Nihan kengeta, akweh mara samsam ring alas, mangkana ikang lwah ring alas nirmaladalem aho banunya, kunang suluhanta sang hyang nicakara, tatan padon karjananing wibhawa, sugyan kalaksepa.
Artinya:
Ini hendaknya diingat, bahnyaklah ada tumbuh-tumbuhan di dalam hutan yang daunnya boleh dimakan; begitupun sungai yang dalam serta jernih airnya terdapat pula di sana; adapun yang merupakan penerangan adalah bulan; sehingga sebenarnya tidak ada gunanya mati-matian mengejar kekayaan duniawi, karena mungkin terlambat dan membuang-buang waktu saja.
Bhagavan Wararuci menjelaskan bahwa kita kudu memanfaatkan kehidupan ini dengan sebaik mungkin, Tuhan telah menyediakan alam beserta isinya untuk kehidupan manusia dan sekitarnya. Ingatlah selalu untuk melakukan aktivitas sepritualmu, dalam setiap aktivitasmu. Bukan hanya berusaha mati-matian mendapatkan harta duniawi. Luangkan pula waktumu untuk mengusahakan harta sorgawi, untuk bekal nanti saat melakukan perjalanan ke sunya loka. Sebelum semuanya terlambat…. Hayo kumpulkan jugalah harta sorgawi.
Vyaprtenapi hi svarthah kriyate cantare’ntare, medhri prste’pi hi bhramyan grasam grasam karoti gauh.
Nihan tang ulaha, ri duweganyan harohara hosana ngwang, i kagawayaning dharmasadhana, sambina tikang artharjana riang antara sangka pisan, kadi kramaning lembu sedeng mesi hanungan walakangnya, mider ring sawah, sinambinya angjanggut dukut, saparek kaparah ri lakunya.
Artinya:
Ini hendaknya dilakukan, meskipun sangat sibuk sampai terengah-engah orang dalam pelaksanaan dharma, sambilkanlah berusaha mencari harta dalam sela-sela kesibukan itu, sebagai halnya lembu yang tengah berisi gandar bajak punggungnya, berkeliling menarik (bajak) di sawah, disambilkannya mencabut/menarik rumput yang ada di dekatnya, maka karna itu ia (si lembu) menjadi senang.
Bhagavan Vararuci kemudian melanjutkan penjelasannya, untuk menjaga keseimbangan dalam aktivitas kita. Di ibaratkan seperti lembu yang berat memanggul bajak, menarik bajak (kwajiban yang harus dia lakukan dalam hidupnya), disambilkannya juga mencabut menarik rumput sehingga hatinya menjadi senang. Jadi dalam kesibukan kita melakukan kwajiban spritual kita pun menyambilkan diri kita untuk mengais rejeki/kenikmatan hidup. Sehingga di dunia ini hati kita menjadi senang dan bisa menikmati setiap aktivitas yang merupakan kewajiban kita, yang merupakan kombinasi keduanya. Bisa melakukan segala sesuatu secara paralel, sehingga waktu yang singkat (umur manusia kini rata-rata 50-75 tahun) ini akan bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.


bli tiang anak nucenik ne,dot pesan nawang petuah/tutur cara bli ane ento,suksma pisan bli.
Om Swastyastu,
Suksma sampun mampir ring blog titiang, semoga napi yang tiang postingkan bermanfaat…
Om Santi Santi Santi Om
Jasmani dan rohani. dunia dan akhirat yang seimbang.
Terimakasih uraian anda sangat bermanfaat.
Minta comment tulisanku ini.
http://apriakristiawan.wordpress.com/2009/03/06/apakah-anda-percaya-tentang-reinkarnasi/
Om Swastyastu
semoga semua mahluk berbahagia
Terimakasih Saudara Apria, telah berkunjung di blog kami. semoga bermanfaat dan sukses selalu untuk Anda
Om santi snati santi Om
OSA,Tulisan yg bagus,bermanfaat salam kenal.OSSSO
terima kasih blognya pak…dengan membaca ini tyg mendapat pencerahan..trims
sami-sami pak putu,
rahajeng
peace/deep bow