Disiplin Diri dan Sukses

“…kebiasaan-kebiasaan baik sangat dibutuhkan untuk meraih sukses lahir dan batin. Kebiasaan yang baik merupakan persinggungan yang harmonis antara pengetahuan, keterampilan, dan keinginan.”

***

Di awal belajar spiritualitas, selalu saja saya dengar sindiran bahwa ilmu spiritual itu hal yang angker, tidak boleh dipelajari oleh anak-anak muda. Belajar kitab suci itu pelajaran terlalu tinggi, hanya cocok bagi orang dewasa. Masih banyak lagi sindiran negatif yang melemahkan semangat dan berusaha menghambat keinginan saya belajar spiritualitas. Anehnya, keinginan untuk belajar spiritualitas bukannya surut, sebaliknya, saya semakin penasaran. Rasa ingin tahu membuat saya nekat memasuki ranah spiritual. Ternyata, di sana saya menemukan banyak mutiara, emas, dan berlian yang membuat kehidupan lebih indah dan bermakna. Ilmu spiritual mengajari kita tentang disiplin diri, konsentrasi, pengendalian diri, membangun dan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik yang sangat dibutuhkan untuk meraih sukses lahir dan batin.

Menurut Stephen R. Covey, penulis buku world best seller, “7 Habits for Highly Effective People,” kebiasaan itu sulit diubah, ia bisa diubah dengan komitmen dan usaha yang sungguh-sungguh. Kebiasaan yang baik merupakan persinggungan yang harmonis antara pengetahuan (knowledge), keahlian (skills), dan keinginan (desire). Adanya keinginan untuk meningkatkan diri mendorong kita belajar, meraih pengetahuan, melatih diri memupuk keahlian dan kebijaksanaan. Itu semua bisa diraih bila ada kedisiplinan dalam diri. Pantas saja salah satu tujuan belajar ilmu spiritual untuk meraih kebahagiaan di dunia (jagad hita). Di antara berbagai ajaran kedisiplinan, yang paling menarik perhatian saya adalah tentang latihan disiplin diri yang diajarkan oleh Maha Rsi Patanjali dalam bukunya Yoga Sutra. Di sana diajarkan lima latihan yang bila ditekuni dengan sungguh-sungguh akan membuat perjalanan menuju puncak semakin mudah. Lima latihan tersebut adalah; kebersihan, kepuasan, pengendalian diri, belajar, dan berpasrah pada Hyang Widhi.

Kebersihan

Rumah yang bersih membuat nyaman setiap penghuni yang ada di dalamnya. Ruang belajar atau ruang kerja yang bersih “good housekeeping” memberikan kenyamanan pada para pembelajar dan pekerja. Di tempat yang bersih mudah mengonsentrasikan pikiran untuk belajar, bekerja, dan berkreasi, menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan. Kebersihan pangkal kesehatan, bukan saja kesehatan fisik, namun kebersihan juga menjaga kesehatan batin. Pesan ini mengajak kita untuk selalu menjaga kebersihan. Demikian halnya dengan rumah sang diri, kebersihan membuat ia merasa nyaman, tenang dan damai. Walau lingkungan bersih, tapi bila tubuh, hati, dan pikiran ini tidak bersih, kita tidak bisa menikmati manfaat kebersihan lingkungan tersebut di atas. Di Jepang ini disebut 5S yang terdiri dari Seiri (Ringkas), Seiton (Rapi), Seiso (Resik), Seiketsu (Rawat),   dan Shitsuke (Rajin) yang kemudian diterjemahkan menjadi 5R di Indonesia.

Bagaimana menjaga kebersihan? Dalam Manawa Dharma Sastra Buku V.109 dikatakan “Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa (atman) dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, budhi/kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.” Sloka ini berpesan bahwa kita mesti selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh karena tubuh adalah media kita meraih sukses, menikmati segala jerih payah dan karunia Tuhan. Selanjutnya, kita membiasakan diri selalu jujur, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Kejujuran merupakan mata uang yang sah, berlaku lintas agama, lintas budaya, lintas wilayah dan negara. Orang jujur mudah dipercaya di tempat kerja, orang yang dapat dipercaya oleh atasan cepat naik pangkat. Kemudian, sloka itu juga menganjurkan kita untuk selalu tekun melakukan puasa dan brata (pengendalian diri). Berikutnya, mengingatkan kita untuk belajar pengetahuan yang benar. Di era globalisasi ini arus informasi mengalir sangat deras, bila tidak selektif bukan tidak mungkin kita bisa terjerumus ke lembah penderitaan.

Kepuasan

Kepuasan tercapai bila keinginan terpenuhi. Dengan kata lain, kepuasan merupakan output dari sebuah pencapaian. Kepuasan di sini maknanya adalah kepuasan akan apa yang telah diraih dengan usaha yang maksimal. Namun, tidak menghentikan usaha untuk meningkatkan diri. Ketika kita memiliki kepuasan batin, maka batin menjadi tenang, tidak terikat oleh beban keinginan, sehingga energi kreasinya kuat untuk menghasilkan karya-karya yang lebih bermakna.

Faktanya, setiap usaha dan jerih payah pasti membawa hasil. Bila kita bekerja dengan malas-malasan tentu saja hasilnya tidak optimal. Namun, bila kita bekerja dan belajar dengan mengoptimalkan kemampuan dan kesempatan, sudah pasti hasilnya pun optimal. Sayangnya, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu, walau sudah berusaha sebaik apa pun, masih banyak orang yang lebih hebat dari kita. Hal ini kadang membuat hati tidak nyaman, bisa membangkitkan iri hati. Oleh karena itu, jangan ukur pencapaian kita dengan pencapaian orang lain, tapi ukurlah pencapaian kita dengan usaha kita. Bila ada orang lain yang lebih hebat dari kita, kita bisa menerimanya dengan ikhlas, menjadikan mereka sebagai teladan, sebagai cambuk untuk meningkatkan diri, meningkatkan usaha sekaligus meningkatkan prestasi kita, baik di sekolah, di tempat kerja, ataupun di masyarakat. Selain itu, kepuasan batin bisa diraih dengan menerima diri apa adanya, menerima apa yang dimiliki saat ini apa adanya, menghargai setiap usaha yang telah kita lakukan, mengalir dengan kehidupan, dan banyak bersyukur membantu kita memupuk kepuasan batin.

Pengendalian Diri

Kebahagiaan dan kepuasan batin bisa dicapai saat keinginan terpenuhi. Namun, setiap kali satu keinginan terpenuhi muncul lagi keinginan yang lain, dan pertumbuhannya sangat cepat, bak jamur di musim hujan. Sementara sumber daya untuk memenuhi keinginan terbatas, alhasil bila tidak dikendalikan, ia bisa menyebabkan ketidakbahagiaan.

Saya masih teringat di saat awal bekerja pingin sekali punya sepeda untuk pergi ke warung, pasar, atau berkunjung ke rumah teman. Setelah menabung, akhirnya saya bisa beli sepeda, hati ini senang sekali. Saya tidak harus jalan kaki lagi menuju warung terdekat. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Setiap kali ada tanjakan, saya mulai mengeluh, pingin rasanya punya sepeda motor. Setiap kali melihat orang lain mengendari sepeda motor, mata tidak bisa berpaling, saya menabung lebih giat. Singkat kata, saya bisa membeli sepeda motor. Hati senang sekaligus bangga, apalagi kalau melihat orang yang jalan kaki atau naik sepeda, saya merasa hebat saat itu. Namun, ketika musim hujan tiba, tubuh basah kuyup, melihat orang mengendarai mobil, ingin punya mobil. Tidak berhenti di sini, setelah anggota keluarga meningkat, Honda Accord tidak muat lagi, muncul keinginan beli mobil lebih besar.

Demikianlah keinginan. Bila tidak dikendalikan, bisa menjadi sumber penderitaan. Maka, kita perlu berlatih mengendalikan diri dengan rajin melakukan tapa brata dan puasa. Puasa bisa dilakukan pada hari lahir, hari purnama dan tilem, dan hari-hari suci seperti Hari Raya Siwa Ratri dan Hari Raya Nyepi.

Belajar

Perubahan tidak bisa dihindari. Kemajuan ilmu dan teknologi informasi dan globalisasi menghadirkan persaingan di segala lini kehidupan. Bila tidak mampu beradaptasi, kita tertinggal. Oleh karena itu, kita mesti rajin belajar. Belajar bisa membuat kelebihan menjadi sumber keberuntungan. Lewat belajar juga bisa mengurangi/menghilangkan kelemahan. Misalnya, pingin kerja/kuliah di luar negeri, tapi tidak bisa berbahasa Inggris, maka rajin belajar dan berlatih bahasa Inggris.

Kebiasaan belajar membuat kita menjadi orang yang rendah hati. Seorang pembelajar mampu mengambil pelajaran dari segala sesuatu, dari setiap benda, peristiwa, dan orang. Sebenarnya belajar bisa dilakukan dengan usaha sendiri (svadyaya, mulat sarira/refleksi/instropeksi diri) atau belajar melalui orang lain (aguron guron). Dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26, ada tiga cara mendapatkan pengetahuan, yaitu pratyaksa pramana (melalui pengamatan langsung); anumana pramana (melalui logika), Yatra Yatra Dhumah, Tatra Tatra Wahnih (di mana ada asap di sana ada api); agama pramana, pengetahuan diperoleh dari para guru (sarjana). Bila seseorang mampu menggunakan tiga cara ini mendapatkan pengetahuan ia disebut Samyajnana (serba tahu). Belajar tidak ada batasnya, “long life learning” belajar sepanjang hayat.

Pasrah pada Hyang Widhi

Bila semua usaha telah dilakukan, pun juga telah mensyukuri apa yang telah diraih, selanjutnya pasrahkan segalanya kepada Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa. Dengan memasrahkan segalanya pada Hyang Widdhi, kita terhindar dari sifat congkak dan angkuh karena ada kekuatan yang lebih tinggi dari kita. Selain itu, kita terhindar dari rasa takut karena kita yakin bahwa Hyang Widdhi melindungi kita, Hyang Widdhi Maha Tahu, tahu yang terbaik buat diri kita. Berikutnya, kita bisa mengurangi keterikatan pada hasil kerja. Dengan memasrahkan hasil kerja pada Hyang Widdhi, pikiran tidak terbelenggu oleh hasil kerja, kita bisa fokus melakukan kerja dengan usaha terbaik sehingga bisa meraih prestasi optimal.

Namun, betapa pun bagusnya ilmu atau ajaran, ia akan memberi hasil tatkala dipraktikkan. Mungkin ini alasan mengapa tokoh ternama dari negeri tirai bambu (Cina), Lao Tzu mengatakan “perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah”. Hal ini senada dengan pesan dari sesepuh pulau Dewata (Bali) “lontar a siu alah dening bukti a siki” artinya memiliki dan memahami seribu kitab bila tidak dilaksanakan dalam keseharian, kalah dengan satu bukti perbuatan nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *