanya (uniform = yang sama dikelompokkan di tempat yang sama.
Penempatan juga mempertimbangkan ukuran (dimensi ruang yang dibutuhkan), panci/penggorengan ukuran besar taruh dibawah (di atas – jatuh kena kaki/anggota tubuh)
Mempertimbangkan aspek ergonomi dalam menata barang-barang di rumah. Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana suatu pekerjaan itu fit dengan tubuh manusia. Mempelajari tentang interaksi hubungan manusia dengan system kerjanya. Berkaitan dengan ilmu faal, anatomi, psikologi, fisika, dan teknik yang mempertimbangkan keserasian manusia dan pekerjaannya.
5S – SEISO / CLEANING/SHINING / RESIK
Kebersihan pangkal kesehatan, tanpa kesehatan sulit mencapai kebahagiaan, di dalam kitab suci Sama Veda dijelaskan, “Seseorang yang menjaga kebersihan, menjauhkan dirinya dari penyakit”
Dalam belajar dan bekerja, para sesepuh mengajari kita lewat tembang sekar alit, pupuh ginada, “De ngaden awak bisa, Depang anake ngadanin, Geginane buka nyampat, Anak Sai Tumbuh Luu, Ilang luu buka katah, Yadin ririh liu nu peplajahan”
”Janganlah Mengira Diri Pintar, Biarkan orang lain yang menilai, ibarat kita menyapu, sampah akan ada terus menerus, kalaupun sampah bersih, masih banyak debu bertebaran, Biarpun sudah pintar, masih banyak hal yang perlu dipelajari”
5S – SEIKETSU / STANDARDIZING / PEMANTAPAN
Ketika ketiganya S / R telah dilaksanakan, perlu memantapkan pelaksanaannya dengan membuat standar – standar kecil misalnya:
- Setiap orang bangun tidur merapikan tempat tidur
- Setiap orang selesai makan cuci piring
- Setiap orang pulang sekolah / kerja menaruh sepatu di rak sepatu
- Setiap orang berkewajiban menjaga kerapian tempat tidur
”Bangun Tidur Ku Terus Mandi, Tidak Lupa Menggosok Gigi, Habis Mandi Ku Tolong Ibu, Membersihkan Tempat Tidurku”
SHITSUKE / SUSTAINING/RAJIN/ PEMBIASAAN
Akhirnya, pelaksanaan 4S /4R dijadikan kebiasaan agar memberikan manfaat optimal dan berkelanjutan. Seperti nasihat Lao Tzu:
“Jaga pikiranmu, karena pikiranmu akan menjadi kata-katamu; jaga kata-katamu, karena kata-katamu akan menjadi tindakanmu; jaga tindakanmu, karena tindakanmu akan menjadi kebiasaanmu; jaga kebiasaanmu, karena kebiasaanmu akan menjadi karaktermu; jaga karaktermu, karena karaktermu akan menjadi takdirmu.”
Take Away / Kesimpulan
Tatkala berjumpa Sepi di dalam (Nyepi), kreativitas meningkat, kesuksesan meningkat, kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan tercapai. Ketika setiap orang berbahagia dan sejahtera, dunia akan sejahtera.
Tri Hita Karana filosofi keseimbangan/keharmonisan hubungan dari Bali untuk meraih kebahagiaan/kesejahteraan, menjaga harmonis dengan sumber energi dan kehidupan, sesama manusia dan lingkungan.
5S / 5R adalah managemen kwalitas dari Jepang untuk meningkatkan kwalitas kehidupan (kebersihan, efisiensi, kenyamanan, keamanan, meminimisasi limbah, meningkatkan kolaborasi/team work).
Kedua konsep ini membantu kita meningkatkan kwalitas hidup, dengan pendekatan prilaku pada lingkungan
PETIKAN SLOKA DARI VEDA
Semangat seseorang diuji dari kesulitan dan ia yang tetap teguh pada keyakinan akan keluar dengan bercahaya – Sama Veda
Hanya Mereka yang bekerja keras akan dapat meraih sesuatu. Duduk diam atau berharap akan sesuatu tanpa melakukan usaha apapun merupakan kebodohan – Sama Veda
Mereka yang teguh bekerja untuk tujuannya dengan keyakinan pasti, maka tujuannya akan selalu terpenuhi – Rg Veda
Ketika terdapat keharmonisan antara pikiran, hati, dan keteguhan /kegigihan maka tidak ada sesuatupun yang tidak mungkin – Rig Veda
Sarve bhavantu sukhinah, Sarve santu niramayah, Sarva bhadrani pasyantu, Ma kaschit duka bhag bhavet, Om Loka samasta sukhino bhawantu. Semoga semua hidup bahagia, Semoga semua menikmati kesehatan yang baik, Semoga semua mendapatkan keberuntungan, Semoga tiada seorangpun mengalami kesedihan, Semoga damai dimana-mana.
Om Shantih, Shantih, Shantih Om.


