Sarasamuccaya sloka 25-30
Sloka 25
Oleh karena itu caranya orang sadar, tenang sebagai tidak akan tertimpa bahaya maut, misalnya pada waktu ia berusaha menuntut ilmu pengetahuan dan mencari harta bendanya; akan tetapi pada waktu ia mengejar dharma, sebagai tampak seakan-akan maut itu merengkut kepalanya; karenanya, meski dengan terengah-engah dikejarnya juga cita-cita itu.
Sloka 26
Jika orang telah mengetahui, bahwa sang maut senantiasa mengintai dan menunggangi kepalanya, tentunya orang tidak akan rakus pada makanan, apalagi untuk melakukan perbuatan yang menyalahi dharma
Sloka 27
Karena prilaku seseorang; hendaklah dipergunakan sebaik-baiknya masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah dipergunakan untuk usaha menuntut dharma, artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda: contohnya ialah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya itu tidak tajam lagi.
Sloka 28
Dan lagi, akan upacama itu, maka masa muda sesungguhnya di sebut upacama, karena menurut kodratnya, jika upacama (masa muda) itu kedatangan masa tua, ditandai dengan berkurangnya zat-zat di dalam tubuh, yaitu mengendornya urat-urat pernafasan (hawa atau angina), empedu dan lender.
Sloka 29
Begini perikeadaan manusia/mahluk hidup, yaitu masa muda, tetap dinantikan oleh masa kanak-kanak, masa muda masa tualah yang dinantikan olehnya, jika masa tua telah tercapai, itu berarti telah berada di pangkuan maut, apakah yang masih dinantikannya? Hanya kematian saja, oleh karenanya, hendaklah dipercepat mengusahakan perbuatan yang berdasarkan dharma.
Sloka 30
Sebab segala macam penyakit itu adalah merupakan pengemudi dari maut (kematian), yang menyebabkan hidup ini menjadi kurang, jika telah berkurang usia hidup, datanglah maut, karena itu jangan alpa, hendaklah dipercepat saja berbuat baik, yang akan mengantar anda kea lam baka.

