Catur Marga Yoga – Raja Yoga 1

Om  Swastyastu

Yoga berasal dari akar kata Sanskerta “Yuj” yang artinya  to join (ikut serta, bersatu, mengikat), Secara spiritual Yoga merupakan suatu proses di mana identitas jiwa individual dan jiwa Hyang Agung disadari oleh seorang yogi, Yogi adalah orang yang menjalani yoga, orang yang telah mencapai persatuan dengan Hyang Agung.

Jiwa manusia dibawa kepada kesadaran akan hubungan yang dekat dengan sumber realitas (Hyang Widhi). Seperti setitik air yang bersatu dengan air di samudra.

Yoga adalah ketenangan hati, ketentraman, keahlian dalam bertingkahlaku,  Segala sesuatu yang terbaik dan tertinggi yang dapat dicapai dalam hidup ini adalah Yoga juga, Yoga mencakup seluruh aplikasi yang inclusive dan universal yang mengantar kepada pengembanngan/pembangunan seluruh badan, pikiran dan jiwa.

Yoga pada dasarnya adalah sebuah Cara/Jalan Hidup. Bukan sesuatu yang keluar dari kehidupan, bukan pula menjauhkan diri dari aktifitas, melainkan merupakan performa yang ifisient dengan semangat hidup yang benar. Yoga bukan pula melarikan diri dari rumah dan kebiasaan hidup manusia, melainkan merupakan suatu proses pembentukan sikap untuk hidup di rumah (keluarga) maupun hidup bermasyarakat dengan suatu pengertian baru, Yoga bukan memalingkan dari kehidupan, Dia merupakan spiritual dari hidup (; it is spiritualization of life).

Stability of personality, equilibrium of consciousness, harmony in the walks of life, is Yoga.

Kita telah membahas tiga yoga sebelumnya yaitu: Bhakti Marga Yoga dengan sarana kasih sayang/rasa kita mendekatkan diri pada Hyang Widdhi. Karma Yoga dengan sarana kerja atau karma kita mencapai kebebasan. Jnana Yoga dengan sarana pikiran/logika kita mencapai penerangan dan kebebasan dari ikatan samsara/reinkarnasi.

Sekarang marilah kita bahas bagian ke-empat dari Catur Marga Yoga yaitu Raja Marga Yoga. Yoga ini menggunakan sarana pengendalian diri dan konsentrasi yang selanjutnya menuju pada penguasaan pikiran untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Tokoh yang paling populer yang mengajarkan secara gamblang tentang ajaran Raja Yoga ini adalah, Maharsi Patanjali dengan ajaran Yoga Sutra.

Patanjali mendefiniskan Yoga sebagai “Chitta-Writti-Nirodha.” Yoga artinya “persatuan dengan yang suci” atau “moksha” (salvation). Chitta artinya “pikiran.” Writti artinya  penyederhanaan ” (modifications) atau “getaran” (vibrations). Nirodha artinya “penghentian” (stoppage), “penekanan” (suppression), atau “penahanan” (restraint). Jadi menurut Reshi Patanjali, persatuan dengan yang suci atau moksha berarti penghentian dari getaran-getaran, atau penyederhanaan pikiran.

Praktek Raja Yoga mulai sejak zaman Weda. Bhagawad Gita mengagungkannya dan memujinya mulai dengan pernyataan , “Raja Yoga, Raja Guhyan (rahasia yang dijaga bagaikan raja), Pawitram (yang amat disucikan), Uttamam (yang paling baik), Pratyakshawagaman (yang cepat memberi hasil), Dharmyam Kartum (setia kepada Dharma)…” (Bab 9:2)

MAHA RSI PATANJALI

Diperkirakan hidup dari tahun 240 sampai 180 S.M. Ada perdebatan antara para sarjana mengenai apakah ia Patanjali yang sama dengan ahli bahasa yang menyusun komentar Mahabsya yang besar terhadap komentar kritis (Warttika) dari Katayana atas Tatabahasa Sansekerta dari Panini, atau tidak. Beberapa orang mengatakan dia tidak lain adalah reinkarnasi dari raja naga Anathan

Dalam Raja Yoga, seorang bhakta (devotee) mencoba untuk mencapai satu keadaan di atas pikiran dan dalam satu cara mencoba untuk mencapai keadaaan tanpa pikiran (a mindless state). Sangat sulit untuk menjelaskan hal ini dalam kalimat sederhana. Seorang mahasiswa parapsikologi mungkin mampu memahami aspek ilmiah dari Raja Yoga lebih baik dari siapapun juga. Orang biasa yang keadarannya terbatas pada pikiran yang lebih rendah dapat membayangkan hanya citra-citra nyata dari obyek-obyek, yang berasal dari organ indriya.

Secara singkat, bagi seorang Raja Yogi yang sempurna, berpikir adalah sebuah proses sukarela sepanjang waktu, tidak seperti kebanyakan dari kita yang memikirkan begitu banyak hal secara tidak sukarela. Kita berpikir tentang baik buruk pro kontra dari setiap masalah, bahkan bila kita tidak ingin memikirkan mengenai masalah itu sama sekali.

Sebagai contoh, bila kita memutuskan untuk tidak memikirkan monyet-monyet untuk sejam yang akan datang, kita malah memikirkan monyet-monyet itu untuk sejam kemudian. Ini cara kerja pikiran kita sepanjang waktu.

……bersambung….

2 Comments

    • Suksma Mewali,

      Ampura karena kesibukan mekuli dan baru pulang dari Tirtha Yatra ke Bharata Varsa jadi belum bisa nulis, semoga kami diberikan kekuatan, dan kesempatan lebih banyak untuk melakukan pelayanan melalui tulisan

      Santih…
      Made M.

Leave a Reply to made24Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *