PESANTIAN WARGA HINDU RUWAIS – ABU DHABI
Jumat 19 Juni 2009
Made Mariana
Om Swastyastu,
LATAR BELAKANG:
Didorong oleh keinginan untuk maju, untuk meningkatkan diri baik dari sisi financial, ilmu, pengalaman maupun dari sisi yang lain, kita mengambil keputusan untuk merantau ke negeri orang, meninggalkan keluarga, sahabat, tanah air yang kita cintai.
Tinggal jauh dari kampung halaman di negeri sebrang yang dikenal dengan negeri kurma atau negeri gurun pasir, kita jauh dari kebiasaan-kebiasaan di negeri kita. Setiap hari raya kita bisa pergi sembahyang bersama, melakukan aktivitas rekreasi bersama keluarga dan kerabat serta teman-teman.
Disadari atau tidak perlahan tapi pasti kita mulai mengalami peningkatan diberbagai sisi, mulai dari ketrampilan berkomunikasi dengan berbagai bangsa, peningkatan percaya diri, peningkatan financial, pengalaman, pengetahuan dan keahlian. Ini secara umum disebut ilmu secular.
Idealnya kemajuan ilmu secular harus diimbangi dengan kemajuan ilmu spiritual. Agar tercipta kondisi mental yang stabil, berpengetahuan tinggi, berkeahlian mumpuni, dan memiliki pengalaman segudang dengan kebijaksanaan dalam laku dan kedamaian di hati.
Namun tanpa bisa kita hindari pula, ada beberapa penurunan di bidang-bidang tertentu dalam diri kita, lantaran kurangnya fasilitas atau sarana prasarana, bedanya komunitas, membuat kita melupakan tradisi perlahan demi perlahan. Salah satu bidang itu adalah ilmu spiritual.
Didorong oleh perasaan jengah dimana semeton muslim yang berdomisili di Ruwais memiliki kegiatan teratur berupa pengajian mingguan, demikian pula umat kristiani memiliki kegiatan teratur berupa kebaktian mingguan, masak sih kita umat hindu tidak memiliki aktivitas apapun guna menjaga keimanan kita?
Ada kebiasaan yang sangat bagus yang dimiliki oleh leluhur kita yang bisa kita kembangkan, walaupun jauh di negeri seberang. Kebiasaan ini disebut dengan PESANTIAN. Pesantian berasal dari kata Santi = Damai. Tujuan utama pesantian ini adalah terwujudnya kedamaian di hati setiap anggotanya dan kedamaian di sekitarnya. Karena dalam kondisi damailah kita bisa mengoptimalisasikan potensi diri untuk maju meraih segala cita.
Pesantian ini mirip dengan Pengajian di umat muslim. Warisan leluhur yang patut kita jaga dan lestarikan.
AKTIVITAS PESANTIAN:
Bicara tentang damai, dimanakah letaknya damai itu…?, damai adalah sebuah perasaan yang ada di dalam diri manusia. Bagaimanakah menciptakan kedamaian itu…? Dengan menciptakan keharmonisan antara sistim di dalam diri setiap manusia. Dengan menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan yaitu mengikuti aktivitas spiritual yang tersurat dalam kitab suci kita. Menjaga keharmonisan hubungan dengan sesame manusia. Menjaga keharmonisan dengan lingkungan. Dimanakah kita bisa menemukan petunjuk atau guidance untuk mengimplementasikan semua itu… ? Di dalam kitab suci kita. Oleh karena itu maka aktivitas pesantian itu adalah:
- Berdoa/sembahyang/meditasi bersama.
- Dharma Gita, membaca kitab suci (Veda, Bhagavadgita, Sarassamuccaya, Wrehaspati Tattwa, Dharma Sastra, Itihasa (Mahabharata dan Ramayana), Upanisad, lontar-lontar penginggalan leluhur
- Dharma Vacana (Mendengarkan ulasan/tafsir dari kitab suci, mendengarkan penjelasan atau artikel dari seorang pembicara yang mengerti bidangnya, sifatnya satu arah).
- Dharma Tula (Berdiskusi, Tanya jawab tentang spiritual dan kehidupan dengan segala problematikanya) sifatnya dua arah, ada yang bertanya ada yang menjawab.
Dalam kesempatan ini, perkenankan saya membawakan beberapa materi yang mudah-mudahan bermanfaat bagi rekan-rekan di sini, bisa memberikan motivasi untuk tabah dan kuat menjalani setiap aneka peristiwa hidup dengan suka dukanya.
- Aktivitas Agama Hindu Sehari-hari, kenapa mesti melakukannya…?
- Pandangan Agama Hindu tentang sex bebas, kumpul kebo, aborsi dan sejenisnya.
- Topik-topik lain yang semeton sami minati tiang siang untuk membawakannya.
WAKTU & PELAKSANAAN PESANTIAN
Mengingat sulitnya jadwal kerja dari para semeton sami dan adanya kegiatan ekstra dari para semeton untuk memenuhi kehidupan sehari-hari seperti shoping, chating/browshing, jalan-jalan, setelah diskusi dengan Ketut Gunawan ada baiknya kita bisa meluangkan waktu satu jam saja perminggu. Yaitu hari Jumat’ pukul 13:00 – 14:00 waktu Ruwais,
Di Asrama Danat kamar Ketut Gunawan.
Waktu ini sifatnya sangat terbuka artinya bisa berubah-ubah sesuai dengan ketersediaan waktu semeton sami.
AKTIVITAS SEPRITUAL UMAT HINDU
Upaya menciptakan dan menjaga keharmonisan ini Umat Hindu melakukan kegiatan rohani yang secara garis besar dibagi menjadi dua:
- Nitia karma : Aktivitas Sehari-hari (daily); Trisandhya, Yadnya Sesa
- Naimitika karma: Aktivitas pada hari-hari tertentu, periodi atau berkala seperti; purnama dan tilem, tumpek, hari raya galungan dan kuningan, hari raya nyepi, hari raya siwaratri, hari raya saraswati
- 1. NITIA KARMA
Berikut ini beberapa contoh aktivitas spiritual untuk kegiatan sehari-hari.
Dewa Yadnya:
- Trisandhya dan Sembahyang
- Yadnya Sesa/Saiban;
Manusia Yadnya:
- Mesila karma, mesuka duka
- Mepunia
- Mengasihi setiap umat manusia, tidak menyakiti mahluk lain.
Pitra Yadnya:
- Menjaga nama baik keluarga
- Berbakti kepada orang tua
- Memuja Leluhur
Rsi Yadnya:
- Mengaplikasikan ajaran para Maha Rsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari
- Menghormati guru dan para Pandita dan Pinandita
Butha Yadnya:
- Menjaga lingkungan tetap bersih dan rapi, tidak buang sampah sembarangan
- Menghaturkan yadnya sebelum makan kepada mahluk-mahluk bawahan baik yang tampak maupun tidak tampak
- Menyayangi tumbuhan dan hewan.
- 2. NAIMITIKA KARMA
Pelaksanaan Hari-hari Raya yang ada aturannya tersendiri dimana di dalamnya telah mencakup Yadnya kepada; Tuhan, Leluhur, Manusia dan Lingkungan (Butha).
LAMPIRAN 1
Trisandhya
| Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi (brahma muhurta 04:00-06:00 pagi), siang (rahina puja : 12:00) dan malam hari (Sandhya puja = 06:00-08:00 malam). Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Tri = Tiga, Sandhya = pergantian waktu. Kita memuja Tuhan saat masa pergantian waktu. Masa transisi biasanya adalah masa yang labil penuh dengan gejolak. Dimasa inilah kita perlu mendekatkan diri untuk memuliakan Tuhan sehingga dalam seluruh aktivitas kita sehari-hari tidak melenceng dari ajaran agama kita. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.
Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh disebut bajrasana dan yang berdiri disebut padasana. Setelah sikap badan itu baik, dilanjutkan dengan pranayama. Pranayama artinya mengatur jalannya nafas. Gunanya: untuk menenangkan pikiran dan mendiamkan badan menyadari proses bekerjanya pikiran, bila pikiran dan badan sudah tenang maka barulah mulai bersembahyang. Sikap tangan waktu bersernbahyang disebut sikap amusti. Mata memandang ujung hidung/tertutup dan pikiran ditujukan kepada Sanghyang Widhi. Dalam keadaan seperti itu, sabda, bayu, idep harus dalam keadaan seimbang. Sebelum mengucapkan mantram, kedua tangan kita bersihkan dengan mantram demikian: |
|||||||||||||||||||||
Tangan kanan:
|
|||||||||||||||||||||
Tangan kiri:
|
|||||||||||||||||||||
| Mantram Trisandhya | |||||||||||||||||||||
|
Kupasan dari Mantra Trisandhya:
Mantra Pertama
Puja Trisandhya terdiri atas 6 mantram. Mantram pertama disebut gayatri mantram, menurut nama iramanya, yaitu gayatri. Irama-irama lain misalnya:
Di dalam Rg Veda III. 62. 10, kata bhur bhuvah svah tidak ada pada mantram ini. Tambahan bhur bhuvah svah itu terdapat pada Yajur Veda Putih 36. 3. Gayatri mantram adalah mantram yang paling mulia di antara semua mantra. Ia adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua mantra. la adalah ibu mantram, dinyanyikan oleh semua orang beragama Hindu waktu sembahyang. Mengapa mantram ini yang paling mulia, ibu dari semua mantram? Inilah keterangannya:
Suatu sebab mengapa gayatri dipandang dan yang mewakili segala di dalam Veda ialah karena ia adalah doa untuk daya kekuatan yang dapat dimiliki orang ialah: “dhi” yaitu kecerdasan yang tinggi yang memberikan padanya pengetahuan, materi dan kemampuan mengatasi hal-hal keduniawian. Sebagai halnya mata bagi badan, demikian “dhi” atau kecerdasan untuk pikiran.
|
|||||||||||||
| Mantra Kedua | |||||||||||||
| Pada mantram ini pemuja memuja Tuhan seru sekalian alam, yang suci tak ternoda. Beliau hanya tunggal tidak ada yang kedua. Mantram ini adalah salah satu dari suatu rangkaian mantram yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala).
Catur Veda Sirah ini adalah salinan Narayana Upanisad, sebuah Upanisad kecil. Di sini dinyatakan bahwa Tuhan adalah segalanya yang luput dan segala noda. Tuhan itu hanya Esa belaka. Mantra Ketiga |
|||||||||||||
| Oleh pemuja Tuhan yang Tunggal disebut dengan banyak nama. Beliau disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu dan Rudra. Masih banyak lagi sebutan-Nya. Di dalam kitab-kitab suci agama Hindu kila dapati sebutan beliau berpuluh-puluh banyaknya. Tuhan dipuja orang dalam berbagai-bagai perwujudan-Nya. | |||||||||||||
| Mantra Keempat
Pemuja mengatakan dirinya serba hina serba kurang serba lemah. Hina kerjanya, hina diri pribadinya, hina lahirnya. Karena itu ia mohon kepada Tuhan untuk dilindungi dan dibersihkan dari segala noda. Tuhanlah pelindung tertinggi dan Tuhanlah melimpahkan kesucian untuk dia yang setia mengamalkan ajaran-Nya. Dalam mantram ini pemuja mengatakan pengakuannya bahwa ia adalah mahluk yang lemah. |
|||||||||||||
| Mantra Kelima
Pemuja mohon ampun kepada Tuhan, penyelamat semua makhluk. Ia mohon dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa. Ia mohon untuk dijaga, karena beliaulah penjaga semua makhluk di manapun dan kapanpun juga. Tuhan adalah kuasa tertinggi atas segala yang ada ini. |
|||||||||||||
| Mantra Keenam
Apa saja dosa anggota badan, apa saja dosa kata-kata dan apa saja dosa pikiran, pemuja memohon kepada Tuhan untuk diampuni. Manusia tidak dapat bebas dari dosa karena ia diselubungi oleh khilaf dan lalai. Bila seseorang dapat membersihkan diri dengan amal kebajikan maka kabut kekhilafan yang menyelubungi sang Pribadi akan menipis dan akan memancarkan cahaya kesucian dari Sang Pribadi yang mengantar seseorang ke alam kesadaran. Atas dasar ini kelepasan akan lebih mudah diperoleh. |
LAMPIRAN 2
Sembahyang
Sembahyang dilakukan umat untuk memuja Tuhan. Banyak macam sembahyang, ditinjau dari kapan dilakukannya, dengan cara apa, dengan sarana apa dan di mana serta dengan siapa melakukannya. Kemantapan hati dalam melakukan sembahyang, membantu komunikasi yang lancar dan pemuasan rohani yang tiada terhingga. Kemantapan hati itu hanya dapat kita peroleh apabila kita yakin bahwa cara sembahyang kita memang benar adanya, tahu makna yang terkandung dari setiap langkah dan cara.
Berikut ini adalah pedoman sembahyang yang telah ditetapkan oleh Mahasabha Parisada Hindu Dharma ke VI.
| Persiapan sembahyang |
| Persiapan sembahyang meliputi persiapan lahir dan persiapan batin. Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan nafas dan sikap tangan.
Demikian pula persiapan sarana penunjang sembahyang seperti pakaian, bunga dan dupa sedangkan persiapan batin ialah ketenangan dan kesucian pikiran. Langkah-langkah persiapan dan sarana-sarana sembahyang adalah sebagai berikut: |
| 1. Asuci laksana |
| Pertama-tama orang membersihkan badan dengan mandi. Kebersihan badan dan kesejukan lahir mempengaruhi ketenangan hati |
| 2. Pakaian |
| Pakaian waktu sembahyang supaya diusahakan pakaian yang bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat atau longgar, warna yang menyolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta setempat, supaya tidak menarik perhatian orang. |
| 3. Bunga dan kawangen |
| Bunga dan kawangen adalah lambang kesucian, supaya diusahakan bunga yang segar, bersih dan harum. Jika dalam persembahyangan tidak ada kawangen dapat diganti dengan bunga. |
| 4. Dupa |
| Apinya dupa adalah simbul Sang Hyang Agni, saksi dan pengantar sembah kita kepada Sang Hyang Widhi. Setiap yadnya dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api. Hendaknya dupa ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan teman-teman kita di sekitar kita. Selesai persembahyangan sebaiknya dupa dipadamkan dan dibuang. |
| 5. Tempat Duduk |
| Tempat duduk hendaknya diusahakan tempat duduk yang tidak mengganggu ketenangan untuk sembahyang. Arah duduk ialah menghadap pelinggih. Setelah persembahyangan selesai usahakan berdiri dengan rapi dan sopan sehingga tidak mengganggu orang yang masih duduk sembahyang. Jika mungkin agar mempergunakan alas duduk seperti tikar dan sebagainya |
| 6. Sikap duduk |
| Sikap duduk dapat dipilih sesuai dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati. Sikap duduk yang baik untuk pria ialah sikap padmasana yaitu sikap duduk bersila dan badan tegak lurus. Sikap duduk bagi wanita ialah sikap bajrasana yaitu sikap duduk bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki. Dengan sikap ini badan menjadi tegak lurus. Kedua sikap ini sangat baik untuk menenangkan pikiran. |
| 7. Sikap tangan |
| Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah cakup ing kara kalih yaitu kedua telapak tangan dikatupkan diletakkan di depan ubun-ubun. Bunga atau kawangen dijepit pada ujung jari. |
| Urut-urutan Sembahyang | ||||||
| Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti di bawah ini: | ||||||
| 1. Sembah puyung (sembah dengan tangan kosong) | ||||||
|
||||||
| 2. Menyembah Sanghyang Widhi sebagai Sang Hyang Aditya | ||||||
|
||||||
| 3. Menyembah Tuhan sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan | ||||||
| Ista Dewata artinya Dewata yang diingini hadirnya pada waktu pemuja memuja-Nya. Ista Dewata adalah perwujudan Tuhan dalam berbagai-bagai wujud-Nya seperti Brahma, Visnu, Isvara, Saraswati, Gana, dan sebagainya. Karena itu mantramnya bermacam-macam sesuai dengan Dewata yang dipuja pada hari dan tempat itu. Misalnya pada hari Saraswati yang dipuja ialah Dewi Saraswati dengan Saraswati Stawa. Pada hari lain dipuja Dewata yang lain dengan stawa-stawa yang lain pula. Pada persembahyangan umum seperti pada persembahyangan hari Purnama dan Tilem, Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa yang berada dimana-mana. Stawanya sebagai berikut: |
||||||
|
||||||
| 4. Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah | ||||||
|
||||||
| 5. Sembah puyung (Sembah dengan tangan kosong) | ||||||
|
||||||
| Setelah persembahyangan selesai dilanjutkan dengan mohon tirta dan bija. |
Om Santi Santi Santi Om
Sumber:
1. www.babadbali.com
2. www.singaraja.wordpress.com
3.www.parisada.org
4. Kumpulan diskusi dengan para Pandita dan Pinandita.
5. http://stitidharma.org
6. www.hindu-indonesia.com

