Mengenal Agama Hindu edisi 5

SIMBUL-SIMBUL DALAM AGAMA HINDU
By: Ngakan Putu Putra

Latar belakang

Simbul dipergunakan dalam berbagai bidang kehidupan, baik kehidupan agama maupun sekuler. Setiap lembaga dari tingkat negara sampai organisasi sosial kemasyarakatan, keagamaan, politik, seni budaya, keamanan sampai perusahaan, memiliki simbul-simbulnya sendiri. Penggunaan simbul oleh manusia demikian luas sehingga E. Cassirer menyebut manusia sebagai ‘animal symbolicum’ Misalnya setiap negara memiliki bendera, lambang, sasanti. Negara Repulbik Indonesia memiliki bendera (dwaja) Merah Putih, lambang Garuda, dan sasanti Bhineka Tunggal Ika. Boleh dikatakan simbul-simbul negara ini berasal dari khasanah agama Hindu. Bendera, lambang, dan sasanti ini diberikan penghormatan khusus oleh setiap orang, khususnya warga negara bersangkutan. Bendera, lambang, dan sasanti bangsa Indonesia diatur secara khusus dalam Konstitusi/UUD 1945.

Setiap agama memiliki simbul-simbul yang disakralkan, dan dihormati baik oleh pemeluk agama itu maupun oleh orang lain. Demikian pula halnya dengan agama Hindu. Simbul-simbul itu digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tiap-tiap simbul mempunyai makna tertentu sesuai dengan ide yang terkandung di dalamnya dan diyakini sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan religius spiritual yang dapat mendekatkan manusia dengan Tuhan.

Agama Hindu sangat kaya dengan berbagai simbol baik dalam wujud gambar atau lambang, tulisan, maupun dalam wujud benda-benda tertentu yang diyakini sebagai reperesentasi perwujudan Hyang Widhi Wasa atau segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat-sifatNya. Simbul-simbul tersebut berfungsi sebagai media antara bhakta dengan obyek bhaktinya yaitu Hyang Widhi Wasa.

Simbul-simbul dalam agama Hindu dibuat dengan sangat indah, unik dan menarik untuk menggambarkan hakikat Tuhan : Satyam, (kebenaran) Sivam (kebaikan) dan Sundaram (keindahan).

Berbagai ragam jenis dan bentuk simbol keagamaan itu dari yang sangat sederhana sampai kepada yang sangat kompleks dan dapat dijumpai penjelasan atau keterangan dalam kitab suci Weda dan Susastra Hindu termasuk pula dalam berbagai lontar yang kini kita warisi di Bali.

Simbul-simbul agama Hindu yang begitu banyak jenis dan ragamnya. Supaya dipahami maknanya perlu disosialisasikan melalui Bhisama sehingga dapat dilestarikan dan dijaga kesuciannya dan tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Pengertian

Simbul berasal dari kata bahasa Yunani “sumbolon” dan diterjemahkan ke dalam Inggris menjadi symbols yang mengandung arti ‘sign’ (tanda atau isyarat yang menyampaikan satu ide atau arti) ‘token’ (tindakan atau obyek yang berlaku sebagai simbul atau bukti dari sesuatu), ‘pledge’ (janji suci). The Oxford Dictionary of World Religions mendefinisikan symbols sebagai : “the representation in visible form of ideas, beliefs, actions, persons, events etc., frequently (in the religious case) of transcendent realities, which bring the observer into connection and participation.” (simbul adalah representasi dalam bentuk yang kelihatan mengenai ide-ide, kepercayaan-kepercayaan, tindakan-tindakan, orang-orang, peristiwa-peristiwa dan lain sebagainya, seringkali (dalam hal agama) mengenai realitas transenden, yang membuat si pengamat masuk kedalam hubungan dan partisipasi).

Ketika kita melihat gambar Omkarar atau Swastika kita segera teringat akan Sang Hyang Widhi. Ingataan akan Sang Hyang Widhi menghidupkan yang suci yang ada dalam diri kita

Simbul-simbul itu mengandung metafora yang banyak sekali yang mencerminkan dan mengimplikasikan sesuatu yang, meski diungkapkan secara bermacam-macam, tak terlukiskan, meski memiliki banyak bentuk, tetap bersifat gaib. Simbul-simbul sekalipun bukan kebenaran itu sendiri, menarik akal menuju kebenaran. (Heinrich Zimmer).

Simbul mengandung arti untuk sesuatu atau menggambarkan sesuatu, khususnya sesuatu yang immaterial, abstrak, suatu ide, kualitas, tanda-tanda sebuah objek, proses dan lain-lain. Dalam bahasa Sanksekerta kata simbul adalah “praktika” yang mengandung arti “yang datang kedepan, yang mendekati” Hal ini bermakna “menunjukkan, menampilkan atau menarik kembali sesuatu dengan analogi kualitas kepemilikan atau dengan mengasosiasikannya ke dalam fakta atau pikiran.” Disamping kata “praktika”, kata simbol dapat dijumpai beberapa padanannya di dalam bahasa Sanksekerta antara lain cihnam, laksanam, lingga, samjna, pratirupa. Selain itu secara umum dikenal pula istilah: arca, pratima, pratiwimbha, nyasa, murti dll

Simbul-simbul itu diperlukan dan sangat bermanfaat dalam kehidupan keagamaan bagi umat Hindu, karena itu makna dan cara pandang kita terhadap simbul-simbul itu haruslah benar. Pratima dan arca pada sebuah pura, walaupun terbuat dari batu, kayu, kertas atau logam sangat berharga bagi seorang penyembah, karena hal itu menandakan ada hubungan antara penyembah dengan yang disembah yakni Tuhan Yang Maha Esa atau manifestasinya-Nya. Pratima atau arca itu merepresentasikan sesuatu yang di sucikan.

Bentuk-bentuk simbul

Tuhan dipahami dalam banyak cara melalui simbul-simbul keagamaan. Manusia menyatakan pengalaman yang dirasakannya dalam proposisi yang bersifat simbolik dan deskriptif. Sebuah simbul yang sejati bukanlah mimpi atau bayangan. Dia adalah pewahyuan atau pengungkapan yang hidup dari Tuhan yang sebetulnya tak terpikirkan. Kita menerima simbul-simbul itu melalui keyakinan, yang bagi kebanyakan orang adalah satu-satunya cara yang mungkin untuk berpartisipasi dalam kebenaran suci. Simbul-simbul adalah jalan untuk membantu kita menuju realisasi rohani. Sepanjang waktu para Reshi kita menyadari bahwa bahasa manusia gagal ketika mencoba menjelaskan hakikat dari Tuhan. (S. Radhakrishnan)

Simbul-simbul Tuhan dalam agama Hindu banyak jumlahnya. Ada yang berbentuk seperti manusia, binatang, separuh manusia separuh binatang, separuh tumbuhan separuh manusia dan benda-benda lainnya baik benda-benda langit, huruf-huruf dan bahkan sarana persembahan seperti daksina merupakan perwujudan dewa-dewa atau dewi-dewi manifestasi Tuhan Yang Maha Esa atau roh suci para leluhur

Bentuk penggambaran dewa-dewi yang disebut citra dewata dapat dirinci antara lain, namun tidak terbatas pada hal-hal sbb:

1. Bentuk manusia dengan berbagai kelebihannya, seperti bertangan empat, delapan dan dua belas, berkaki tiga bermata tiga dan lain-lain, misalnya Dewa Brahma, Vishnu, Siva, Dewi Saraswati, Laksmi, Uma/Parwati/Durgha, Vamana, Rama Parasu, Rama dan Krishna.

Burung Garuda (dalam Rgveda di sebut Garutmat). Burung berwarna keemasan yang menurunkan hujan, menganugerahkan kemakmuran kepada umat-Nya. Wujud lainnya sebagai naga Taksaka (dalam Sivagama di Indonesia) merupakan wujud Sanghyang Siva, yang menjaga bumi di langit dalam bentuk atmosfir. Anantabhoga wujud Sanghyang Brahma yang memeluk inti bumi yang
menganugerahkan makanan dengan tiada akhirnya

1. Bentuk separuh manusia dan separuh binatang.misalnya Dewa Gana, putra Siva; Narasinga awatara Vishnu, berbadan manusia berkepala singa; Hayagriva, berbadan manusia berbadan kuda.

2. Bentuk separuh manusia dan separuh tumbuhan misalnya pohon soma, pohon Kha (simbul ini di Indonesia hampir tidak dikenal).

3. Bentuk benda atau huruf tertentu,misalnya matahari atau cakram (roda), simbul Sanghyang Surya, bulan simbol Dewi Chandra, huruf Ongkara (Omkara, AUM) simbul Tuhan Yang Maha Esa; A (Ang) simbol Brahma, huruf U (Ung) simbol Vishnu; huruf M (Mang) simbol Siva, juga garis-garis tertentu seperti Swastika, Tri Kona, segi empat bujur sangkar, segilima (bintang), lingkaran dapat disusun sebagai sebuah yantra yang merupakan simbul kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Wasa. Simbol yantra tersebut di Bali erat kaitannya dengan simbul dalam bebanten. Demikian pula simbul bunga teratai dihubungkan sthana Sang Hyang Widhi sebagai penguasa arah mata angin. Air suci adalah simbul karunia/anugrah Tuhan yang selalu digunakan dalam kegiatan berbahkti kepada Hyang Widhi Wasa. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan suci yang diturunkan atau diwahyukan ke dunia untuk merohanikan kehidupan manusia di dunia ini sehingga memungkinkan ia kembali ke tempat asalnya yang abadi yakni dunia rohani sebagai tempat pengabdian yang kekal kepada Hayang Widhi Wasa sebagai wujud suara sabda Hyang Widhi.

Sakralisasi simbul

Bentuk simbul seperti tersebut diatas sebelum difungsikan sebagai objek pemujaan terhadap Sanghyang Widhi, terlebih dahulu harus memenuhi syarat ritual yang disebut ‘prayascita’ (upacara Mlaspas.) dan dilanjutkan dengan Abhiseka (pasupati, ngalinggihan atau ngenteg linggih).

Apabila simbul-simbul tersebut telah mengalami proses prayascita dan abhiseka maka simbul-simbul itu telah dapat di fungsikan sebagai pengganti wujud Tuhan yang bersifat nirupa dan nirguna. Simbul-simbul yang belum mengalami proses prayascita dan abhiseka maka simbul-simbul itu belum dapat digunakan atau difungsikan sebagai pengganti wujud Tuhan atau Ista Dewata.

Penggunaan simbul

Simbul manifestasi Tuhan Yang Maha Esa yang telah disakralkan merupakan sarana pemujaan umat Hindu dan ketika melihat simbul-simbul itu di altar pemujaan umat Hindu mencakupkan kedua belah tangan di dada atau di atas kepala. Bahkan ketika simbul-simbul itu belum atau tidak mengalami proses sakralisasi, jika ditemukan pada tempat yang tidak semestinya setiap umat Hindu wajib mengamankan misalnya gambar citra dewata tergeletak di lantai atau ditempat sampah umat Hindu yang menemukan hendaknya segera mengamankan dengan menaruh kembali pada tempatnya yang layak, jika gambar itu dalam keadaan terbangkalai di tempat kotor agar umat Hindu dengan penuh hormat membakarnya untuk mengindari pencemaran kesuciannya.

Demikian pula halnya dengan kitab suci Veda atau Susastra yang memuat kutipan mantra-mantra suci Veda wajib diperlakukan dengan penuh hormat.misalnya membaca Veda hendaknya dengan alas baca, tidak diperkenankan membaca kitab suci Veda dengan menempatkan tergeletak dilantai. Sebelum membuka kitab suci Veda hendaknya membaca doa permohonan kepada Devi Saraswati, doa pujian kepada Maha Rsi Vyasa sebagai pengkodifikasi Veda dan Guru besar Veda.

Simbul-simbul baik yang berupa arca, gambar, lukisan maupun kata-kata bisa menumbuhkan rasa keindahan, kesucian, kedamaian, dan rasa keagamaan religiusitas) serta spiritualitas bagi setiap orang. Simbul-simbul Hindu bersifat universal. Oleh karena itu ia dapat dipergunakan oleh siapa saja, tidak hanya terbatas oleh umat Hindu. Umat Hindu, dengan mengakui universalitas makna, nilai dan manfaat dari simbul-simbul itu, tidak akan menghalangi, bahkan bilamana perlu mendorong pengunaannya oleh orang lain, dengan syarat penggunaan itu dimaksudkan untuk tujuan kebaikan, dan tempatkan pada tempat yang pantas dan terhormat.

Namun demikian, bilamana diketemukan penggunaan atau penempatan simbul-simbul itu secara tidak pantas, atau tidak terhormat, baik itu karena tidak tahu atau tidak sengaja, umat Hindu wajib untuk memberi tahu. Dan bila pemberitahuan itu tidak cukup, umat Hindu, baik secara individu, maupun melalui organisasi atau lembaga dapat mengajukan teguran atau protes. Bahkan jika penyalah gunaan itu ada indikasi dilakukan dengan sengaja, untuk merendahkan, meremehkan, melemahkan keyakinan umat Hindu, atau untuk pengelabuan dalam rangka upaya konversi, umat wajib melakukan protes dan bahkan dapat mengajukan masalah ini ke lembaga penegak hukum. Semua hal itu dapat dilakukan setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan Parisada.

Tulisan ini mendapat bahan dari : “Teologi & Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu” Oleh DR. I Made Titib; “The Oxford Dictionary of World Religions” edited by John Bowker; S. Radhakrishnan : “Religious Truth and Symbolism” dalam “Recovery of Faith”; “Sejarah Filsafat India” oleh Dr. Heinrich Zimmer.

5 Comments

  1. hm..saya mau bertanya mengenai agama Hindu..
    apa saja sih benda” yg dianggap berarti atau suci untuk umat Hindu..
    dan apa maknanya masing” untuk umat Hindu..?

  2. Saya ingin bertanya mengenai simbolisasi pohon dalam agama Hindu atau dalam culture penduduk yang mayoritas beragama Hindu. Mungkin anda dapat memberi saya petunjuk untuk research saya mengenai simbolisasi pohon sebagai Ibu Alam.apakah ini ada kaitannya juga dalam agama Hindu?
    Terima kasih

  3. Salam Sejahtera,

    Bagi masyarakat Hindu di Bali, simbolisasi pohon banyak digunakan dalam kehidupan. Pohon dalam bahasa Bali disebut Kayu, Dalam Bahasa Bali Keinginan = Kayun, Menaiki pohon dalam kehidupan ini, menaiki atau mengontrol keinginan, dimana keinginan dalam ajaran Hindu merupakan salah satu Musuh yang harus dikendalikan dan dikontrol.

    Simbolisasi yang lainnya adalah tersebut dalam cerita Lubdaka, ketika Lubdaka tanpa sengaja melakukan brata Siva Ratri (malamnya Siva) dengan menaiki pohon Bilwa, bermakna meningkatnya kesadaran.

    Dalam Hindu ada banya simbol pohon misalnya:

    Vata, adalah pohon banyan yang melambangkan tradisi Hindu. Akar pohon banyan melambangkan Weda, Upanisad dan kitab lain. Batangnya melambangkan kesatuan dengan Tuhan dalam perbedaan filsafat Hindu.

    Tanaman Tulasi, adalah tanaman yang paling suci yang dianggap dapat menghancurkan kejahatan dan dapat digunakan sebagai pengobatan.

    Kelapa, pada bagian kulit luar yang lembut dan adalah halus melambangkan tubuh manusia. Dan bagian kulit kelapa yang keras melambangkan keegoisan manusia yang harus dipecahkan. Sedangkan air kelapa tersebut melambangkan jiwa manusia yang bersatu dengan Tuhan

    Kamper (camphor), ini melambangkan bahwa pengetahuan spiritual yang dapat memurnikan pikiran dari seorang pemuja, sehingga meninggalkan ketidaksucian dalam pemikirannya. Keharuman dari kamper ini dapat menghapus dosa serta menyucikan udara pada tempat pemujaan.

    dan lain-lain masih banyak lagi

    Demikian sedikit info dari kami, kurang lebihnya mohon maaf

    Salam
    Made M./Abu Dhabi

Leave a Reply to ireneCancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *