Sejak pertamakali kaki menginjak pasir di negeri kurma, Timur Tengah, saya banyak memiliki temen dari Philipine. Mereka memiliki nama seperti Spanyol, memiliki gaya hidup seperti Amerika, tapi berbicara dengan bahasa Tagalog, ya.. Itulah Philipine.
Mereka termasuk pemakai English terbesar di Dunia. Untuk urusan expatriat mereka ini merupakan salah satu negara pengekspor tenaga kerja yang cukup handal. Bahkan saat krisis moneter datang beberapa tahun lalu, Philipine bisa bertahan tidak terlalu terpuruk karena para warganya yang kerja di luar negeri rame-rame mengirim Dolar.
Ada banyak perbendaharaan kata yang mirip dengan bahasa Indonesia seperti: sepatu, ilung (Hidung), Ketuk Pintu, Kanan, Tenga (Telinga), ngantuk, dll. Mungkin ini juga sebagai bukti dulu kekuasaan Majapahit telah mencapai ranah Philipine.
Dari segi makanan dan mereka sangat suka dengan cuka, hampir setiap masakannya menggunakan cuka. Dari segi wajah mereka sangat mirip dengan orang Indonesia. Saking miripnya kami sering mengira mereka orang Indonesia dan sebaliknya, mereka sering mengira kami orang Philipine.
Ada keinginan yang lebih jauh untuk mengenal mereka, pingin rasanya berkunjung ke negeri Arroyo. Namun karena begitu banyaknya acara dan prioritas yang lebih penting sehingga, saya tidak ada kesempatan untuk datang berkunjung, menyaksikan langsung bagaimana sih pola hidup mereka…?. Apakah mereka lebih maju dari Indonesia…?
Beruntunglah suatu hari saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari Team untuk melakukan suatu misi ke Manila Philipine. Saya berangkat sendiri dari Abu Dhabi naik Itihad. Anggota team yang lain mereka terbang dari Jakarta langsung ke Manila. Awalnya saya merasa cukup was-was juga, maklum ini pertama kali berkunjung ke negara tetangga dalam rangka sebuah misi. Tanpa sengaja saya bertemu dengan Mr. Ariel Moya (Philipino), salah satu rekan kerja di Borouge yang sedang cuti pulang ke Philipine. Lumayan ada temen untuk bercakap-cakap menunggu waktu.
Awalnya sempet kwatir saat pesawat landing di Manila, saya tidak melihat Mr. Ariel, kebetulan tempat kami duduk berbeda. Saya nekad aja cari jalan keluar setelah melewati pintu imigrasi. Ternyata Agent di Philipine JS. Contractor sangat profesional, mereka telah menunggu saya di depan pintu keluar. Saya dianter ke Royal Casino Hyatt Hotel di Malate, Manila. Dimana temen-temen sudah pada nunggu saya.
Sepanjang perjalanan dari Bandara ke Hotel, saya tidak pernah berkedip melihat disekeliling kami, berusaha membandingkan antara Manila dan Jakarta. Ternyata Jakarta jauh lebih maju dibandingkan dengan manila. Bangunan-bangunan di Jakarta lebih megah, alat transportasi lebih bagus, mobil-mobil bagus jarang tampak di Philipine. Jimny merupakan alat transportasi utama. Di Indonesia sering disebut dengan mobil buaya. Mobil buaya ini sekarang sudah hampir punah di Indonesia, saya pernah lihat dulu dipakai oleh para keluarga Anggota ABRI untuk bertamassya. Selebihnya transportasi di Indonesia telah diganti dengan mobil-mobil model anyar.
Tata kotanya juga masih semraut, kabel-kabel listrik terpasang tidak teratur. Walaupun demikian, Philipine memilik mall terbesar di Asia yang mereka sebut Mall of Asia.
Kami sempet juga mampir ke Manila Ocean Park, semacam Sea World di Jakartalah. Dimana kami sempet merasakan Fish Spa.
Malam hari kami Dinner di Sea Food Market Restaurant.
Kita memilih ikan, Australian King Crab, Lobster, kemudian mereka langsung memasaknya.
Wah sungguh luar biasa, enak dan asyik apalagi ditemani minum es kelapa muda.









ga usah dibandingin deh..
kelapa filipine ga jauh beda dg sunda kalapa kok? ^^
*walopun g liburan ke LN, minimal liburan ke singaraja:-)*
Halo Mas Aryf
Thanks ya udah mampir di Blog kami.
Ya betul sekali mas, kelapanya sama saja rasanya
Ya paling enak Kelapa muda yang gratis baru metik lagi
Heheheeheh
Salam
made m.
bli Made,,,teruslah mengembara dan pastikan bila ilmu telah banyak share ke kita2, saya yakin bli mampu memajukan desa dengan cara berpikir bli.
suksme
ketut
om swastyastu,
Suksma Ketut, semoga demikian
mari kita tingkatkan pengetahuan, pengalaman dan keahlian kita agar kelak bisa memberikan kontribusi optimum pada tanah tumpah darah…
Salam sukses selalu
Om Santi Santi Santi Om