Sang Kambing dan Sang Samong (Harimau)

Sang Kambing dan Sang Samong (Harimau)

Dahulu kala, di tengah-tengah sebuah hutan yang lebat, hiduplah berbagai jenis binatang, mereka hidup sangat damai. Saling bersahabat. Satu sama lain saling membantu. Pepohonan sangat rindang dan berbagai jenis tumbuhan tumbuh dengan subur. Tampaklah di sana segerombolan binatang yang sedang berkumpul. Ternyata mereka adalah sekelompok Samong (Harimau) dan Kambing.

Mereka adalah sahabat lama, mereka sedang rapat untuk menyusun rencana dan perjanjian bersama. Sang Samong membuka rapat, dengan senyumnya yang khas, dia membuka mulutnya, taringnya yang panjang dan tajam berkilauan diterpa sinar mata hari, membuat takut setiap mahluk yang lewat. Namun tidak dengan sang kambing. Dengan tenang gerombolan kambing dan samong duduk menanti pidato dari sang Samong.

“Sahabatku semua seperti tradisi kita selama ini, kita selalu hidup bersama dan saling membantu, menuju kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Saat ini musim hujan sudah mulai datang, sangat bagus bagi kita untuk bercocok tanam. Saya ingin mengetahui pendapat saudara-saudara sekalian, tanaman apa yang paling cepat menghasilkan dan rasanya enak yang patut kita tanam…?” Sesaat keluarga samong dan keluarga kambing berdiskusi, mulailah mereka mengajukan berbagai jenis tumbuhan, tomat, cabe, terong, semangka, dll.

Setelah melalui diskusi yang panjang dan a lot, akhirnya semua keluarga menyetujui untuk menanam kacang panjang. Lantas bagaimanakah pembagiannya…? Perwakilan keluarga Kambing berdiri .  Hai…Samong, kita telah sepakat dengan menanam kacang, trus bagaimana dengan pembagian hasilnya? Kita hanya punya dua produk dari tanaman kacang panjang ini yaitu; pertama adalah daunnya, yang kedua adalah buahnya. Kalian pilih yang mana…?”  Keluarga samong tampak mulai berdiskusi, mereka sibuk berbisik-bisik, demikian pula dengan keluarga kambing tidak mau kalah.

Tiba-tiba salah satu perwakilan keluarga Samong mengacungkan tangan sambil berdiri.
“Hi..Kambing, kami tidak suka dengan daun kacang, kami lebih suka dengan buahnya. Bagaimana kalo kami keluarga samong akan makan buahnya, kalian keluarga kambing makan daunnya…?” Sang Kambing melirik ke kelompoknya, sambil pura-pura berfikir, mereka mulai berargumen: Samong, buah kacang tentu lebih enak dari daun kacang, tapi karena aku menghargai kalian, dan juga kita semua harus merasakan nikmat yang sama dari hasil kerja keras kita, kami sekeluarga setuju dengan pembagian ini.

Singkat cerita, mereka semua bersemangat menyirami tumbuhan kacang, menyiangi dari berbagai tumbuhan yang lain, membawakan pupuk dari busukan dedaunan (kompos), ternyata tanaman kacang tumbuh sangat subur, daunnya lebar-lebar dan hijau sangat menggiurkan bagi sang kambing.

Sang Kambing memimpin keluarganya untuk menikmati daun kacang muda yang segar yang sedang tubuh dengan  lahapnya. Sang Samong datang menghampiri Sang Kambing seraya berkata:”Kambing kenapa kamu makan daunnya sekarang..? kamu harus tunggu dulu biar berbuah, kalo kamu makan terus daunnya, kapan dia akan berbuah….?kamu harus sabar menunggu sehingga nanti kita bisa makan bersama, seperti kita bekerja bersama?”

Sang Kambing sambil tersenyum, menimpali: “Samong kita kan sudah sepakat, kalo daunnya untuk kami, buahnya untuk kalian, jadi kami memakan yang menjadi bagian kami, kenapa kamu marah…? Ini kan termasuk dalam perjanjian, dan dalam rapat kita tempo hari tidak ada membicarakan tentang kapan kami berhak untuk menikmatinya, demikian juga kapan kalian berhak menikmatinya..?”

Sang Samong terdiam, sambik kesel dia kemudian pergi meninggalkan kebun mereka. Sementara itu anak-anak kambing mulai kwatir. ” Bunda kalo nanti Samong marah dan menyerang kita, apa yang harus kita lakukan…? Samong tenaganya besar, mereka bisa mengalahkan binatang-binatang besar, sementara kita hanya binatang lemah…? bagaimana menghadapinya..?” Rengek anak-anak kambing.

Sang Kambing mulai berfikir keras berusaha memutar otaknya. Dia tampak berjalan bolak-balik, dahinya mengernyit pertanda dia sedang sangat serius. Dia menyadari bahaya akan datang. Kesel bagi sang Samong berarti petaka bagi keluarga mereka. Tiba-tiba dia dapat akal, dia kumpulkan semua anak-anaknya. “Hai anak-anakku semua kita memang binatang yang lebih lemah dari sang Samong tapi kita tidak boleh kalah dari mereka…., Bunda punya ide, sekarang mari kita kumpulkan buah genola (semacam duet kalo dimakan bikin gigi dan lidah merah)”. “Untuk apa Bunda kata anak kambing yang paling bungsu…?”

Ikuti saja perintah Bunda, kalian besok pagi kunyah buah genola, semua Bunda perintahkan berdiri dekat sumur di samping kebun kita. Begitu Samong dan keluarganya datang Ibu yang akan menghadapinya. Melihat keyakinan diri Sang Ibu demikian kuat anak-anak kambing tidak ada yang meragukan lagi.

Dikisahkan kemudian Sang Samong sangat marah dengan kelakuan sang Kambing, dia memanggil semua keluarganya. “Sialan sang Kambing, dia mempermainkan kita, dia tidak menghargai kita, tidak bisa melihat kekuatan kita….Anak-anakku semua besok pagi kita Serang sang Kambing, kita cabik-cabik dagingnya dengan taring dan cakar-cakar kita.”.

Pagi itu semua anak-anak kambing telah berdiri di pinggir sumur sambil mengunyah buah genola. Sementara itu Sang Samong dengan keluarganya sambil mengaum terus mendekati lokasi sumur tersebut. Nyali anak-anak kambing mulai ciut mendengar raungan suara sang Samong. Muka mereka tampak ketakutan. Dengan sabar Sang Kambing berusaha meyakinkan anak-anaknya bahwa mereka akan menang.

Seperti yang diduga sang Samong sambil berteriak berlari mendekati sang Kambing: ” Hi…Kambing kamu ternyata sahabat yang jahat, kamu telah menipu kami, sekarang terimalah balasan dari kami, siapkan dirimu, sebentar lagi kalian menjadi santapan siang kami….”

Sang Kambing dengan tenang berdiri menghadap arah dari mana sang Samong dan keluarganya berjalan. Dengan lantang dia berkata: “Hi…Samong kamu kira kami gentar menghadapi kamu, kami tidak pernah menipu kalian, kami hanya makan apa yang menjadi bagian dari kami,….Sambil menatap tajam ke arah Sang Samong. Kambing berkata lantang, ….Samong, tahan langkahmu sebentar, lihatlah pada anak-anakku, serentak anak-anak kambing menyeringai memperlihatkan gigi dan lidahnya yang merah… Barusan kami telah memakan sepuluh ekor Samong, perhatikan lidah dan gigi anak-anakku, penuh bersimbah darah dari temen-temen kalian”

“Tidak mungkin… kalian hanya binatang lemah pemakan tumbuhan mana mungkin bisa mengalahkan Samong…?” kata Harimau sambil menghentikan langkahnya.

“Kamu tidak percaya…? Kami memang kecil tapi bukan berarti kami bisa kalian kalahkan dengan mudah, kalo kamu tidak percaya lihatlah ke dalam sumur, banyak sekali kepala temen-temen kamu di sana, tubuh-tubuh mereka telah kami santap sebagai sarapan pagi…. Apakah kalian mau menyusul…? Kebetulan kami belum punya makan siang”

“Setengah tidak percaya Samong diikuti keluarganya melangkah mendekati sumur, dengan sangat hati-hati mereka mendengokkan kepalanya ,tampaklah wajah-wajah mereka di dalam sumur, seketika itu pula nyali sang Samong jadi ciut, tanpa tunggu lagi mereka segera kabur…. Ketakutan, bayangan kepala mereka di dalam sumur dikira kepala dari temen-temen mereka yang disantap oleh sang Kambing”.

Sang Kambing bersorak gembira… mereka lepas dari Bahaya….

5 Comments

  1. cerita ini sangat menarik dan saya sangat suka. jika ada mohon postingkan cerita-cerita hindu yang bernafaskan kebaikan lebih banyak lagi…terima kasih.

    • om swastyastu,

      Terimakasih sudah berkunjung ke blog kami,
      Mudah-mudahan kami terus diberikan kekuatan dan waktu untuk terus berkarya.

      Santih.

      made m/abu dhabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *