Hari ini aku malas keluar rumah, udara di Al Dannah City mencapai 16C, lebih baik menemani istri sambil menikmati kolak pisang kepok. Tiba-tiba bel berbunyi, seorang sahabat dari Jerman, pulang liburan ke Bali, membawakan oleh-oleh sebuah kalendar Bali 2023. Kami senang sekali, bagi warga perantau, kalendar Bali menjadi pengingat akan hari-hari suci. Tidak sabaran aku membuka kalendar itu … hampir saja hari suci Siwa Ratri terlewatkan. Tahun ini, Siwa Ratri jatuh pada tanggal 20 Jan 2023. Siwa Ratri dirayakan setahun sekali, tepatnya pada purwarni tilem sasih kepitu. Di tanah air, kami sering merayakan Siwa Ratri di Pura, tapi di Abu Dhabi tidak ada pura. Sesaat aku termenung, bila pura di luar tidak ada, mungkinkah mendirikan Padmasana di dalam diri melalui perayaan Siwa Ratri?
SIWA
Aku membuka kembali catatan tentang Siwa dari Sri Sri Ravi Shankar, Siwa berasal dari kata Sanskertha, “Shiva“ dapat dibagi menjadi : Sha + i + va dimana :
• Sha singkatan dari shareeram atau tubuh
• I singkatan dari Ishwari or energi kehidupan
• Va singkatan dari vayu atau aliran
Jadi Shiva mewakili tubuh dengan hidup dan gerakan / aliran. Jika “i” dihilangkan dari Shiva, akan berkurang menjadi Sha + va atau Shava yang artinya tubuh tanpa kehidupan (mayat).
Mungkin ini alasan mengapa, di Bali, mayat itu disebut Sawa, karena unsur kehidupannya telah hilang. Segala sesuatu dengan Shiva adalah dengan kehidupan, dan segala sesuatu tanpa Shiva adalah Shava atau tanpa kehidupan (kematian).
Shiva adalah seluruh alam semesta. Ia ada disetiap atom alam semesta. Shiva tidak memiliki sebuah tubuh, Ia bukan sosok atau seseorang, Ia tak terbatas, tidak dibatasi oleh tubuh, ruang, waktu dan tempat. Untuk menjelaskan sesuatu yang tak terbatas itu, kepada anak-anak muda, anak kecil dan orang lain maka dibuatlah bentuk atau simbul. Kenyataannya, tidak ada bentuk untuk Shiva.
Shiva adalah prinsip (Tattva) dari semua hal berasal, semuanya dijaga didalam-Nya, segala sesuatu larut ke dalam-Nya. Shiva adalah kesadaran murni, segalanya dilingkupi oleh Shiva. Tidak ada satupun bisa keluar dari Shiva setiap saat, disebut Mahakala (waktunya waktu), Shiva adalah kebaikan tertinggi, goal tertinggi (summon bonum) dari seluruh ciptaan. Itulah alasan mengapa tubuh Shiva dilukiskan berwarna biru menandakan langit; ketidak terbatasan yang melingkupi semuanya, yang tanpa limit/batas, dan tanpa ruang.
Shiva melingkupi semua penciptaan, dan ciptaan diwarnai oleh dualitas. Siwa disatu sisi disebut Shweth Vastra Dhaara (menggunakan pakaian terang/putih) dan di sisi lain, Ia Khrishna Varna (artinya ia gelap/hitam). Ketika kegelapan dan cahaya bersatu, menari dan bermeditasi bersama itulah Siwa.
Shiva diketahui dengan tapa dan yoga ‘Tapo yoga gamya’ (Adishankaracharya). Shiva dipahami lewat pengetahuan dari Shruti yang didengar di meditasi mendalam ‘Shruti Gyan Gamyah’ (Adishankaracharya). Shiva tidak cukup dipahami dengan kata-kata dan pikiran ‘Yato Vaco Nivartanthe aprapya manasa saha’ (Taittriya Upanishad- Yajur Veda) yang bermakna: Ia darimana kedua perkataan dan pikiran tak mampu mengerti atau memahami-Nya. Ia tak bisa dideskripsikan atau dibayangkan. Hanya lewat meditasi; melalui kebijaksanaan mendalam dari Shrutis Anda dapat memahami apa itu Shiva.
Untuk memahami Shiva para Rsi jaman dahulu merekomendasikan empat langkah berikut:
1. Mendisiplinkan ego (Anavopaya)
2. Meditasi (Anava)
3. Mengaktifkan pusat-pusat energi dengan memusatkan perhatian seseorang pada keheningan “silence” (Saktopaya)
4. Membebaskan diri dari pikiran (Sambavopaya)
RATRI
Kemudian kata “Ratri” berarti gelap, gelap secara fisik, malam purwani sasih kepitu merupakan malam tergelap dalam waktu setahun. Gelap juga terjadi dalam pikiran, yang dikenal pula dengan Avidya. Salah satu bentuk kegelapan pikiran itu mewujud dalam bentuk kemarahan, dendam/kebencian dan kegelisahan. Aku teringat wejangan YM Gede Prama tentang Avidya, akar terdalam kegelapan itu menyebut dualitas sebagai realitas. Dualitas seperti salah benar, buruk baik, kotor suci, sedih senang, tinggi rendah, bukan realitas, tetapi ia adalah cara otak manusia mengerti realitas, tanpa dualitas otak manusia gagal mengerti realitas.
Kemarahan terjadi karena seseorang merasa benar, orang lain terlihat salah itu dualitas, bukan realitas. Dualitas disimbulkan dengan warna hitam dan putih, wastra yang dikenakan oleh para penjaga di pura-pura di bagian luar. Maknanya dualitas tetap ada tapi ia bukan realitas, untuk melangkah ke dalam pura menuju madya dan utamaning mandala (kesempurnaan), pandang keduanya sama (kiri dan kanan) seperti candi bentar, keduanya tampak sama.
Terima diri, orang lain, situasi, objek apa adanya tanpa penghakiman. Pengandaian lain, dualitas seperti awan hitam dan awan putih, datang silih berganti. Siwa ji berpesan “pandang langit melampaui awan-awan.” Di langit selalu ada cahaya, cahayanya hilang karena ada awan penghalang, awan hitam (penderitaan/kegagalan/makian) dan awan putih (kebahagiaan/pujian/kesuksesan), berhenti dibawa pergi oleh awan hitam atau awan putih. Seperti nasihat Master Zen Sun Riu Susuki “Kemarahan boleh masuk dari pintu depan, dan boleh keluar lewat pintu belakang, tapi jangan diajak minum teh.”
Perayaan Siwa Ratri ini diisi dengan melakukan Jagra (tidak tidur) bermakna waspada dan dalam kesadaran penuh, sadar setiap langkah dalam kehidupan, Mona (tidak berbicara) bermakna melatih diri disiplin dalam kata-kata, bicara baik atau diam dan Puasa (tidak makan dan minum) bermakna, mengurangi keterikatan akan keduniawian.
Ketiga praktik ini memudahkan kita mendisiplinkan ego (Anavopaya), bermeditasi (Anava), mengaktifkan pusat-pusat energi lewat keheningan dan membebaskan diri dari pikiran (Sambavopaya). Yang pada akhirnya mengantar kita keluar dari gerbang kegelapan (Avidya)
Ketika kita mampu keluar dari akar Avidya ini, kehadiran kebencian, dendam, dan kemarahan tidak lagi menyita perhatian, mereka berlalu begitu saja dan bukan tidak mungkin kita mampu menyentuh Sat Cit Ananda (Kebenaran, Keindahan dan Kebahagiaan). Doanya, “Om Sat Cit Ananda Param Bramha, Purusothama Paramatma, Sri Bhagavate Sameta, Sri Bhagavate Namaha”. Tatkala kebenaran (Sat) tanpa dualitas menyatu dengan pikiran/kesadaran (Cit) yang juga tanpa dualitas, kita berjumpa keindahan (Ananda).
Di awal pembelajaran diperlukan rambu-rambu hitam-putih agar terhindar dari bahaya. Seperti belajar listrik, bila tidak dibatasi anak-anak bisa kehilangan nyawa karena memegang strum listrik. Berikutnya melatih diri untuk menerima dualitas sebagai bagian dari kehidupan, mengalir dan tersenyum menyaksikan dualitas seperti tarian kehidupan yang sempurna (Siwa Nata Raja).
Saat jiwa tumbuh semakin dewasa, mudah mengerti pernyataan “Tidak mungkin menumbuhkan bunga Padma/lotus tanpa lumpur, membuang lumpur sama saja dengan meniadakan bunga Padma.” Bunga Padma/Teratai dijadikan simbul pencerahan, karena ia tumbuh melewati lumpur dan air hingga berjumpa cahaya. Disini terdengar pesan “Tatkala kita mampu melampaui dualitas kita telah mendirikan Padmasana di dalam diri.”
“SELAMAT MERAYAKAN HARI SIWA RATRI – 2023”
Made Mariana. 19 Jan 2023, Al Dannah City, Abu Dhabi, UAE.


