“Ketika Anda terinspirasi oleh tujuan yang mulia, sebuah target yang luar biasa, semua pikiran Anda akan melewati batas-batasnya. Pikiran melampaui keterbatasan, kesadaran meluas ke berbagai arah, Anda menjumpai diri Anda di dunia yang indah dan agung.” Yoga Sutra (Maharsi Patanjali)
***
Memperhatikan perkembangan para karyawan selama masa pendidikan, masa pelatihan, maupun setelah penempatan, ada beberapa hal yang layak untuk direnungkan. Pertama, banyak orang pintar prestasinya biasa-biasa saja. Kedua, ada orang dengan kemampuan biasa-biasa saja secara intelektual namun prestasinya melesat jauh meninggalkan teman-temannya yang memiliki bakat lebih baik. Hal ini pun tampak bukan saja di tempat kerja, ia tampil di berbagai sisi kehidupan baik di dalam maupun di luar negeri. Apa gerangan yang menjadi kunci untuk meraih hasil yang luar biasa? Adakah mereka mengikuti cara-cara yang luar biasa atau justru menggunakan cara biasa meraih hasil luar biasa? Memperhatikan perilaku dan mendengarkan penuturan para pelaku, ada beberapa hal yang patut dicatat, memiliki kontribusi besar dalam pencapaian kesuksesan mereka, di antaranya; positive attitude (sikap positif), motivasi (motivation), dan keikhlasan.
Positive Attitude
Apa pun bidang yang digeluti, positive attitude (sikap positif) merupakan fondasi untuk meraih sukses. Seorang murid tidak akan sukses bila tidak memiliki positive attitude, demikian pula seorang karyawan tidak akan sukses bila tidak memiliki positive attitude. Kehidupan berumah tangga kerap retak lantaran salah satu anggota keluarga attitude-nya tidak baik. Dalam banyak hal, pelanggan pergi karena attitude pelaku bisnis yang tidak baik. Pendek kata, positive attitude dibutuhkan bagi mereka yang ingin meraih sukses di bidang apa pun. Tak heran bila Willian James dari Harvard University mengatakan, “Penemuan terbesar dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah kehidupannya mereka dengan mengubah sikap pikiran mereka.” Sebuah studi yang dikaitkan dengan Harvard University menemukan bahwa seseorang mendapatkan pekerjaan, 85% karena attitude-nya, dan hanya 15% karena kepintarannya. Ajaibnya, hampir semua institusi pendidikan mengajarkan tentang fakta dan data yang hanya berkontribusi 15% pada kesuksesan di tempat kerja. Bagaimana membentuk positive attitude?
Di Bali ada berlimpah ajaran tentang positive attitude. Salah satunya adalah Tri Kaya Parisudha yang mengajarkan bahwa sukses bisa diraih dengan menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik bukan saja membuat kita lebih dekat dengan keluarga, sahabat, bawahan, rekan kerja, juga dengan atasan. Hal mana sangat mirip dengan konsep ABC, komponen pembentuk dari attitude. ABC (Affective, Behavior, and Cognitive). Affective (berhubungan dengan perasaan), behavior (prilaku), dan cognitive (mewakili pemikiran/pandangan/keyakinan). [S1] Sebagai contoh: Kita memiliki pandangan positif terhadap seorang manager, pandangan ini kemudian menjelma menjadi perasaan bahwa manager itu dapat dipercaya, selanjutnya ada tindakan membangun hubungan dekat dengan manager tersebut.
Selain itu, ada ajaran Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan, yaitu parahyangan: harmonis dengan para leluhur, para Dewa/Malaikat dan Tuhan Yang Maha Esa; powongan: harmonis dengan sesama manusia; dan palemahan: harmonis dengan lingkungan (hayati dan nonhayati) di sekitar kita.
Menurut Khera, penulis buku You Can Win, ada tiga faktor yang memengaruhi attitude kita, yaitu: lingkungan, pengalaman, dan pendidikan. Wajar bila orang tua menyekolahkan anak-anaknya di sekolah/universitas yang memiliki lingkungan positif, karena lingkungan dan pendidikan sangat cepat memengaruhi perilaku seseorang. Selain itu, bila seseorang dibesarkan di lingkungan yang sehari-hari penuh dengan pertengkaran, maka ia cenderung melihat orang lain dari sisi negatif. Sebaliknya, bila seseorang dibesarkan di lingkungan yang penuh penghargaan, ia menjadi pribadi yang memiliki positive attitude.
Apakah ciri orang yang memiliki positive attitude? Mereka peduli, percaya diri, sabar, dan rendah hati. Seseorang dengan sikap positif seperti buah semua musim. Dia selalu diterima. Orang tetap berkata positif tentang dia walaupun orang tidak ada di tempat. Dalam agama Hindu orang seperti ini bisa dilukiskan dengan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri (anresangsya); suka memaafkan dan tahan uji (ksama); setia pada perkataan, perbuatan, teman, janji (satya); tidak menyakiti atau menyiksa makhluk/orang lain (ahimsa); mampu menasihati diri sendiri (dama); jujur (arjawa); penuh cinta dan welas asih (priti); berpikir positif, suci, dan tanpa pamrih (prasada); ramah, lemah lembut, dan sopan santun (madurya); serta rendah hati (madarwa).
Motivation
Bila ditanya, hampir semua bisa mendefinisikan bagaimana mengoptimalisasikan potensi diri. Namun kenyataannya, tidak banyak mampu mewujudkan yang mereka ketahui. Ada jarak yang jauh antara yang diketahui dengan kenyataan. Dari pengamatan selama memberikan training, mentoring, dan coaching, ada hal mendasar yang absen di sini, motivasi! Napoleon Hill mengatakan, “Apa pun yang bisa dipahami dan dipercayai oleh pikiran seseorang, ia akan mampu meraihnya.” Motivasi, sesuatu yang mendorong tindakan dan perasaan. Memotivasi maknanya mendorong atau menginspirasi, menghidupkan, atau menyalakan perasaan atau tindakan. Ibarat api bila jumlahnya kecil ia tidak mampu memberikan kehangatan, demikian pula motivasi lemah tidak akan memberi hasil luar biasa. Motivasi seperti energi penggerak dalam kehidupan kita.
Menurut Stephen R. Covey dalam bukunya The 8th Habit, ada empat kebutuhan dasar dan motivasi dari semua orang yaitu; kebutuhan fisik, untuk hidup; kebutuhan hati, kebutuhan akan cinta (relasi) yang berhubungan dengan hati; kebutuhan mind, belajar untuk perkembangan dan pertumbuhan; dan kebutuhan jiwa, untuk mewariskan sesuatu, membuat hidup penuh arti. Bila salah satu dari keempat kebutuhan ini diabaikan, maka manusia tidak lagi menjadi manusia seutuhnya, motivasi muncul hanya ketika ada apresiasi atau hukuman “stick and carrot”.
Di dunia kerja/bisnis, kebutuhan fisik bermakna bayarlah saya dengan adil. Kebutuhan hati berarti perlakukan saya dengan baik. Kebutuhan mind, biarkan saya berkreasi, libatkan saya pada pekerjaan yang bermakna. Sementara kebutuhan jiwa, berikan saya kesempatan untuk melakukan sesuatu mengikuti prinsip hidup yang saya anut (kejujuran, keikhlasan, dan kedisiplinan), serta berkontribusi pada umat manusia. Mengetahui keempat kebutuhan tersebut tidak serta merta mengantarkan kita mencapai hasil luar biasa, diperlukan adanya usaha dan perubahan untuk maju. Bila kita ingin melakukan perubahan-perubahan kecil, maka lakukanlah pada praktik, perilaku dan sikap kita. Namun, bila kita ingin melakukan perubahan yang significant dan menyeluruh ubahlah pola pikir. Lihatlah diri kita secara menyeluruh dari sisi fisik, pikiran, hati, dan jiwa kita. Kemudian lakukan semuanya dengan ikhlas.
Keihlasan
“Ketika Anda terinspirasi oleh tujuan yang mulia, sebuah target yang luar biasa, semua pikiran Anda akan melewati batas-batasnya. Pikiran melampaui keterbatasan, kesadaran meluas ke berbagai arah, Anda menjumpai diri Anda di dunia yang indah dan agung.” Yoga Sutra (Maharsi Patanjali)
Pesannya, motivasi yang kuat membuat seseorang mampu melakukan sesuatu yang luar biasa. Mungkin ini yang menggerakkan Mak Eroh seorang wanita renta dari Tasikmalaya dengan berpendidikan hanya hingga kelas tiga sekolah dasar, mampu membuat saluran air yang mengairi ribuan hektare sawah. Hanya dengan menggunakan alat belincong (linggis) dan cangkul ia memapas sebagian tebing, membuat saluran air itu selama 47 hari. Walau banyak cibiran yang terdengar, ia tetap tegar. Akhirnya warga sekitarnya pun terketuk dan membantu membuat saluran sepanjang 4.5 km yang mampu mengairi dua kecamatan, Cisayong dan Indihiang, sehingga mereka bisa panen tiga kali setahun. Wajar bila ia dijuluki Wanita Baja. Ia pun kemudian dianugrahi Kalpataru (penghargaan yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup) tahun 1988.
Di India ada Dashrath Manjhi dari sebuah dusun terpencil di negara bagian Bihar, India. Ia dijuluki dengan Mountain Man karena mampu membelah gunung membuat jalan hanya dengan menggunakan alat sederhana, sebuah palu dan pahat. Ia bekerja siang dan malam selama 22 tahun. Hal itu dilakukannya untuk mengenang kematian sang istri dan membantu masyarakat di kampungnya, memudahkan akses ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Di tahun 1959, istrinya Falguni Devi meninggal karena telat mendapatkan penanganan kesehatan. Tempat kesehatan terdekat ada di seberang gunung yang sangat sulit dijangkau saat itu. Ia sangat sedih, sakit hati, dan merasa sangat kehilangan. Sepeninggal istri tercinta, rasa sakit itu ia trasformasikan menjadi energi penggerak untuk membelah gunung dari tahun 1960-1982. Ia tidak ingin masyarakat di kampungnya mengalami peristiwa yang sama. Kisahnya pun kemudian difilmkan oleh sutradara Ketan Mehta.
Jadi, dengan positive attitude, motivation (tujuan mulia) dan keikhlasan, Mak Eroh dan Dashrath Manjhi dengan segala keterbatasannya mampu meraih hasil luar biasa hanya menggunakan cara biasa (alat sederhana). Bila mereka bisa, tentu kita juga bisa. Selamat mencoba!
Made Mariana
Abu Dhabi, UAE – 7 July 2016
[S1]akan lebih baik apabila diurutkan ABC.


