Perjuangan

Tanggal 25 November 2007 pukul 11:00 pagi waktu Abu Dhabi, aku mendapat email “Internal advertisement PE-Trainer” dari HR Team Leader. Sesaat aku tertegun memandangi lowongan yang terpampang di hadapanku. Aku membayangkan diriku seolah-olah telah menjadi Trainer. Apa saja jenis pekerjaan yang akan aku kerjakan nanti?. Satu persatu gambaran pekerjaan muncul, membimbing setiap orang baru yang datang ke departemen kami, menyiapkan mereka agar memenuhi standard pengetahuan, keahlian dan ketrampilan yang dibutuhkan sesuai dengan job descriptionnya. Memberikan refreshment training dan sertifikasi pada operator/senior operator di PE department. Selalu bertatap muka dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang beragam. Aku baca lagi dengan seksama job description PE-Trainer.

Aku coba hubungkan antara job description PE-Trainer dengan pengalaman dan keahlian yang aku miliki. Kalau aku kumpulkan pengalamanku sejak pertamakali kerja di Polyethylene plant, mulai bekerja di Indonesia, di Saudi Arabia, hingga di Abu Dhabi, rasanya aku cukup percaya diri untuk ikut iseng-iseng mengirim lamaran.

Pikiranku menerawang jauh menimbang-nimbang untung dan ruginya bila seandainya aku terpilih menjadi PE-Trainer. Saat ini aku kerja sebagai senior operator. Aku bekerja shift, sehingga dapat tunjangan shift, dapat lembur dengan sistem kerja 4 hari kerja 4 hari libur. Aku bekerja 12 jam perhari. Aku memiliki banyak waktu luang yang bisa digunakan untuk hal-hal lain yang bermanfaat, bisa change shift dengan rekan kerja sehingga bisa menambah waktu liburan. Sementara bila aku menjadi trainer maka aku kehilangan kesempatan untuk lembur (untuk menambah income), kehilangan uang shift, kehilangan kesempatan untuk change shift. Namun aku dapat pengalaman baru, hidup lebih teratur, punya kantor sendiri, peluang belajar lebih besar, kesempatan untuk maju lebih besar.

Jujur saja aku senang mempelajari hal-hal baru dan mengajarkannya kembali pada orang lain. Aku pikir profesi ini rasanya akan cocok dengan diriku. Dalam keraguan seperti itu aku telephone istri tercinta, minta saran dan pendapatnya, tak disangka istriku sangat mendukung aku untuk mengirim lamaran.

Tanpa buang waktu aku mulai mengedit kembali CV yang telah lama ku simpan dalam USB. Sambil asyik mengedit CV aku coba melakukan analisa SWOT. Tidak bisa dipungkiri lawan-lawan yang menjadi sainganku nanti adalah jawara-jawara dari manca negara dengan pengalaman dan pengetahuan segudang. Aku paling muda diantara mereka, baik dari segi usia maupun dari segi pengalaman. Mentalku mulai ciut manakala mengingat bagaimana lihainya para jawara nanti. Mereka telah bekerja di perusahaan ini lebih dari lima tahun, sudah barang tentu ilmu dan pengetahuan mereka sudah mahir, sementara aku baru setahun. Saat seperti ini tulisan Gede Prama sangat membantu membangkitkan semangat, tembok-tembok penghalang kesuksesan harus dihancurkan (tembok usia, tembok tidak percaya diri, tembok kurang pengalaman, dll). Penulis lain menyebutnya penyakit dalih, dalih umur, dalih kelamin, dalam suku bangsa, dalih agama. Apalagi bila teringat kisah cerita TAMTAM. Kisah pahlawan yang selalu diceritakan pamanku sebelum aku berangkat merantau. Si miskin dari desa terpencil yang pemberani, pembelajar, dan jujur serta spritualis berhasil memenangkan sayembara (baca:kompetisi) sehingga menjadi raja yang termasyur. Energiku meningkat, gerakan jari jemariku semakin lincah menulis kata demi kata untuk merangkai surat lamaran. Dengan cepat aku kirim lamaran dan CV ke bagian HR reqruitment, tidak lupa berdoa terlebih dahulu, ” Om avignamastu namo siddham”.

Tanggal 31 Desember 2007 aku menerima email panggilan tes. Total ada 6 orang yang melamar, 1 orang pakistan, 3 orang india dan 2 orang indonesia termasuk diriku. Diantara mereka aku paling muda dan paling sedikit pengalaman kerjanya. Seperti normalnya kehidupan, banyak temen yang mendukung, banyak pula yang mencibir, karena di atas kertas aku jelas kalah dengan 5 kandidat yang lainnya, aku dalam posisi under dog.

Setiap cibiran aku balas dengan senyuman, cibiran ini yang merupakan energi negatif aku rubah menjadi pelecut semangat untuk membuktikan bahwa aku orang indonesia walaupun masih muda, bisa juga berbicara lantang… Tidak aku biar energi negatif ini memukulku mundur apalagi menjatuhkan diriku. Sukses adalah hak setiap orang. Tidak perduli dia masih muda, dia telah lanjut usia, atau masih kanak-kanak. Contoh; Josua dalam usia belia telah mampu mengguncang Indonesia, Kolonel Sander dalam usia senja usahanya mampu menggemparkan dunia.

Diam-diam aku persiapkan diri dengan matang, atas bimbingan Mas Zainal Arifin (wong madura) dan Toni Usman (wong banten) serta Kang Iwan Suyanto (wong majalengka), aku giat berlatih dan menggembleng diri. Sementara di tempat kerja aku tampil biasa-biasa saja.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tanggal 9 januari 2008, wawancara dan test tulis diadakan di Guess House, Borouge. Aku mendapat giliran terakhir. Materi yang aku presentasikan adalah ” New Catalyst Feed System BCD 80E“. Aku berangkat naik scoter kesayanganku, sementara temen-temen semua naik mobil mewah kebanggaan mereka. Maklum aku belum punya sim dan juga karyawan baru di sini, tabunganku belum cukup buat beli mobil.

Tepat pukul 12:30 aku dipanggil oleh Mr Dilip Kumar untuk wawancara lebih awal, mestinya aku interview pukul 14:00, berhubung mereka para juri tidak makan siang dan Mr Visnoy peserta no 5 terlambat datang, maka aku mendapat kesempatan test lebih awal. Rasa gerogi dan gelisah mulai menggerogotiku. Aku berusaha menggunakan semua jurus yang diajarkan mama kalo mau pentas di panggung. Tarik nafas panjang dan pelan, tahan, kemudian hembuskan pelan, lakukan berkali-kali, sambil berdoa menyebut nama Tuhan. Jurus ini cukup jitu untuk meredam keteganganku, aku bisa sedikit relax.

Dengan tenang aku memulai presentasiku. Seperti biasa baru mulai sebentar pertanyaan dari tim penguji yang terdiri dari; manajer operation, manajer support dan manajer Hrd serta Process Trainer datang menyerangku. Mereka seakan berlomba-lomba berusaha menguras informasi yang aku miliki. Aku berusaha menjawab dengan sesingkat mungkin, setepat mungkin dan sejelas mungkin. Ternyata itu berhasil menarik perhatian tim penguji. Pertanyaan kian banyak , aku mulai tegang, aku coba lagi jurus yang diajarkan mama, ups ternyata berhasil, wal hasil aku bisa melewati tantangan hari ini dengan baik.

Hari demi hari berlalu, aku tidak mau memikirkan hasil dari test tersebut. Apapun hasilnya aku pasrah toh aku sudah berusaha. Dari awal target utamaku adalah hanya pingin tahu dan pingin menunjukkan kalo aku juga bisa presentasi, dan itu telah berlalu. Aku tidak mau membebani diriku dengan harapan-harapan dan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu.

Tanggal 17 Januari 2008, aku kerja pagi, kebetulan ada masalah di 21-LV-4010A, aku sibuk melakukan trouble shooting, saat aku ke office untuk istirahat minum, Mr Dilip memanggilku untuk menghadap Mr Bart. Aku masih bertanya-tanya ada berita apa gerangan. Masih lengkap dengan seragam kerja di lapangan aku bergegas menuju kantor Mr Bart. Aku ketuk pintu kantornya, beberapa saat kemudian Mr Bart (Support Manager), keluar dan menyalamiku, “Welcome Made, please Come In..”. Tak lama kemudian Mr. Hussein (Operation Manager) dan Mr Dilip (Trainer) juga ikut gabung. Kami berempat berada di dalam ruangan Mr Bart. Beliau memberitahukan bahwa aku terpilih menjadi PE-Trainner, dengan segala kekurangan dan kelebihanku, mereka mempercayakan posisi ini padaku. Aku mulai bergabung dengan departemen baru 1 Februari 2008. Aku sangat kaget, mulutku terasa terkunci, aku seperti gagu, berusaha tersenyum akhirnya berhasil juga ku ucapkan “Thank you for selecting me, I will do my best”.

2 Comments

  1. Om Swastiastu… Namaskar…

    Wah… ada kesempatan tidak ya untuk saya di perusahaan bli untuk jadi HSE ^_^ kalo ada kasih kabar2 donk… pengen nih kerja Go international… jadi Paramedic ribet juga di Indonesia terbatas lahan kerjanya soalnya ada dokter yang ambil semua peranan kami… sepertinya semenjak jadi trainer bli jadi sering OL ya…??? ^_^ di depan komputer terus siy…

    Om Chanti… Chanti… Chanti… Om… Namaskar…

  2. OM Swastyastu
    Namaskar
    Namaste

    Wayan kesempatan itu pasti ada, kalo kita gak menemukan, maka kita cari. Tapi seperti yang Bli katakan, bekerja di luar negeri tantangannya cukup banyak. Dengan niat dan kesungguhan pasti bisa.

    Cuma perlu diperhatikan, hati-hati sekarang banyak penipuan, banyak calo, jadi kudu bener-bener mengerti reputasi dari agent yang mengurus pemberangkatan.

    Ada banyak cara untuk mencari kesempatan: browshing lewat internet, info dari temen-temen, info di kampus-kampus, dari media masa (koran kompas sabtu minggu), dll.

    Inget berdoa dan berusaha pasti bisa.

    Good luck

    Om shanti shanti shanti om

Leave a Reply to I Wayan ArijanaCancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *