Sukses Hak Setiap Orang

“Hanya mereka yang bekerja keras akan dapat meraih sesuatu. Duduk diam atau berharap akan sesuatu tanpa melakukan usaha apa pun merupakan kebodohan.”

Sama Veda




Napasku sesak, keringat mengucur deras, padahal aku belum memulai pekerjaanku. Hari ini aku dijadwalkan memberikan practical certification test pada tenaga kerja yang akan mengoperasikan pabrik mengolah gas etilena menjadi bijih plastik. Aku tidak boleh lemah, mataku tertuju pada para pekerja kasar dari Kerala, negara bagian India, yang sedang melakukan pekerjaan sipil. Dengan penuh semangat ia menggerakkan cangkulnya menggali saluran air sambil sesekali menyeka keringat, seakan tak peduli dengan sengatan sang Surya. Aku kagum pada semangat mereka, kemauan dan usaha keras mereka membuat mereka mampu melakukan aktivitas walau dalam kondisi yang sulit sekalipun. Aku jadi teringat dengan pesan Ibu saat pertama kali merantau ke negeri seberang, “Nak, di mana pun nanti bekerja, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, jujur, tekunlah belajar, dan pandai-pandailah membawa diri. Doa Ibu menyertaimu. Semoga apa yang Ananda cita-citakan tercapai.”

Sukses Hak Orang Miskin

Mungkin ini maksud pesan dari kitab suci Sama Veda yang mengatakan: “Hanya mereka yang bekerja keras akan dapat meraih sesuatu. Duduk diam atau berharap akan sesuatu tanpa melakukan usaha apa pun merupakan kebodohan”. Yang mengejutkan, ternyata teman-teman seperantauan, berasal dari latar belakang keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat sulit, hanya berbekal kemauan, usaha, dan kerja keras, tetap sampai pada gerbang kesuksesan.
Dadang Mulyana dan Imas Kartika, sepasang suami istri yang aku jumpai tatkala kami (Indonesian Diasphora-Ruwais) mengadakan seminar tentang wirausaha pada 14 Desember 2013 silam, berawal dari seorang sopir dan khadimah (pembantu rumah tangga) hingga sukses membangun beberapa usaha di luar negeri (UAE). Imas mengisahkan awal usaha mereka tatkala menjalani usaha dari rumah ke rumah (door to door). Berbagai tantangan mereka hadapi, mulai dari diremehkan hingga dimaki saat menawarkan produk dagangannya. Demikian pula Dadang, ketika mengurus izin pendirian usaha mereka di luar negeri, berbagai kesulitan ia lalui.

Saat ditanya rahasia di balik kesuksesan mereka, Dadang dan Imas berkisah, “Kami orang kampung yang pingin menginternasionalisasikan semua produk yang ada di kampung (pen. Indonesia), dan kami yakin bahwa sukses tidak hanya milik orang formal (pen. berpendidikan), orang informal pun juga bisa, serta hasrat kami untuk menjadi bos buat warga negara lain di luar negeri.” Tak heran bila kemudian mereka mampu mendirikan beberapa bisnis, yaitu; retail Indomart Dubai dan rumah makan Java Padang Dubai dengan memperkerjakan karyawan dari berbagai negara.

Demikian pula dengan Ni Wayan Mertayani, panggilannya Sepi karena lahir di hari raya Nyepi, putri seorang pemulung yang akrab dengan kemiskinan, mampu memenangkan perlombaan foto internasional dari Museum Anne Frank di Belanda. Memulung sampah-sampah plastik di pantai Kuta merupakan pekerjaannya untuk menghidupi keluarga dan merawat ibunya yang sedang sakit serta menopang biaya sekolahnya. Ia kerap menerima hinaan, cacian, dan cibiran dari teman-temannya.

Tatkala ditanya kunci suksesnya di acara Kick Andy, Sepi mengatakan, “Saya memang tidak punya apa-apa, tapi saya punya cita-cita tinggi”. Ia gemar membaca, salah satu buku favoritnya adalah kisah Anne Frank. Bermodalkan kamera pinjaman dari Mrs. Doly Amarhosaija, turis Belanda yang ia jumpai di Bali, Sepi berhasil meraih cita-citanya. Melihat kesungguhan Sepi, wanita Belanda itu terketuk hatinya mengajari Sepi memotret. Karena dinilai hasil jepretan Sepi bagus, atas seizin Sepi, Doly kemudian mengirimkan karya Sepi ke panitia lomba fotograpi internasional Museum Anne Frank di Belanda. Di luar dugaan, Sepi mampu meraih juara I. Karyanya menyisihkan foto karya para photographer kelas dunia. Bahkan kisah hidupnya kemudian dibukukan dengan judul: “Potret Terindah dari Bali”.

Ini bukti nyata bahwa apa yang diajarkan di dalam kitab Rig Veda benar adanya, “Ketika ada keharmonisan antara pikiran, hati, dan keteguhan/kegigihan maka tidak ada sesuatu pun yang tidak mungkin”. Pantas saja, orang seperti Michael Dell, pendiri, chairman, and CEO dari Dell Computer Corporation, mampu membangun bisnisnya berawal dari sebuah kamar kos di Dobie Center, Austin, Texas. Dengan kerja keras dan kegigihan usahanya, ia mampu menjadikan Dell Computer Corporation menjadi sebuah perusahaan multinational yang bersinar di mancanegara.

Lebih terang lagi, kitab suci Veda menasihatkan kita bahwa, “Kemalasan dapat mengikis minat dan semangat seseorang. Sebagai dampaknya mereka kehilangan semua kesempatan dan pada akhirnya menjadi patah semangat dan frustrasi. Yang terburuk adalah mereka dapat berhenti memercayai diri mereka sendiri” (Sama Veda).

Sukses Hak Orang Bodoh

Bila Michael Dell, Steve Jobs, dengan kecerdasannya mampu meraih sukses, bagaimana dengan orang-orang yang terlahir dengan kecerdasan yang rendah? Mungkinkah mereka meraih sukses dalam hidupnya? Mari kita simak kisah nyata dari negeri Bharata Varsa (India) pada zaman dahulu yang dipaparkan oleh Darmayasa dalam bukunya Studi Ringkas Catur Veda: Tersebutlah seorang anak bernama Panini, tatkala di bangku sekolah ia dikenal sebagai seorang anak yang bodoh, gurunya bahkan mengatakan bahwa di garis tangannya tidak ada garis ilmu pengetahuan. Ia merasa sangat sedih, kemudian ia menanyakan pada gurunya, di manakah letak garis ilmu pengetahuan itu. Setelah mengetahuinya, ia mengambil sebilah pisau dan membuat garis ilmu pengetahuan di tangannya. Walau dengan kecerdasan yang sangat terbatas, namun dengan kemauan yang kuat, usaha dan kerja keras luar biasa, serta berkah dari sang guru, Panini kemudian menjadi tokoh tata bahasa Sanskerta yang paling terkenal, bahkan melebihi para pendahulunya, termasuk gurunya sendiri.
Kisah nyata berikutnya terjadi di Thailand, dikisahkan oleh Ajahn Brahm seorang master meditasi alumni Cambridge University, dalam bukunya Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! Tersebutlah seorang siswa peringkat paling buntut di kelasnya selama tiga tahun berturut-turut, di kelas satu SD di Thailand. Setelah satu tahun di kelas satu, gurunya tidak bisa meluluskannya. Atas kebaikan sekolahnya itu, ia diperkenankan melanjutkan studinya kembali di kelas satu, namun di tahun berikutnya, lagi-lagi sang anak tidak mampu naik kelas.
Setelah tiga tahun di kelas satu dan tidak bisa naik kelas, orang tuanya mengirim ia ke wihara untuk menjadi biksu. Maka pergilah ia ke wihara, kepala wihara sangat welas asih dan baik hati, menerima anak ini dan mengajarinya belajar spiritual Buddhisme dengan sangat keras. Namun sayang, tidak satu pun pelajaran yang diberikan menempel di benaknya. Anak itu tidak mampu belajar. Setelah beberapa tahun tidak juga berhasil, biksu kepala ini pun akhirnya frustrasi. Harapan terakhirnya kemudian mengirim sang anak untuk belajar meditasi. Dengan mengajarinya, “Oke, cukup saat ini, amati nafas masuk dan nafas keluar”.

Batin anak ini ternyata sangat murni dan sederhana sehingga begitu mudah melakukannya. Ia segera masuk ke meditasi yang paling mendalam, menjadi seorang yang suci dan mampu menghafal pelajaran-pelajaran suci. Saat meditasi mendalam, ia mampu mengingat kehidupannya di kelahiran sebelumnya di mana saat itu ia memiliki kecerdasan yang tinggi, kemampuan itu kemudian ia gunakan untuk mempelajari ajaran-ajaran spiritual dan membuat ia menjadi biksu yang sangat terkenal di Thailand.

Kisah di atas hanyalah beberapa yang memberikan kita gambaran bahwa sejak dahulu hingga kini, sukses adalah hak setiap orang, tak peduli apakah ia miskin atau bodoh. Asal ia yakin, mau berusaha, dan bekerja keras untuk meraih cita-citanya, niscaya ia akan berhasil. Setumpul-tumpulnya pisau bila terus diasah lama-kelamaan akan tajam pula. Demikian pula walau hanya setitik air bila terus menetes ke atas permukaan sebuah batu, tetesan air ini pun akan mampu membelah batu tersebut. Seperti dinasihatkan dalam kitab suci Atharva Veda, “…Tidak ada seorang pun yang bisa menyingkirkan batu dengan berdiri di atasnya…”.

Untuk menutup renungan kecil ini perkenankanlah saya mengutip pesan agung dari kitab suci Rig Veda: “Dengan bangun lebih awal di pagi hari seseorang akan memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan pekerjaannya dibandingkan dengan mereka yang bangun lebih lambat. Para sarjana dan orang bijak bangun lebih awal di pagi hari dan lalu bersembahyang/bermeditasi”.

Disunting dari buku: “Putih Kuning Cahaya Dari Pulau Dewata”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *