Bidadari Kecilku

diva2Bidadari kecilkuDiva

Sejak hari pernikahan kami, tanggal 5 Juli 2006, kami jarang sekali tinggal bersama, maklumlah aku kerja di Saudi Arabia sementara istriku harus menyelesaikan studi S-1nya di Universitas Indonesia yang terletak di Depok Jawa Barat. Cita-cita yang selama ini selalu menghiasi sisi hidupnya yang merupakan pelecut semangat hidupnya untuk maju.Kami berusaha mengatur jadwal liburan agar kami bisa bersama, setiap kali aku cuti selalu saja ada halangan untuk kami bersama dalam waktu lama. Mungkin ini merupakan cobaan buat kami. Kerinduan akan hadirnya seorang buah hati dalam keluarga kecil yang sedang kami bangun, kian hari kian terasa sangat mendesak.

Istriku seringkali merasa tidak tenang mendengar cibiran ataupun gurauan dari kawan-kawannya, demikian pula dengan diriku. Apalagi saat kami jalan berdua melihat anak-anak kecil sedang bermain dengan orang tuanya, kerinduan itu semakin menguat. Tidak jarang hal itu sampai terbawa mimpi. Bahkan istriku sering dihinggapi rasa tidak percaya diri saat berhadapan dengan temen-temennya. Aku selalu berusaha meyakinkan bahwa, kami pasti akan punya putra/putri, tinggal menunggu waktunya saja.

Dalam keyakinanku putra kami akan hadir pada waktu yang tepat. Keyakinanku itupun berusaha aku tularkan pada istriku. Sehingga kami berdua dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara tenang dan tabah. Bisa berkonsentrasi melaksanakan aktivitas kami masing-masing. Istriku sendiri sibuk dengan kegiatan kuliahnya, aku juga selain kerja masih menyisakan beberapa matakuliah yang harus diselesaikan untuk menuntaskan program sarjana manajemen yang aku ikuti di Universitas Terbuka cabang Riyadh Saudi Arabia.

Kami tidak menyerah, kami berusaha mengatur jadwal cuti kami sebaik mungkin, beberapa kali kami cuti, namun tetap saja kami tidak bisa bersama dalam waktu yang cukup dan dalam kondisi yang kondusif. Hal ini terjadi karena setiap kali aku cuti ada saja masalah-masalah mendesak yang harus diselesaikan.

Cuti pertama ibuku masuk rumah sakit, Dokter spesialis tulang Dr. Ari Sutopo menganjurkan agar ibu segera diangkat vennya, karena daging dan urat mulai membaluti ven yang dipasang pada tulang punggung Ibu, juga karena usia ibu semakin tua, semakin cepat dilakukan pengangkatan semakin bagus, mengurangi resiko yang lebih parah. Kalo sampai telat dikawatirkan akan semakin sulit melepaskan ven karena semakin banyak urat dan daging menyelimuti ven. Disamping itu semakin tua usia, semakin lemah daya tahan tubuh, sehingga melakukan operasi pada usia tua akan sangat beresiko.

Kami mengikuti anjuran Dokter dan tentu saja hal ini mengharuskan kami tinggal beberapa hari di Rumah Sakit. Istriku menjaga ibu di siang hari dan aku menjaga ibu di malam hari, praktis kami tidak bisa bersama. Hingga batas waktu cutiku habis kami masih tinggal di Rumah sakit. Bahkan taxi yang membawaku ke bandarapun menuju Saudi Arabia berangkat dari Rumah Sakit.

Cuti yang kedua, Pak De yang sangat disayangi istriku telah berpulang kepangkuan Ibu Pertiwi. Istriku sangat terpukul batinnya dengan kejadian ini. Hampir setiap hari istriku murung dan menangis. Aku berusaha menghibur dan menenangkannya. Pada saat yang sama kami sibuk mempersiapkan upacara pengabenan Beliau. Kesempatan yang kedua inipun tidak bisa kami manfaatkan karena tidak ada cukup waktu buat kami berdua bersama dalam kondisi yang tenang.

Kami sadar ini adalah cobaan buat kami, dan kami merasa senang bisa menjadi bagian dari kejadian-kejadian penting dalam keluarga kami. Dengan semangat pantang mundur, kami atur kembali jadwal liburan kami. Kebetulan istriku memiliki liburan semester tiga bulan (juni, juli dan agustus), maka kami putuskan untuk berlibur di Abu Dhabi, tempat kerjaku yang baru. Ditempatku yang baru ini aku dapat fasilitas famili status, sehingga kami tidak perlu pusing-pusing memikirkan biaya transportasi maupun tempat tinggal, karena semua itu ditanggung oleh company tempatku mengais rejeki. Aku pindah kerja dari Saudi ke Abu Dhabi tepatnya tanggal 15 Oktober 2006, sejak aku diterima bekerja di sebuah perusahaan Polyethylene yang bernama Abu Dhabi Polymers Co. Ltd atau Borouge. Perusahaan yang merupakan bagian dari ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company) grup.

Tanggal 10 Juni 2007 kami berangkat dari bandara Ngurah Rai dengan menumpang pesawat Malaysian Airlines. Tiba di Dubai tepat pukul 03:30 pagi dini hari waktu Dubai tanggal 11 Juni 2007, dengan tempature 37 derajat celcius. Ali sopir taxi seorang bapak tua warga negara Pakistan yang menjadi langgananku di Ruwais, menjemput kami deket bandara Dubai, tepatnya di Emarates Patrol Station. Di Dubai peraturan otonomi sangat ketat, Ali adalah seorang sopir taxi Abu Dhabi, tidak boleh mengambil penumpang di Dubai, hanya bisa mengantar penumpang ke Dubai, demikian pula sebaliknya sopir taxi Dubai tidak boleh mengambil penumpang di Abu Dhabi, tapi boleh mengantar penumpang dari Dubai ke Abu Dhabi, bila melanggar kena denda cukup besar. Karena adanya peraturan ini maka Ali tidak berani menjemput kami langsung di Bandara Dubai, jadi kami harus naik taxi umum dari Bandara Dubai ke Emarate Patrol Station.

Istriku sangat shok dengan keadaan alam negara UAE yang penuh dengan gurun pasir. Sepanjang mata memandang hanya hamparan gurun yang tampak. Tak henti-hentinya istriku terisak menangis sepanjang perjalanan dari Dubai ke Ruwais tempat kami tinggal. Doi sedih membayangkan bagaimana kami para pekerja pabrik bekerja dalam kondisi dan keadaan alam seperti ini. Terutama di musim panas, dimana suhu udara bisa mencapai 50 derajat celcius, dan tidak ada pepohonan untuk berteduh. Aku berusaha menjelaskan bahwa di setiap sisi dunia ini memiliki kekhasan masing-masing, adalah merupakan suatu karunia Tuhan bagi kami bisa menikmati sisi-sisi langka dari phenomena alam ini.

Pukul 09:30 pagi kami tiba di Ruwais Housing Complex, istriku mulai tenang, karena perumahan tempat kami tinggal dirancang tidak seperti di gurun, sangat hijau dengan berbagai macam tetumbuhan dan bunga dengan hamparan rerumputan hijau seperti permadani, burung-burung dengan berbagai jenis beterbangan dan berkicau dengan riang, suasana yang sulit ditemui bahkan dikampung kami sendiri. Wajah istriku mulai berubah raut mukanya penuh keheranan, kok bisa di tengah-tengah gurun ada tempat pemukiman yang hijau, seperti dalam sebuah mimpi.

Kami sangat senang memulai hidup baru layaknya suami istri, mulai hari itu kami bener-bener merasakan kebersamaan. Istriku melakukan kwajibannya setiap hari, masak, bersih-bersih rumah, nyuci. Kewajiban seorang ibu rumah tangga yang selama ini hanya sebuah cita-cita dan selalu dia ungkapkan saat kami chating melalui internet maupun lewat telephone, kini semua itu bisa dia jalani dengan nyata. Aku kembali ke rutinitasku bekerja sebagai operator polyethylene di Borouge. Hidupku sungguh sangat berarti tiap saat aku bisa bersama istriku, kami bisa bercerita dan bersendagurau dalam waktu yang kami inginkan, tidak lagi dikejar-kejar waktu.

Ingin sekali rasanya aku memberikan hadiah kepada istriku pada ulang tahun pernikahan kami yang pertama 5 juli 2007. Aku tawarkan menginap beberapa malam di Kota Abu Dhabi atau di Dubai, menikmati alam metropolis wilayah UAE, maklumlah di UAE tempat wisata lebih banyak dipusatkan di kota. Kota dirancang dengan design cantik, dilengkapi dengan fasilitas perbelanjaan yang mewah dan tempat rekreasi yang nyaman. Untuk menarik para pelancong biasanya mereka mengadakan diskon besar-besaran produk-produk impor. Inilah kesempatan bagi kami untuk berbelanja mendapatkan barang-barang dengan harga murah dan kwalitas yang tinggi. Mengikuti prinsip ekonomilah. Selain itu adapula even-even internasional seperti Global Village, International Air Show, Formula -1, Foot Ball Macth, dengan karcis masuk yang murah, bahkan tak jarang beberapa even menyediakan tiket gratis, alias tidak perlu bayar. Penjelasanku yang panjang lebar tentang Ibu Kota Abu Dhabi dan Kota Bisnis Dubai tidak menarik minat istriku, istriku menolak tawaranku.

Akhirnya aku putuskan untuk mengutarakan keinginanku: “Ma papa pingin memberikan mama sesuatu yang membuat mama bahagia, katakan apa yang mama inginkan?”, istriku menjawab: ” Pa mama gak ingin apa-apa mama hanya ingin kado special yang menambah kebahagiaan keluarga kita pa…” aku diam sejenak, aku mengerti apa yang diidam-idamkan istriku dan karena alasan itupun kami berlibur di Ruwais-Abu Dhabi

Hari itu tanggal 05 Juli 2007, aku kerja pagi, aku inget hari ini merupakan hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Aku sempatkan mampir ke West Market untuk membeli kue tar, untuk perayaan hari pernikahan kami yang pertama di rumah. Dengan hati yang riang aku bersiul terus tanpa kusadari senyum manis selalu menghiasi wajahku sebagai ekpresi kegembiraan hatiku. Aku bergegas pulang, kupacu langkahku semakin cepat rasanya sudah tidak sabar untuk mengucapkan selamat pada istriku, yang selalu menyambutku di depan pintu setiap kali aku pulang kerja.

Saat aku buka pintu ternyata istriku bersembunyi di balik pintu, begitu kepalaku muncul istriku berteriak dan memelukku sambil mengucapkan “..met ultah pa…” wajah istriku sangat gembira hari itu, wajahnya berseri-seri seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Begitu seneng dan bahagia. Tak lupa memperkenalkan makanan telah tersaji di meja makan kami yang mungil, perutku yang lapar memaksaku untuk tidak menanggalkan seragam. Langsung aku ambil sendok dan sesaat sebelum menyantap hidangan di meja, mataku terpaku pada lembar kertas yang kecil, Test Pack, dengan warna positip.

Segera aku peluk istriku selamat ya ma… istriku memelukku erat, terimakasih pa …. Kami segera berdoa bersama mengucapkan terimakasih ” OM DEVA SUKSMA PARAMA ACINTYA YA NAMAH SWAHA“. Keesokan harinya kami datang ke klinik di sebelah rumah kami untuk memastikan secara medis. Dokter Usha dokter Obgyn dari India mengatakan bahwa usia kandungan kami telah mencapai sebulan.

Sejak hari itu istriku mengalami morning sickness, hampir tidak bisa melakukan aktivitas apapun, setiap kali berusaha nyuci piring kepalanya pusing dan jatuh, apalagi pekerjaan yang lebih berat jelas tidak mungkin, praktis istriku hanya menjadi penghuni tetap Bed kesayangan kami. Aku berusaha melakukan semua pekerjaan rumah tangga, entah dari mana aku dapat tenaga, aku bisa melakukan semuanya, aku pingin istri dan anakku cukup nutrisi sehingga aku masak sendiri. Walaupun aku kerja 12 jam. Tapi sayangnya setiap makanan yang aku sodorkan selalu dimuntahin. Aku sibuk cari info di internet bagaimana mengatasi morning sickness tidak lupa juga diskusi dengan temen-temen. Hampir semua menganjurkan memberikan makanan tambahan seperti crackers atau croisant, aku coba membawa berbagai jenis dari toko-toko di sekitar kami tinggal, tapi sayang semuanya dimuntahin, aku tidak menyerah semua jenis kue yang ada aku coba bawain istriku, total sampai 35 jenis kue terkumpul di meja makan.

Yang paling membuat kepalaku pusing tujuh keliling adalah saat istriku minta mie ayam bakso, makanan khas Indonesia. Ibu Herry yang biasa jual lagi cuti, Ibu Teddy juga demikian. Aku bingung harus cari di mana? Saat kebingungan itu, tiba-tiba telephone kami berdering, istriku berusaha mengangkat, ternyata Ibu Mohammad Suryana (Acung), nawarin Mie ayam bakso, Wow..pucuk dicita ulam tiba, istriku yang tadinya lemes di tempat tidur langsung bangun bergegas mandi dan ngajak aku main ke tempat Kang Acung. Aneh bin ajaib istriku makan lahap banget dan banyak lagi.

Bebanku hari ini hilang istriku telah dapat mie ayam bakso…Terimakasih Bu/Kang Mohammad Suryana(Acung).

Seminggu kemudian istriku minta bakso dengan pangsit, duh aku pusing lagi kemana harus aku cari? Ini di Abu Dhabi bukan di Indonesia, aku baru tinggal di sini beberapa bulan, belum kenal betul daerahnya, belum hafal betul seluk-beluknya. Aku melamun sendiri di ruang tamu, tiba-tiba suara bel rumah berdering saat aku buka pintu. Kang Teddy dan keluarganya datang menjenguk kami, dengan membawa sebuah bungkusan yang tidak lain adalah Bakso dengan pangsit komplit dengan bihun dan kuahnya, seperti yang diingikan istriku… aku berusaha untuk membayarnya tapi Ibu Teddy bilang, ini adalah hadiah buat yang di dalam (istriku/anakku)… Aku terbengong…hanya bisa bilang terimakasih yah…dengan apa aku bisa balas semua kebaikan ini…?

Ya Tuhan engkau begitu sayang pada kami saat aku kebingungan selalu ada keajaiban….

DiKau memang sungguh pemurah, jika seandainya istriku mengalami hal ini di Indonesia sendirian tentu akan sangat sulit baginya menjalani aktivitas sehari-hari. Tidak bisa kubayangkan istriku dalam kondisi morning sickness begini dia harus mengurus segala sesuatu sendirian. Engkau hadirkan permata kami saat kami punya waktu bersama. Keyakinanku selama ini bener-bener menjadi kenyataan. Tuhan menganugrahkan kami buah hati pada saat yang tepat.

Tak terasa tiga bulan telah berlalu, masa liburan istriku telah berakhir, kami harus segera balik ke Indonesia karena istriku harus mengikuti kuliah kembali. Tanggal 7 September 2007 kami terbang ke Indonesia menumpang pesawat Etihad. Sebelum terbang aku bisiki putra kami yang dalam kandungan istriku: ” Nak…jangan muntah dulu yah, sekarang kita akan melakukan perjalanan jauh. Nanti kalo udah nyampe di Indonesia, gak papa kalo mau muntah lagi papa siap kok…”. Keajaiban terjadi lagi, seharian penuh istriku tidak muntah, jadi kami bisa melakukan perjalanan dengan lancar.

Aku antar istriku kuliah setiap hari, selama aku di Indonesia, berusaha memanfaatkan setiap moment hidup kami dengan baik. Hingga waktu cutiku habis, aku terbang ke Abu Dhabi, kembali pada rutinitas kami masing-masinng.

Kandungan kami semakin hari semakin besar, istriku sangat seneng setiap hari dia selalu bercerita tentang perkembangan janin kami. Akupun demikian, aku sangat seneng dan bahagia. Pada pemeriksaan terakhir, bayi kami sehat dan aktif namun beratnya dibawah normal cuma 1,6 kg ( minimum normal= 2,5 kg), istriku sangat panik, aku berusaha menenangkannya, aku bertanya pada temen-temen, Pak Iwan menasehatiku: “De kata nenekku lebih baik bayi itu lahirnya kecil jadi nanti cepet besar, banyak kok yang memiliki bayi kecil saat lahir…” hatiku jadi tenang, Ibuku juga bercerita bahwa beberapa keluarga kami memiliki bayi dengan berat dibawah normal namun kemudian tumbuh menjadi manusia normal.

Kami merencanakan kelahiran cesar karena istriku pernah dilasik pada kedua kornea matanya, Dokter spesialis mata yang menanganinya menganjurkan untuk melahirkan bayi kami dengan cesar untuk mengurangi tekanan pada syaraf mata. Kami merencanakan cesar dilaksanakan antara tanggal 18 sampai 25 Februari 2008.

Hari 10 Februari 2008 pagi saat aku baru membuka pintu rumah untuk berangkat kerja, aku dikejutkan oleh suara istriku yang panic lewat telephone,

Istriku: “Pa… papa bisa pulang gak hari ini?

Aku: “Ada apa ma..?

Istriku: “Pa…baby kita dalam keadaan gawat janin”

Aku: “Maksudnya gimana ma..?

Istriku: “Dokter bilang mama harus operasi, sekarang pa…gak bisa ditunda”

Aku: “Ok tenang ya ma…papa mau kontak keluarga dulu untuk nemenin mama sementara, papa pulang tanggal 14 Februari 2008, semua sudah siap. Papa ga enak minta cuti awal lagi, karena seperti mama ketahui papa berusaha minta ijin cuti pada bos yang baru. Beliau setuju tanggal itu”

Istriku: ” Ok pa… mama takut pa…”

Aku: “Sabar sayang papa akan kontak nenek, kakek, made ade, mereka semua sudah siap, kalo sore entar keadaanya darurat banget papa nekad pulang”

Isriku: “Baik Pa… Papa pulangnya normal aja biar lebih lama cutinya.”

Aku hubungi semua keluarga terdekat, Ibuku, Made Ade, Ibu dan Bapak Mertua, mereka semua bergegas menuju Rumah Sakit Bunda Margonda. Aku seperti orang kebingungan tidak tahu apa yang dilakukan, badanku ada di Abu Dhabi tapi hati, pikiran, perasaan ku ada di Indonesia. Aku terus mengulang-ngulang nama suci Tuhan (Namasmaranam) berdoa agar istri dan anakku selamat selama proses operasi.

Dua jam kemudian aku dapat miscall dari no hp istriku, aku call balik. Tina kawan sekampus istriku yang menjawab ” Selamat ya Bli, Putrinya telah lahir cantik sekali dengan lancar dan selamat, mamanya juga selamat” “Om Dewa Suksma Parama Acintya….

Selamat Datang Bidadari Kecilku….PUTU AYU DIVAYANA PARAMITHA.. dengan berat 2,7 kg, panjang 46 cm, pada pukul 10:38 pagi waktu Indonesia Barat. Dibawah penanganan Dr Spesialis Kandungan Fachri Razi. Terimakasih dokter, keputusanmu begitu tepat, langkah cepatmu sungguh luar biasa. Istriku dirawat di kamar 214 kemudian pindah ke 212.

Di malam hari aku berdoa khusyuk mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Tuhan atas semua karunia Beliau. Beliau memang sungguh sangat sayang sama kami, tanpa kami sadari planning kami sesungguhnya tidak bagus, karena kami tetapkan untuk memilih tanggal operasi tanggal 18 atau 22 Februari 2008, di Puri Garcia Serang dengan Dokter Spesialis Kandungan Dokter Herman. Dengan pertimbangan sekitar tanggal itu berat putri kami telah mencapai berat normal minimum, Istriku bisa ditemani Ibunya karena ini pengalaman pertama baginya. Namun diluar dugaan istriku harus mengikuti sidang outline skripsinya tanggal 19 Februari 2008. Demikian pula Ibu mertuaku harus mengikuti Ujian Akhir Semester tanggal 16 sampai akhir Februari 2008. Adik iparku Ayu UAS tanggal 18 Februari 2008. Jika rencana kami benar maka istriku melahirkan tanpa bisa ditemani Ibu dan Adiknya, juga tidak bisa mengikuti sidang outline sekripsinya. Untuk mendapatkan jadwal sidang ini sangatlah sulit karena saat ini ada 300 orang mahasiswa yang sedang mengambil skripsi, sementara jumlah dosen pembimbing terbatas. Jadi Bidadariku memilih hadir tanggal 10 Februari 2008 untuk memastikan bahwa hampir semua aktivitas penting keluarga kami berjalan dengan baik. Tuhan menghadirkan Bidadariku pada saat yang tepat, seperti keyakinanku.”SEGALA SESUATU DATANG PADA WAKTUNYA”.

9 Comments

  1. Bli Made TUHAN maha tau dan maha adil>>aku sebagai orang bali sangat tersentuh membaca kisah bli made. Bahkan tanpa terasa air mataku mengalir. Ternyata jarak ngga menjadikan kita kehilangan cinta dan kasih sayang. Slamat ya atas kehadiran buah hatinya. Good Blees You. Aku juga orang singaraja bli, lam kenal aja. Salam buat putri kecilnya

  2. makasih ya..
    udah mampir ke blog kami

    dalam keyakinan kami, cinta dan kasih itu tidak terbatas ruang dan waktu
    perjuangan adalah esensi hidup
    perubahan adalah bentuk dari hidup
    perubahan yang besar hanya bisa dilakukan dengan perjuangan yang sungguh-sungguh
    perjuangan yang didasari oleh kekuatan cinta dan kasih

    makasih Widi
    salam kenal juga
    salam balik dari bidadari kecilku, Putu Ayu Divayana Paramitha

    salam
    made

  3. Om Swastiastu, Namaskar…

    Bli made selamat… walaupun bacanya baru sekarang ^_^ mmm…. bekerja di tempat jauh terkadang membuat sakit hati… berpisah dengan keluarga yang di cintai sangatlah berat… saya juga sudah merasakannya… walaupun hanya di irian akan tetapi… yah sudah merasakannya toh… ketika membaca perjuangan dan kepercayaan bli Made terhadap Paramapurusha adalah hal yang harus di pertahankan… dan di contoh oleh generasi muda seperti saya ini… cobaan bukan malah membuat kita melupakan Paramapurusha akan tetapi harus selalu mengingatnya… semoga anak yang dilahirkan menjadi anak yang suputra…

    Om Chanti… Chanti… Chanti… Om… Namaskar…

  4. Om Swastyastu, Namaskar, Namaste

    Terimakasih..
    Semoga wayan juga menemukan kesuksesan, kesehatan dan kesejahteraan.

    Jadi teringat dengan percakapan Bunda Kunti dengan Krisna.
    Suatu ketika, Krisna datang menemui Bunda Kunti.

    Krisna bertanya:” Bunda Kunti, Bunda dari para ksatria agung..apa yang Bunda inginkan dariKu… katakanlah
    Bunda Kunti: “Oh Tuanku Krisna, Engkau yang Maha Agung, Yang Mahasuci, sumber dari segalanya. Sudikah di Engkau menganugrahiku penderitaan?
    Krisna: “Bunda kenapa Bunda meminta penderitaan bukan yang lainnya?”
    Kunti: “Anakku Krisna, Engkau yang Maha Agung, dengan adanya penderitaan Aku akan semakin dekat denganMu. Kebahagiaan bagi hamba adalah senantiasa dekat dengan Mu..Oh..Yang Maha Kuasa..Hyang Paramapurusha.

    JADI PENDERITAAN ITU JUSTRU SEBENARNYA ANUGRAH, SELAIN MENDEWASAKAN KITA, JUGA MENDEKATKAN DIRI KITA LEBIH, KEPADA TUHAN, JUGA KITA BISA MENGENALI KEKUATAN DAN KELEMAHAN KITA SENDIRI.

    Om Shanti Shanti Shanti Om.

  5. pak made saya “nemu” blog ini dan saya baca sampe abis šŸ™‚
    untuk carita yg satu ini saya sempat menangis terharu..
    bisa saja yang bu made alami terjadi jg pada saya, yang tinggal berjauhan dari suami
    saat ini suami saya di saudi kayan, jubail ksa
    kami sedang mengusahakan untuk berkumpul kembali
    dan semoga segera terealisasi serta bisa segera diberi kemudahan untuk menyusul kebahagiaan keluarga pak made dengan kehadiran bidadari kecilnya šŸ™‚

    salam,

    ira firdauzi

  6. salam bu ira,

    Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasangan, saat derita menghampiri kita, sesungguhnya pada saat yang sama ada sebuah pelajaran yang mulia yang sedang dihadiahkan Tuhan pada kita.

    Tanpa sebuah pengorbanan, akan sulit bagi kita untuk mewujudkan cita-cita yang mulia. Mensejahterakan keluarga, menjamin kehidupan di masa depan. teringat pepatah kuno mengatakan” berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” saat ini kita merasakan perih namun bentar lagi kebahagiaan akan menghampiri. Dengan keterpisahan itu kita akan sangat mengerti arti kehadiran kekasih kita (istri/suami/anak-anak/orang tua).

    Sabar bu ya..

    Selamat buat Bapaknya telah diterima di Saudi Kayan, dulu saya kerja di Petrokemya Al-Jubail deket dengan lokasi Suami ibu bekerja.

    Semoga Sukses dan segera berkumpul..

    Salam

    Papanya Diva

Leave a Reply to I Wayan ArijanaCancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *