Puncak Pohon

Sejak kecil aku paling suka naik pohon, terutama yang paling tinggi di kampungku. Kampung kami ada di lereng bukit Kapas Jawa dulu waktu jaman penjajahan di kenal dengan nama Bukit Tinggi, karena kampong kami dipakai untuk menanam kapas yang bibitnya didatangkan dari Jawa maka lambat laun orang mengenal dengan nama Kapas Jawa.apart-of-my-village

Menaiki sebuah pohon memiliki tantangan dan kenikmatan tersendiri.  Karena tempat kami cukup subur berbagai macam buah-buahan bisa tumbuh, selalu hijau sepanjang waktu. Mulai dari rambutan, duku, durian, mangga, jambu air, jambu batu, pisang, leci, salak, wani, kelapa, pinang, dll. Hasil kebun seperti : cengkeh, kopi, coklatpun sangat bagus tumbuhnya

Diantara pohon-pohon itu naik pohon pinang yang paling menantang, karena tidak ada cabang-cabangnya yang bisa dijadikan tempat untuk berpegangan ataupun tempat pijakan, juga pohonnya kecil kalo ada angin kencang, pohonnya akan goyang, bagi mereka yang alergi ketinggian jangan coba-coba untuk naik pohon pinang.my-village-hill

Tidak heran bila pohon ini menjadi pilihan dalam lomba memanjat untuk meramaikan perayaan hari kemerdekaan Negara kami.Untuk menarik minat setiap pemanjat, dipunjak pohon digantung berbagai produk seperti pakaian, peralatan rumah tangga, makanan, dll.

Biasanya buah-buah yang besar ada dipuncak pohon, oleh karena itu aku paling suka naik kepuncak pohon-pohon itu. Dari puncak pohon kita juga bisa melihat pemandangan yang sangat indah, kami bisa melihat seluruh wilayah desa kami yang hijau, juga kami bisa melihat laut dan hamparan sawah yang berwarna warni. Di kampung kami ada sebuah organisasi peninggalan leluhur yang disebut dengan subak yang mengatur pembagian air dan sistem tanam padi. Subak itu ada dua yaitu : Subak lahan basah yang mengatur  pertanian/sawah dan Subak lahan kering yaitu perkebunan. Subak ini mungkin merupakan organisasi demokrasi yang paling murni di seluruh dunia. Menurut Prof. Doktor Dokter L.K Suryani dalam pidatonya pada suatu acara di Jakarta, banyak Dosen-dosen dari Amerika embahnya demokrasi mempelajari tentang Subak, bahkan Beliau sempat diundang untuk mengajar di negeri Paman Sam tersebut.

rumahku-dari-jau-02

Tinggal di pegunungan dengan pendapatan orang tua yang pas-pasan, kami tidak memiliki banyak hiburan, sehingga kami mencari hiburan tersendiri dengan bermain dengan alam. Menaiki pohon-pohon yang besar dan tinggi memberikan hiburan tersendiri bagi kami. Bila berhasil mencapai puncak kita akan mendapatkan buah yang besar senengnya bukan main, tak jarang kami saling memamerkan hasil petikan kami di depan teman-teman sepermainan.

Saat jam istirahat sekolah kami membahas bagaimana bisa mencapai puncak dan membahas betapa enaknya rasa buah-buahan yang ada pada puncak, mungkin karena buah yang dipuncak mendapat cukup sinar matahari sehingga kadar airnya tidak begitu banyak menyebabkan rasanya sangat manis.

Naik pohon yang ukurannya besar memiliki tantangan tersendiri. Teringat ketika suatu hari aku naik pohon mangga yang sudah sangat tua, lebih tua dari orang tuaku sendiri, pohonnya besar, buahnya banyak dan konon kata nenekku dari semua mangga, mangga ini termasuk yang memiliki rasanya manis dan wangi, mangga ini disebut Poh Sanih.

Pohonnya terletak di tepi lahan kebun cenggkeh yang dibawahnya ada kali kecil dan sungai yang cukup curam, sehingga tidak banyak orang yang berani naik pohon ini, kalo selip sedikit saja bisa nyawa melayang.

Karena ukurannya sangat besar dibanding ukuran tubuhku, sulit bagiku untuk menaikinya, buah-buah yang bergelantungan menguning menarik minatku semakin besar untuk memetiknya. Aku lupa kalo pohon ini letaknya cukup berbahaya. Aku berfikir sejenak, mungkin dengan bantuan beberapa batang kayu aku bisa loncat ke pohon mangga itu.

Pelan tapi pasti akhirnya aku berhasil menaiki pohon mangga itu, buahnya ternyata sangat banyak dan sudah mulai masak, air liurku menetes tak tahan aku untuk tidak mencobanya, ah…ternyata bener-bener manis, satu persatu aku petik dan makan buah mangga itu. Tanpa aku sadari hujan gerimis mulai datang, membasahi seluruh batang pohon yang dipenuhi dengan lumut.

Nenekku teriak-teriak memanggil namaku, dengan girang aku menjawab panggilan nenek sambil dengan sedikit sombong memamerkan buah mangga hasil petikanku. Nenek sangat kaget, dan sambi teriak memperingatkan aku untuk turun apalagi dengan kondisi hujan gerimis, lumut-lumut yang memenuhi setiap tahan akan menjadi tempat-tempat yang sangat licin seperti belut.

Dengan hati-hati aku lemparkan satu persatu mangga kebawah, nenek sambil terus meminta aku turun mengumpulkan mangga yang aku jatuhkan dalam keranjang bambu hasil rangkaiannya sendiri. Karena sudah puas menaiki pohon itu hingga kepuncaknya aku mulai turun, hups…kakiku terpeleset…denga cepat aku locat berusaha menggapai ranting terdekat, crakk…ternyata ranting itu sudah kering sehingga patah…tubuhku melayang, aku masih berusaha menggapai ranting yang lain ….crakkk…malang nasibku ranting itu tidak cukup kuat untuk menahan berat tubuhku. Aku merasakan perasaan yang aneh melayang dari ketinggian, bug…tubuhku membentur gundukan tanah dipangkal pohon mangga itu, tubuhku terguling karena memang tempatnya miring menuju ke bebatuan sungai dibawah .

Dengan tergopoh-gopoh nenek berusaha mengejarku, untunglah ada tonggak kayu kopi yang menahan tubuhku sehingga nyawaku selamat. Beberapa saat aku sempet gak sadarkan diri, saluran nafas dileher tertutup,  nenek berusaha mengangkat leher dan tubuhku, sambil teriak-teriak histeris, ternyata usaha nenek berhasil, aku mulai sesegukan, pernafasanku mulai normal, sambil nangis nenek memeluk tubuhku diiringi sedikit omelan karena kesel bercampur bahagia.

Dalam pekerjaanpun demikian, semakin tinggi posisi yang didapatkan seseorang, semakin banyak kenikmatan yang diperolehnya, namun apabila dia slip dan terjatuh, sakitnya luar biasa, tak jarang orang harus masuk lembaga rehabilitasi mental. Bukan hanya pisik yang menjadi korban.

Hendaknya mereka yang telah dikaruniai posisi tinggi mampu menjaganya dengan senantiasa memperhatikan yang dibawahnya, walau tampak kecil dari puncak sana.

Terimakasih tonggok kopi…

Nenek aku rindu padamu…

Oh Kampungku…aku senantiasa merindukan kehijauanmu, keindahanmu, udara segarmu, kesederhanaanmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *