Sebab perikeadaan orang kebanyakan (orang yang belum mencapai tingkat filsafat) Ia tidak mengerti akan hakekat dharma, dan juga tidak tahu bagaimana cara mengendalikan nafsu, yang dapat dicapainya hanyalah untuk mati tujuannya hidup, maksud matinya adalah hanya untuk lahir lagi; orang yang kebanyakan demikian keadaannya itu, bukan mati yang difikirkannya, cobalah pikirkan, kehidupannya serupa itu tiada beda dengan rumput yang mati untuk tumbuh kembai, dan tumbuhnya hanya untuk menunggu matinya. (sarassammuccaya sloka 46)
Secara umum jarang orang mengusai ajaran spritual yang dianutnya sampai ke tingkat filsafat. Mereka yang hidup, menghabiskan hidupnya tanpa mau belajar untuk mengendalikan nafsu, tidak mau belajar untuk memahami hakekat dari ajaran kesucian dan kebenaran (dharma), Mereka tampak seperti manusia namun perikehidupannya tiada beda dengan tumbuh-tumbuhan.
Padahal manusia itu lahir dilengkapi dengan Bayu (Tenaga Hidup), Sabda (Suara) dan Idep (pikiran dan kecerdasan). Sementara tumbuhan (rumput), hanya dilengkapi dengan bayu, Manusia menjadi mahluk tertinggi di bumi ini. Tentu akan sangat tidak berguna kesempatan menjadi manusia apabila dalam hidupnya, tidak memanfaatkan kelebihannya yang berupa Sabda dan Idep (Kecerdasan dan Pikiran) untuk memahami, mengaplikasikan, hakekat kebenaran dan kesucian. Agar bisa mencapai kedamaian dan kebahagiaan semasa hidup (Jagat Hita), dan pada akhirnya bisa lepas dari ikatan samsara (reinkarnasi), mencapai moksa, manunggaling Sang Hyang Atma dan Paramatma. Pada akhirnya bisa mencapai tujuan manusia hidup menurut Hindu; “ Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma”


bli Made, kalau boleh saya saranin. kalau ada sloka sarassamucaya atau yang lainnya bahasa kawinya ditulis juga, saya seneng sekali menambah pengetahuan bahasa kawi dan terjemahannya. demikian saran saya Bli,
suksme
ketut
om swastyastu,
Terimakasih ketut, telah mampir ke blog kami. Mudah-mudahan nanti edisi selanjutnya bisa disertakan bahasa kawinya.
Semoga sukses selalu
Om Santi santi santi Om